Home » Literasi » MENULIS TANPA SYARAT » 315 views

MENULIS TANPA SYARAT

Rubrik Literasi Oleh

Ismail Suardi Wekke
STAIN Sorong – Agupena Papua Barat

Kadang menulis tidak pernah dilakukan karena terlalu banyak aturan yang harus dipatuhi. Ketakutan akan rambu-rambu itulah yang menjadi momok tersendiri hingga ada tembok penghalang yang terbangun. Saat itu terbentuk, keinginan menulis tidak pernah dibangkitkan karena terlanjur pesimis bahwa hanya orang-orang tertentu yang dapat menguasainya. Sepanjang memiliki tangan, maka menulis adalah sebuah aktivitas yang dapat dijalankan. Bahkan Nick Vujicic yang tidak memiliki lengan sekalipun tetap saja dapat menulis. Untuk menulis di papan tulis, beliau bahkan harus menggunakan mulut untuk menopang spidol. Maka, bagi kita yang memiliki kelengkapan anggota tubuh, tidak dapat membuat alasan apapun dalam urusan menulis. Justru menulis adalah salah satu bentuk kesyukuran atas nikmat kesempurnaan anggota tubuh.

Sehingga untuk menulis di tahap awal perlu memandang bahwa menulis dengan bebas salah satu gaya penulisan yang dapat dilakukan (Hernowo Hashim, 2017). Tahapan menulis bisa dilakukan cukup dengan pengulangan. Menulis apa saja yang memungkinkan otak bekerja secara simultan. Ini dilakukan secara terprogram sehingga otak secara terampil bisa distimulasi untuk mewujudkan karya tulis. Semua syarat dan aturan menulis, bisa saja diabaikan. Tujuan utama yang akan dicapai adalah wujudnya kemampuan untuk menemukan dan mencurahkan gagasan dalam bentuk tulisan. Kemampuan menulis dan menyunting merupakan dua hal yang berbeda. Penguasaan keduanya dapat dilakukan seiring dengan kemampuan menulis yang mencapai tingkat lanjut.

Keterampilan menulis dapat dikembangkan sejak awal ketika menduduki bangku sekolah. Pelajar dapat diminta untuk menuliskan gagasan yang didukung oleh fakta-fakta. Bukan pada kesempurnaan karya tetapi yang diperlukan adalah curah gagasan yang orisinal ataupun pengembangan gagasan yang sudah ditemukan melalui riset-riset terdahulu. Jikalau ini sudah dicapai, maka sudah ada pembentukan keterampilan di tahap awal. Selanjutnya, pengayaan dengan keterampilan pada pelajaran berbahasa.

Tips pertama yang disarankan Daniel Coyle (2008) adalah deep practice. Sebuah latihan tidak pernah membuahkan hasil jikalau tidak didahului dengan tujuan akhir yang hendak dicapai. Untuk itu, ketika menulis semua latihan yang dilaksanakan hendaknya berorientasi pada sebuah tujuan akhir yang berupa karya tulis. Penulis pemula perlu menegaskan kembali kehendaknya, “apa yang akan dicapai dengan semua pengorbanan waktu dalam menulis?”. Jawaban pertanyaan ini akan memandu penulis untuk memandu aktivitas yang ditekuninya.

Menindaklanjuti tips Coyle, sebuah panduan yang lain dijelaskan Twyla Tharp (2008) bahwa apa yang dilatihkan sesungguhnya akan produktif jika dijadikan sebuah kebiasaan. Dengan menjadikan kebiasaan, menulis tidak lagi dipandang sebagai beban. Kebiasaan itulah yang akan mengantarkan seorang penulis kepada kesediaan untuk menulis secara terus menerus walaupun tidak ada iming-iming material.

Penelitian kesehatan menunjukkan, aktivitas yang dilaksanakan selama 21 hari berturut-turut akan mengantarkan pelakunya untuk menjadi sebuah kebiasaan yang tidak dapat ditinggalkan (Benjamin Gardner, Phillippa Lally, & Jane Wardle, 2012). Walaupun ini penelitian kesehatan, dapat saja digunakan dalam pelatihan menulis. Jika seseorang ingin berlatih menulis, maka dengan kontinuitas selama 21 hari, maka kebiasaan akan terbentuk. Dengan demikian, akan mudah untuk menjadikan aktivitas menulis sebagai sebuah kebiasaan. Saat kebiasaan itu terbentuk, maka proses latihan akan lebih mudah dilaksanakan menuju kepada tahapan selanjutnya.

Keterampilan menulis dibentuk dengan latihan yang berkesinambungan dan juga dengan proses yang tidak bisa dilakukan dalam waktu yang singkat. Bukan dengan satu tulisan saja, lalu akan dikenal. Namun demikian, ada saja penulis yang kali pertama menerbitkan karyanya langsung diterima publik. Seperti karya Laskar Pelangi yang dihasilkan Andrea Hirata. Begitu juga dengan J. K. Rowling saat menulis Harry Potter yang akhirnya mendunia, kali pertama menulis novel. Justru saat menawarkan tulisannya ke penerbit justru ditolak dengan salah satu alasannya bahwa penulis belum dikenal.

Tantangan pertama yang harus ditaklukkan bagi individu yang berkeinginan untuk menulis perlu membentuk kebiasaan menulis. Temanya, menulis apa saja yang diinginkan tanpa terpaku pada satu saja tema penulisan. Tidak ada syarat yang harus dipenuhi, sehingga menulis bebas merupakan sebuah proses yang dapat dilakukan pada tahap awal. ***

Lahir di Camba, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Menyelesaikan pendidikan doktor di Universiti Kebangsaan Malaysia. Sekarang ini bertugas di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sorong, Papua Barat. Sejak 2010 ditugaskan sebagai pelaksana kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong sampai 2011. Sejak 2012 sebagai Kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong untuk periode 2012-2016. Kemudian, diangkat kembali untuk periode 2016-2020. November 2016 menjadi bagian Southeast Asia Academic Mobility (SEAAM). Kini, menjadi Pengurus AGUPENA Papua Barat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Literasi

Go to Top