MEMETIK PELAJARAN DARI GAMELAN

Rubrik Opini Oleh

Oleh : Washadi
Washadi, guru SMA Negeri 12 Kota Tangerang Selatan Provinsi Banten

Suatu saat, Sunan Kalijaga menghadap gurunya di Tuban Jawa Timur, yaitu Sunan Bonang. Seperti biasa, Sunan Kalijaga menimba ilmu agama Islam dan wejangan-wejangan sebagai bekal berdakwah. Sebelum kembali ke tempat asalnya, yaitu Demak Jawa Tengah, Sunan Kalijaga diberi “oleh-oleh” berupa beberapa alat musik bonang (semacam gong, tetapi ukurannya lebih kecil). Sunan Bonang berpesan kepada muridnya tersebut agar menyampaikan dakwah kepada masyarakat dengan menggunakan alat-alat musik tersebut yang jika dimainkan dengan cara dipukul mengeluarkan bunyi “ning-nang-ning-nong”.

Sesampainya di Demak, Sunan Kalijaga menciptakan alat-alat musik baru untuk ditambahkan atau dikolaborasikan dengan bonang, yaitu kendang dan gong. Adapun kendang jika dimainkan akan mengeluarkan bunyi “dang-dang”. Sedangkan gong jika dimainkan mengeluarkan bunyi “gung”. Maka lengkaplah perangkat instrumen musik sebagaimana yang kita kenal sekarang dengan “gamelan”.

Pada saat itu, masyarakat di Tanah Jawa menganut agama Hindu. Mereka memiliki alat musik berupa kecrek yang jika dibunyikan mengeluarkan suara “ecrek-ecrek”. Sebagaimana kebiasaan masyarakat Hindu pada umumnya, mereka sering mengadakan pesta-pesta/ritual keagamaan dengan diiringi alat musik tersebut. Mereka begitu khidmat dan menikmati alunan musik yang dimainkannya.

Dengan kepandaian dan keluwesannya, Sunan Kalijaga mampu masuk ke dalam komunitas masyarakat Hindu. Setiap kali berdakwah, Sunan Kalijaga selalu memainkan gamelan. Masyarakat secara berduyun-duyung mendatangi tempat di mana Sunan Kalijaga memainkan gamelan. Mereka merasa sangat terhibur. Mereka terbius oleh keindahan dan harmonisasi gamelan. Maka, pada saat itulah kesempatan emas bagi Sunan Kalijaga untuk menyisipkan pesan-pesan dakwah.

Masyarakat tak menyadari bahwa Sunan Kalijaga sedang mengenalkan dan mengajarkan Islam. Sunan Kalijaga menyampaikannya dengan lembut dan hati-hati, diikuti dengan sikap dan perilaku terpuji. Pesan-pesan dakwah masuk ke dalam hati mereka. Satu per satu dari mereka kemudian bersyahadat. Akhirnya, masyarakat Jawa secara umum menyatakan syahadat dan memeluk Islam.

Jika dicermati, ternyata betapa luar biasa dakwah ala Sunan Kalijaga. Gamelan yang dimainkan Sunan Kalijaga bukan sebatas perangkat musik biasa, namun memiliki filosofi dan pelajaran hidup yang sangat dalam yang dapat kita petik hikmahnya. Bebunyian yang mengalun dari gamelan mengandung pesan Ilahiyah. Mari kita perhatikan.

Bunyi bonang yang “ning-nang-ning-nong”, merupakan representasi dari kata-kata bahasa Jawa: “ning kene, ning kana, ning kono”, yang berarti “di sini, di sana, di situ”. Ungkapan ini bermakna: “Kehidupan manusia yang selalu terombang-ambing ke sana-kemari tanpa tujuan yang jelas.”

Bunyi kendang “dang-dang” dari kata-kata “ndang balik” yang berarti “segera pulang/kembali”, bemakna: “Segeralah kembali kepada ajaran agama”.

Bunyi gong “gung” berasal dari kata “agung”, bermakna: “Yang Mahaagung, yaitu Allah swt.”

Secara keseluruhan, harmonisasi irama gamelan mengandung makna: “Manusia yang hidupnya terombang-ambing harus segera kembali kepada ajaran agama Allah swt., Tuhan Yang Mahaagung, yaitu agama Islam.”

Bunyi kecrek “ecrek-ecrek” sebagai penggambaran dari kata-kata bahasa Jawa “ecek-ecek” dan “elek-elek”, yang berarti “rendah, murahan” dan “jelek, hina”, bermakna: “Hidup manusia yang rendah, murahan dan jelek atau hina harga dirinya.” Sunan Kalijaga kemudian memasukkan kecrek ke dalam perangkat instrumen gamelan. Dengan demikian, semakin lengkaplah makna yang terkandung di dalamnya, yakni: “Manusia yang rendah, murahan dan hina harga dirinya serta terombang-ambing hidupnya harus segera kembali kepada ajaran agama Allah swt., Tuhan Yang Mahaagung, yaitu agama Islam”. ***

Tags:

Washadi, S.Pd, MM.Pd, seorang Guru dan Penulis, tinggal di Tangerang Selatan, Banten. Tulisan-tulisannya dimuat di berbagai media massa, antologi puisi dan antologi cerpen. Aktif berkegiatan sastra di Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Tangsel. Saat ini menjabat sebagai Sekretaris Dewan Kesenian Tangerang Selatan (DKTS) merangkap Komite Sastra, dan Pengurus Asosiasi Guru Penulis Indonesia (Agupena) Wilayah Banten. Kini menjadi Ketua Bidang Humas dan Kerjasama Antar Lembaga AGUPENA.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Opini

Keluargaku Surgaku

Seorang ahli kungfu sedang asyik menari di lantai dansa bersama istrinya. Ia

Sayang dia, Cinta dia

Hampir pecah tangisku menyaksikan peristiwa itu. Seorang suami mencekik, menampar dan menendang

Tegar

Oleh: La Ode Mu’jizat Perlu kekuatan hati yang berlebih ketika ujian atau
Go to Top