BAGAIMANA CARA MENULIS?

Rubrik Literasi Oleh

Ismail Suardi Wekke
STAIN Sorong & Agupena Papua Barat

Dalam dua kesempatan terakhir, saat bertemu dengan kawan, ada pertanyaan yang diajukan “bagaimana cara menulis?”. Pertanyaan ini sederhana, hanya saja untuk menjawabnya tidak bisa saya jawab dengan ringkas. Maka saya menjawabnya, pertama “siapkan waktu”. Orang yang bertanya kepada saya sebagian besar minimal sudah menyelesaikan pendidikan sarjana. Untuk itu, mereka paling tidak, pernah menulis skripsi. Hampir susah menemukan pendidikan sarjana di Indonesia yang diselesaikan tanpa skripsi. Sehingga, kemampuan menulis itu sudah ada. Hanya saja, selama ini mereka tidak menyiapkan waktu secara khusus.

Setiap orang punya kesempatan yang berbeda. Demikian pula dengan waktu terbaik untuk mencurahkan gagasan. Jika berkeinginan untuk menulis, maka perlu menyiapkan waktu secara khusus secara berkesinambungan yang memungkinkan untuk menuliskan gagasan-gagasannya. Prof. Ahmad Thib Raya terbiasa menulis dalam perjalanan dari rumah ke kantor. Di sela-sela kemacetan Jakarta, beliau menulis secara rutin. Demikian pula Prof. Abustani Ilyas, beliau terbiasa menulis di akhir pekan. Setelah mengumpulkan semua bahan-bahan untuk menulis, kemudian diselesaikan di akhir pekan. Kesempatan tersebut digunakan menyelesaikan tulisan. Sementara, allahuyarham Prof. Saefuddin H. Shafa menulis sebelum shalat shubuh. Kemudian merapikan tulisannya seusai shalat shubuh.

Ketiganya menggambarkan betapa proses menulis tidaklah seragam. Masing-masing individu punya waktu privat untuk menulis. Sehingga tidak bisa dijadikan patokan, apalagi keseragaman. Hanya saja, kebiasaan mereka dapat menjadi cermin sampai seseorang mampu menemukan sendiri waktu yang tepat dalam menulis.

Jawaban kedua saya, “menentukan target menulis”. Ketika menulis sebatas keinginan saja, maka bisa saja keinginan itu akan hilang dan lenyap sama sekali seiring dengan aktivitas sehari-hari. Untuk target ini mesti menggunakan tolok ukur yang riil, seperti satu artikel satu tahun, atau satu artikel satu semester. Bagi seorang dosen, satu artikel jurnal untuk satu tahun merupakan capaian untuk memenuhi standar beban kerja dosen. Sehingga bukan sebuah target yang muluk-muluk. Namun bukan hanya itu, perlu direnungkan bahwa tulisan juga merupakan kesempatan untuk menunjukkan reputasi keilmuan.

Hanya saja, satu artikel yang dihasilkan dalam satu tahun baru sampai memenuhi kewajiban beban kerja. Berbeda jikalau seorang dosen hendak membangun kepakaran dan profil keilmuan. Maka, diperlukan target yang lebih besar berbanding dengan hanya satu artikel dalam satu tahun. Padahal, kesempatan menulis sangat terbuka luas. Saat membimbing skripsi mahasiswa, maka hasil skripsi itu akan lebih baik jikalau ditansformasi menjadi artikel jurnal. Jikalau saja membimbing skripsi selama setahun sebanyak lima mahasiswa, berarti akan ada peluang lima artikel. Ketika dosen membimbing skripsi itulah merupakan kesempatan terbaik bersama mahasiswa untuk bersama-sama menulis dan menghasilkan karya yang memungkinkan untuk dipublikasikan.

Belum lagi, proses belajar mengajar. Ketika dosen menyelesaikan proses pembelajaran dalam satu semester, memungkinkan untuk menghasilkan sebuah buku daras (ajar). Dimulai ketika menyusun Rencana Pembelajaran Semester (RPS), bahan-bahan yang dituangkan dalam format RPS tersebut dapat menjadi kerangka sebuah buku. Dalam proses belajar selama satu semester berikutnya, materi kuliah yang didiskusikan dalam ruang kuliah akan menjadi catatan untuk ditambahkan ke dalam bahan-bahan yang sudah disiapkan sebelumnya. Jika dalam semester terdapat 14 pertemuan, maka paling tidak bisa dihasilkan 28 halaman. Jikalau ditambahkan sekali lagi materi sebanyak satu halaman sebagai bagian pembahasan yang merupakan diskusi yang berlangsung akan menghasilkan 42 halaman. Ini sudah cukup untuk menjadi materi awal sebagai buku.

Dengan demikian, pembelajaran yang berlangsung setiap pekannya akan berkontribusi bagi proses penulisan. Termasuk pula dalam penelitian yang sejatinya memerlukan publikasi. Untuk itu, tidak ada alasan bagi seorang dosen untuk tidak lagi menghasilkan karya ilmiah yang dapat digunakan untuk menopang pengembangan profesi yang digelutinya. Sebab semua aktivitas dalam siklus tri dharma perguruan tinggi merupakan bagian dari proses pulikasi. Akan sangat ideal jikalau dalam menjalankan ketiga dharma yang ada itu, publikasi menjadi bagian integral di dalamnya.

Akhirnya, jawaban pertanyaan sesungguhnya bukan rahasia menulis. Langkah terbaik yang diperlukan adalah menjawabnya dengan mulai menuliskan gagasan yang dimiliki. Tidak saja gagasan, tetapi juga pengalaman yang diperoleh. Maka, menulis ketika sudah dijadikan sebagai pilar dari setiap aktivitas, dapat saja dilaksanakan dengan mudah. Sehingga tidak perlu lagi ada pembenaran bahwa “saya tidak bisa menulis”. Sesungguhnya, bukan tentang ketidakmampuan. Semuanya hanya soal mengalokasikan waktu untuk menulis. ***

Lahir di Camba, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Menyelesaikan pendidikan doktor di Universiti Kebangsaan Malaysia. Sekarang ini bertugas di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sorong, Papua Barat. Sejak 2010 ditugaskan sebagai pelaksana kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong sampai 2011. Sejak 2012 sebagai Kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong untuk periode 2012-2016. Kemudian, diangkat kembali untuk periode 2016-2020. November 2016 menjadi bagian Southeast Asia Academic Mobility (SEAAM). Kini, menjadi Pengurus AGUPENA Papua Barat.

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Literasi

Rahasia Menulis

Ismail Suardi Wekke STAIN Sorong & Agupena Papua Barat Menulis menjadi keperluan
Go to Top