Home » Literasi » CIRI KHAS KARYA TULIS » 534 views

CIRI KHAS KARYA TULIS

Rubrik Literasi Oleh

Ismail Suardi Wekke
STAIN Sorong & Agupena Papua Barat

Ragam tulisan memiliki gaya tersendiri. Dengan demikian perlu mengenali karakteristik dan ciri khasnya. Sehingga ketika menulis, sepenuhnya menggunakan gaya penulisan yang lazim digunakan. Tentu, akan sangat berbeda dengan gaya bertutur atau lisan atau media ekspresi lainnya.

Pertama dan utama, karya tulis harus orisinal. Tidak boleh mendaku sebuah karya yang bukan karya sendiri. Begitu pula ketika mendapatkan data, fakta, atau informasi dari karya orang lain, tetap harus dirujuk sesuai dengan gaya penulisan referensi. Sekalipun itu ide yang mengandung data dan fakta walau sekadar istilah tetap saja harus disitasi. Sementara untuk tulisan orang lain, sekalipun dituliskan sumber asalnya kalau sudah lebih dari lima kata apalagi kalau separagraf, tetap saja merupakan tindakan plagiat. Untuk mengindari itu, harus digunakan teknik paraphrase.

Bahkan, menulis di media sosial sekalipun, seperti blog ataupun sekedar note atau status di Facebook tetap saja harus menulis sesuai kaedah untuk memenuhi unsur keaslian gagasan atau informasi. Tidak ada toleransi sama sekali terhadap karya tulis yang dihasilkan dari tindakan plagiat. Kalaupun tidak mendapatkan sanksi dari negara, maka masyarakat akan memberikan sanksi moral bagi penulisnya, sekaligus mendapatkan cemoohan publik.

Keorisinalan ini dibuktikan sebagai sebuah gagasan yang baru sama sekali. Atau bisa juga merupakan perbandingan dan klasifikasi yang juga baru. Namun, tetap dimungkinkan untuk “berdiri di bahu raksasa” sebagaimana slogan yang menjadi motto Google Cendekia. Ini berarti, bahwa apa yang dilakukan seorang penulis sebenarnya bersandar pada karya yang sudah diselesaikan orang lain. Sekalipun itu menulis koran, tetap saja harus orisinal karena berkaitan dengan informasi publik, apalagi sebuah koran memiliki ISSN. Sehingga cetakan sebuah Koran dianggap sebagai terbitan resmi.

Catatan ini hanya terkait pada karya tulis. Karena untuk beberapa karya lain justru kesamaan menjadi penting, seperti tari, lagu, atau puisi. Sehingga kriteria plagiat dikembalikan kepada masing-masing komunitas atau himpunan profesi itu sendiri. Termasuk berkaitan dengan desain untuk bangunan, taman, dan perencanaan kota. Tanggungjawab seorang penulis untuk mereduksi plagiat. Apalagi dengan perkembangan teknologi informasi, salah satu godaan bagi penulis adalah salin dan tempel (copy-paste). Untuk itu, penulis perlu memastikan bahwa karya yang dihasilkannya sepenuhnya adalah karya sendiri, terkecuali jika ada informasi atau ide dari orang lain yang sudah diberikan keterangan secara tepat dan patut.

Selanjutnya, sebuah karya tulis haruslah merupakan kebenaran. Tidak dimungkinkan informasi yang disampaikan tidak berkorespondensi dengan fakta atau fenomena yang ada. Dengan demikian, seorang penulis perlu meyakinkan bahwa apa yang disampaikannya adalah sebuah kebenaran. Tentu, sudah melalui proses verifikasi dan juga triangulasi data, baik sumber maupun metode. Untuk mempresentasikan kebenaran, maka landasan kerja seorang penulis adalah kejujuran. Kali pertama saya mendengar dari Prof. Anwar Arifin bahwa seorang ilmuwan itu bisa saja salah tetapi tidak boleh bohong. Sekalipun yang disampaikannya itu adalah data yang salah tetapi perlu disampaikan secara jujur tentang motode yang digunakan selama pengumpulan data.

Berikutnya, struktur penulisan. Ketika menulis ada pola baku sesuai dengan medium penerbitan masing-masing. Jika menulis untuk jurnal, maka setiap jurnal memiliki gaya selingkung (in-house style) masing-masing. Sementara ketika menulis untuk koran, sebuah surat kabar memiliki gaya penulisan yang juga berbeda-beda. Dengan demikian, langkah awal ketika hendak menulis adalah mengenali tipikal media penerbitan yang hendak ditujunya. Dengan struktur penulisan itulah kemudian sistematika dan pembahasan akan ditentukan dan mengikuti pola yang dianutnya. Antara satu bentuk penerbitan dengan penerbitan yang lainnya memiliki kondisi tertentu.

Terakhir, apapun bentuk referensi yang digunakan, maka tetap saja harus menggunakan salah satunya, dikenal dengan istilah footnote, bodynote/innote, dan endnote. Ketika menulis, perlu menggunakan salah satunya saja. Tergantung kepada gaya yang digunakan penerbitnya. Ketiga-tiganya tetap ilmiah, sepanjang digunakan secara konsisten. Dengan penggunaan referensi seperti ini akan menjamin kemudahan bagi pembaca untuk melakukan pengecekan. Jikalau pembaca memerlukan tambahan informasi, mereka dapat saja mengecek kembali ke sumber yang digunakan oleh penulis.

Akhirnya, karya tulis akan menjadi menarik jika menyajikan informasi yang orisinal, kebenaran, terstuktur, dan disertai dengan rujukan. Keempatnya akan menjamin bahwa karya tulis tersebut merupakan karya yang ilmiah. Dengan demikian, dapat dijadikan pegangan dalam aktivitas akademik. ***

Lahir di Camba, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Menyelesaikan pendidikan doktor di Universiti Kebangsaan Malaysia. Sekarang ini bertugas di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sorong, Papua Barat. Sejak 2010 ditugaskan sebagai pelaksana kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong sampai 2011. Sejak 2012 sebagai Kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong untuk periode 2012-2016. Kemudian, diangkat kembali untuk periode 2016-2020. November 2016 menjadi bagian Southeast Asia Academic Mobility (SEAAM). Kini, menjadi Pengurus AGUPENA Papua Barat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Literasi

Go to Top