Home » Opini » KETIKA CINTA » 254 views

KETIKA CINTA

Rubrik Opini Oleh

Allah SWT berfirman: “…. “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan Kami), kami bersaksi”….” (QS: Al A’raf, 172)

Ayat di atas adalah ikrar atau kesaksian manusia di alam ruh dahulu. Yaitu menjadikan Allah SWT sebagai Rabb. Tuhan yang disembah. Karenanya, ketika manusia dilahirkan ke dunia, tidak benar jika mereka disebut makhluk polos, netral dan tidak membawa apapun dalam dirinya. Yang benar adalah bahwa keturunan Adam-Hawa telah membawa “software” Tauhid bersamanya.

Inilah yang disebut dengan fitrah keimanan atau fitrah ber-Tuhan. Allah SWT berfirman: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,”

Bagaimana cara membuktikan bahwa fitrah ber-Tuhan itu ada pada diri manusia? Seorang pelancong pernah berkunjung ke seluruh pelosok bumi, menemui banyak orang dan nyaris seluruh suku terasing di pedalaman rimba. Di sana, pada tempatnya berkunjang itu, ia pasti menemukan ada tempat ibadah. Walau ekspresi ber-Tuhannya tidak sama. Ada yang menyembah patung, pohon, gunung dan lain sebagainya.

Itulah bukti fitrah ber-Tuhan. Tapi mengapa menyembah selain Allah? Sebab fitrahnya telah dibelokkan oleh setan, sang musuh utama manusia. Oh iya, sekedar info, ada fitrah lain yang juga dititipkan oleh Allah kepada hamba-Nya yang diamanahi sebagai khalifah di bumi ini. Disebut dengan fitrah bakat.

Allah SWT berfirman: “Katakanlah (Muhammad). “Setiap orang berbuat sesuai dengan pembawaannya masing-masing.” Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya. (QS: Al Israa, 84)

Beberapa bulan lalu, saya membeli sebuah baju. Tapi sebelum membeli, saya bertanya pada penjualnya: “Berapa banyak anda membuat baju semacam ini?” Ia menjawab: “18 buah.” Dalam hal bisnis, adalah wajar jika sebuah produk yang sama di buat dalam jumlah banyak. Tujuannya biar untung berlipat.

Tapi, tidak demikian dengan manusia. Allah menciptakan Adam sampai insan akhir zaman tidak ada yang sama. Mereka berbeda. Bahkan kembar sekalipun. Makhluk Allah paling mulia ini “very special and limited edition.” Karenanya jangan pernah melihat kesuksesan anak orang lain sebagai ukuran keberhasilan anak kita. Sebab bakatnya berbeda. Adapun tugas kedua orang tuanya adalah membantu anak menemukan bakatnya.

Kita kembali lagi ke fitrah keimanan. Ketika orang sudah beriman, maka pada saat yang sama ia cinta kepada Rabb-nya. Dan kalau sudah cinta, dirinya akan melakukan apa pun yang diperintahkan oleh yang dicintainya.

Apakah ada orang yang merasa terbebani dengan perintah semisal Sholat dan Puasa? Pasti ada, dan itu wajar. Kok bisa? Sebab para Ulama menyebut keduanya dengan ‘taklif syar’i’ yang berarti ‘beban syar’i’. Akan tetapi, jika sudah cinta kepada Allah, maka semuanya tidak akan menjadi beban lagi. Bukankah ada kalimat umum yang berkembang: “kalau cinta sudah melekat, gula jawa rasa coklat”?

Ada seorang teman, yang sebelum menikah, sangat tidak suka membaca buku-buku romantis. Setelah menikah, sang istri memintanya melakukan sesuatu yang dibencinya itu. Ia lalu membacanya. Tak menolak sedikitpun. Kenapa? Sebab dirinya mencintai orang yang memberinya perintah.

Sholat dan Puasa adalah beban (taklif syar’i). Tapi karena sudah cinta pada Allah, maka perintah-perintah itu tidak akan menjadi beban lagi. “Kalo cinta sudah melekat, gula jawa rasa coklat.”

Bicara soal beban, penempatannya pada pundak seorang anak manusia, harus pada saat yang tepat. Berlaku kaidah: “indah pada waktunya”. Kapan beban itu boleh dipikul? Ketika sudah memasuki Aqil-Baligh.

Sebelum masa itu, Islam belum mewajibkan. Biarlah anak-anak menikmati fitrah perkembangannya dahulu. Tanpa beban pada pundaknya. Peran kedua orang tua adalah menyiapkan sang anak untuk siap menanggung beban-beban itu.

Nah, Allah SWT tahu orang-orang yang cinta pada-Nya. Karenanya Allah juga menyapa mereka yang mencinta itu dengan panggilan mesra. “Yaa Ayyuhal… (Hai orang-orang….)”. Itu adalah panggilan cinta. Sapaan yang biasa digunakan oleh seorang kekasih kepada yang dicintainya. Seorang suami kepada istrinya.

Dalam konteks puasa ramadhan, Allah mendahului perintah puasa, yang merupakan beban syar’i itu dengan sebuah panggilan mesra: “Hai orang-orang beriman…”, lalu dilanjukan dengan: … diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (QS. Al Baqarah, 183)

Allah tahu, bahwa hanya orang-orang beriman, manusia yang cinta pada-Nya, yang menyambut gembira dan melaksanakan salah satu rukun Islam itu tanpa beban sama sekali. Hingga Allah akhirnya mewisuda mereka dengan gelar Taqwa. Derajat tinggi, yang dengannya seorang hamba akan beroleh kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. ***

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Opini

Keluargaku Surgaku

Seorang ahli kungfu sedang asyik menari di lantai dansa bersama istrinya. Ia

Sayang dia, Cinta dia

Hampir pecah tangisku menyaksikan peristiwa itu. Seorang suami mencekik, menampar dan menendang

Tegar

Oleh: La Ode Mu’jizat Perlu kekuatan hati yang berlebih ketika ujian atau
Go to Top