INTERAKSI GURU DAN SISWA DALAM PROSES BELAJAR-MENGAJAR

Rubrik Pendidikan Oleh

Oleh: WASHADI

Dulu, proses belajar-mengajar yang dilakukan di dalam kelas berlangsung satu arah, dengan guru sebagai subjek dan sumber utama belajar, sedangkan siswa sebagai objek belajar yang hanya mendengarkan apa yang disampaikan guru. Metode klasikal seperti ini ternyata tidak mampu menghidupkan suasana kelas, sehingga kemampuan siswa dalam memahami dan mengingat materi pelajaran yang disampaikan guru tidak maksimal. Siswa tidak dilibatkan secara aktif untuk berinteraksi dengan guru atau antarsiswa.

Seiring perkembangan zaman, metode klasikal tersebut sudah tidak efektif lagi. Saat ini, guru bukan lagi sebagai subjek dan sumber utama belajar dan siswa tidak lagi sebagai objek yang hanya mendengarkan penjelasan guru, namun guru dengan tugas pokok dan fungsinya sebagai pendidik bertindak sebagai fasilitator san motivator dalam kegiatan pembelajaran. Siswa dengan kemampuannya diberikan kebebasan untuk mengembangkan daya pikir, kreativitas dan inovasinya. Interaksi guru dengan siswa dan antarsiswa menjadi lebih terjalin. Alhasil, proses belajar-mengajar pun lebih hidup. Kegiatan pembelajaran dapat lebih terlihat hasilnya.

Interaksi sangat penting dalam proses belajar-mengajar. Selain siswa mendapatkan manfaat, guru juga memperoleh umpan balik (feedback). Guru mengetahui, apakah materi pelajaran yang disampaikannya dapat diterima siswa dengan baik atau tidak. Guru juga mengetahui berbagai persoalan, pengalaman dan imajinasi siswa yang dapat diimplementasikan dalam kegiatan pembelajaran. Interaksi yang baik akan mendorong terciptanya metode pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan.

Dengan interaksi yang baik, guru dan siswa saling menginspirasi dan menyemangati. Guru akan merancang dan melakukan revisi materi pelajaran yang akan disampaikan kepada siswa sebelum kegiatan berlangsung. Guru memantau dan mengarahkan jalannya proses belajar-mengajar. Guru segera mengetahui hasil akhir (outcome) yang menjadi tujuan pembelajaran. Selanjutnya, guru mengevaluasi dan menyadari bahwa materi yang telah disampaikan sesuai dan dibutuhkan oleh siswa. Pada akhirnya, siswa merasa puas dan betul-betul memahami dan mengingat keseluruhan materi yang telah didapatkannya.

Dengan interaksi yang baik pula, guru akan mengenali dan mengetahui potensi yang ada pada setiap siswa. Tentu saja potensi siswa berbeda-beda. Dalam hal ini guru dituntut untuk cermat dan menguasainya. Guru harus terus memberikan motivasi dan dorongan terhadap siswa yang memiliki potensi yang kuat. Sedangkan terhadap siswa dengan potensi biasa-biasa saja, guru harus terus memberikan motivasi dan dorongan dengan porsi yang lebih banyak. Guru akan maksimal memberikan ilmu pengetahuan dan keterampilan demi mengembangkan potensi keseluruhan siswanya. Dengan demikian, guru berhasil dalam mengajar dan membentuk kepribadian siswa, sehingga siswa memiliki jatidiri yang jelas.***

Washadi, S.Pd, MM.Pd, seorang Guru dan Penulis, tinggal di Tangerang Selatan, Banten. Tulisan-tulisannya dimuat di berbagai media massa, antologi puisi dan antologi cerpen. Aktif berkegiatan sastra di Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Tangsel. Saat ini menjabat sebagai Sekretaris Dewan Kesenian Tangerang Selatan (DKTS) merangkap Komite Sastra, dan Pengurus Asosiasi Guru Penulis Indonesia (Agupena) Wilayah Banten. Kini menjadi Ketua Bidang Humas dan Kerjasama Antar Lembaga AGUPENA.

1 Comment

  1. Jika guru mampu menjalin interaksi dan mengenali potensi peserta didiknya maka terciptanya generasi generasi-generasi emas Indonesia bukanlah hal yang mustahil.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Pendidikan

PAHLAWAN ZAMAN NOW

Oleh Fortin Sri Haryani Pahlawan diartikan sebagai seorang yang telah berjasa, memberikan
Go to Top