PROSES KREATIF DALAM MENULIS

Rubrik Literasi Oleh

Ismail Suardi Wekke
STAIN Sorong-Agupena Papua Barat

Masing-masing orang memiliki kekhasan tersendiri untuk berkreasi dalam menulis. Termasuk alasan yang melingkupinya sehingga memulai proses untuk menulis. Begitu juga dengan soal alat bantu. Jika di masa lalu, instrumen menulis hanya dengan teknologi terbatas bahkan satu-satunya, mesin ketik. Sekarang ini, fasilitas untuk menulis dengan sedemikian rupa yang dapat dipakai seorang penulis melakukan ekspresi. Bahkan, ada aplikasi di smart phone yang membantu penulis untuk mengalihkan suara secara otomatis menjadi ketikan.

Dengan alat-alat yang sedemikian canggih, tetap saja proses kreatif menjadi bagian individu untuk memungkinkan lahir karya-karya yang bisa sampai ke publikasi. Proses kreatif bisa saja berhubungan dengan tempat berkarya. Oleh karenanya, menemukan tempat untuk menumpahkan semua daya pikir dan imajinasi, sehingga proses penulisan dapat berlangsung merupakan bagian yang harus dikenali seorang penulis. Saat menemukan tempat itulah merupakan kesempatan terbaik untuk melakukan proses penulisan yang dikehendaki.

Ada pula karakter penulis yang tidak memerlukan tempat secara khusus. Keduanya tetap saja menjadi bagian individual masing-masing penulis. Dengan terikat atau tidak terikat pada satu tempat, merupakan kebiasaan masing-masing penulis. Bagian terbaiknya adalah bagaimana sebuah lokasi bisa menjadi sarana untuk mendukung proses kreatif berjalan untuk mencapai sebuah karya.

Sekolah ataupun kursus dan segala jenis pelatihan bukan menjadi prasyarat untuk kemampuan menulis. Terlalu banyak penulis yang tidak dilahirkan dari bangku sekolah ataupun ruang kuliah. KH Alie Yafie diantaranya sebagai contoh yang menjadi penulis tetapi tidak ditempah melalui proses pendidikan dengan jenjang formal. Namun demikan, penulis sekaliber Prof. Quraish Shihab tetap saja memerlukan kemampuan formal untuk kemudian wujud menjadi pakar tafsir yang terkemuka. Kemampuan menulisnya bukan semata-mata diperoleh dari Universitas Alazhar, karena betapa berjuta-juta lulusan Alazhar yang juga tidak menguasai keterampilan menulis. Oleh karena itu, tetap saja paduan antara pendidikan formal dengan proses kreatif individual diperlukan. Ada juga penulis yang tidak memerlukan bangku pendidikan formal. Sementara di sisi lain, ada individu yang tetap saja memerlukan pendidikan secara khusus sebelum memiliki kemampuan menulis secara paripurna.

Proses untuk menemukan sebuah ide untuk menulis bisa saja dihasilkan antara lain dari 3P, paper (artikel), place (tempat), dan person (pengalaman pribadi). Dengan tiga ini, setidaknya akan menghasilkan sebuah informasi yang dapat dikembangkan untuk menulis. Hanya saja, tidak cukup dengan 3 semata. Diperlukan pula diskusi dan pengamatan untuk memperkaya data yang sudah didapatkan. Dengan paduan antara 3P dan proses pengumpulan data memungkinkan sebuah tulisan wujud sebagai sebuah informasi yang lengkap.

Untuk itu, proses menulis tidak dapat dilepaskan sama sekali dengan membaca. Aktivitas membaca merupakan rangkaian paket yang sama dengan menulis. Tanpa salah satunya, maka aktivitas yang lain akan pincang. Bahkan untuk menulis sebuah karya dengan standar mutu tertentu, maka perlu juga untuk membaca karya yang juga memiliki standar mutu tertentu. Kebiasaan membaca itulah yang akan mendorong sehingga mampu untuk menghasilkan sebuah karya yang juga bermutu. Dengan tetap membaca, akan memungkinkan penulis untuk terus mereproduksi ide kreatif. Ada konsepsi perkembangan dan pertumbuhan ide. Bisa saja sebuah karya di masa lalu kemudian dikembangkan pada masa kini karena ada perubahan dan juga konteks yang berbeda.

Waktu yang tepat juga menjadi bagian dari daya dukung untuk tetap menulis. Ketika menulis di zaman Orde Baru, suasana yang melingkupi saat itu memberikan ide kreatif untuk menulis sesuai dengan situasi zaman itu. Demikian pula saat ini yang jika bisa kita sebut Orde Reformasi. Ketika menulis dengan latar belakang Orde Baru, sementara kita berada di Orde Reformasi, maka suasana kebatinan saat itu tidak dapat diserap secara sempurna. Untuk itu, menulis di saat yang tepat akan memberikan dorongan untuk menulis sesuai dengan keadaan yang sesungguhnya. Maka, menulis tidak dapat ditunda atau menunggu waktu. Sebab ketika waktu berlalu, bisa saja suasana ikut berubah. Ini akan mempengaruhi pilihan kata dan juga rangkaian kalimat karya tersebut.

Perjalanan merupakan salah satu bagian yang bisa mendorong hadirnya proses kreatif. Atau bahkan perjalanan itu sendiri menjadi bagian wajib dalam berkarya. Imam Buhari dan Imam Muslim, dua perawi hadis yang dianggap terbaik dari para penulis kitab hadis, harus melakukan perjalanan untuk memverifikasi data. Sebelum sampai pada kesimpulan bahwa hadis tersebut layak disebuat sebagai hadis sahih. Begitu juga dengan Ibnu Batutah, harus melakukan perjalanan ke pelbagai penjuru dunia untuk menemukan informasi sehingga memungkinkan untuk dituliskan. Termasuk para penulis cerita perjalanan, kalau hanya sekadar mendapatkan informasi dari pengalaman orang lain, data yang dikemukakan tidak akan sekredibel kalau sang penulis sendiri yang mendapatkan data itu melalui pergumulan dan perjuangan dalam perjalanan.

Proses kreatif sesungguhnya adalah bagian keseluruhan dalam menulis. Bukan di bagian awal atau akhir saja tetapi sejatinya adalah proses menulis itu sendiri. Mulai dari mengidentifikasi topik, sampai pada proses penerbitan karya. Karena ini bukan hanya sekali saja, maka proses kreatif bisa saja berubah-ubah dan setiap karya punya ceritanya sendiri yang tidak sama dengan karya yang lain. Karena proses kreatif tidak seragam, maka seorang penulis perlu mengenali karakteristik dirinya untuk sehingga dapat menciptakan peluang-peluang untuk menjadi pendukung dalam proses penulisan. ***

Lahir di Camba, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Menyelesaikan pendidikan doktor di Universiti Kebangsaan Malaysia. Sekarang ini bertugas di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sorong, Papua Barat. Sejak 2010 ditugaskan sebagai pelaksana kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong sampai 2011. Sejak 2012 sebagai Kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong untuk periode 2012-2016. Kemudian, diangkat kembali untuk periode 2016-2020. November 2016 menjadi bagian Southeast Asia Academic Mobility (SEAAM). Kini, menjadi Pengurus AGUPENA Papua Barat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Literasi

Go to Top