Empat Rahasia Hidup Produktif

Rubrik Opini Oleh

Oleh Yanuardi Syukur

Saat berbagi sedikit pengalaman di kegiatan Forum Lingkar Pena Jakarta beberapa bulan lalu, saya mengungkapkan bahwa ada tiga hal penting yang perlu dilakukan setiap orang untuk menjadi pribadi produktif: berjalan, menggali, dan menemukan. Setelah itu, saya tambahkan satu lagi: berbagi. Jadi, ada empat hal penting yang menjadi rahasia hidup produktif, yaitu: berjalan, menggali, menemukan, dan berbagi.

Beberapa menit sebelum menulis esai singkat ini, saya sedang di lantai tiga Margo City dan membaca konfirmasi dari beberapa teman alumni Muslim Exchange Program (MEP), sebuah program pertukaran tokoh muslim muda Indonesia-Australia, yang mengonfirmasi tulisan mereka. Nikmatullah menulis, “saya telah kirim tulisannya, mas” dan Oki Setiana Dewi menulis, “saya baru bisa kirim malam nanti” karena masih berada di Spanyol. Keduanya adalah bagian dari 77 kontributor buku yang saya kerjakan selama dua tahun tersebut.

Buku berjudul “Hidup Damai di Negeri Multikultur” (GPU, 2017) yang diberi pengantar oleh Dubes Australia Paul Grigson dan Prof Virginia Hooker serta epilog oleh Rowan Gould dan Brynna Rafferty-Brown itu telah diluncurkan pada 18 Mei 2017 di Executive Residence Kedubes Australia bersamaan dengan kehadiran peserta MEP dari Australia. Beberapa media seperti detik.com, metrotv, liputan6 menulis berita soal ini. Sedikit proses kreatif di balik buku ini, ditulis oleh Australia Plus saat wawancara di sela-sela acara.

Berjalan
Waktu mahasiswa, saya pernah mendengar ada yang bilang begini, “bergeraklah karena diam berarti mati.” Sejenak, kalimat ini terkesan berlebihan tapi jika direnung-renungkan lagi, ternyata benar: kehidupan adalah gerak dan salah satu bentuk gerakan adalah berjalan. Artinya, untuk hidup kita harus bergerak, harus berjalan.

Sejarah perjalanan umat manusia juga tidak lepas dari sejarah perjalanan. Konon, setelah diturunkan ke bumi, Nabi Adam as dan Hawa dipisahkan oleh tempat yang jauh akan tetapi masing-masing bergerak dan akhirnya bertemu. Para Nabi dan Rasul setelahnya juga bergerak dari Nabi Ibrahim as, Nabi Isa as, hingga Nabi Muhammad saw. Pergerakan para Nabi dan Rasul dipahami sebagai pergerakan yang didasari oleh perintah dunia “supernatural” di luar diri manusia, yaitu kekuatan yang maha besar: Allah. Hijrah dari Mekkah ke Medinah, sebagai contoh, adalah sebentuk perjalanan yang menghidupkan dan menjadi legacy umat Islam hingga saat ini. Sistem kalender Hijriyah, bermula dari peristiwa hijrah tersebut.

Perjalanan kemerdekaan bangsa kita juga tidak lepas dari perjalanan. Bung Karno adalah lelaki pejalan: pernah berguru kepada HOS Cokroaminoto di Surabaya, jadi mahasiswa THS (kini ITB), diasingkan (“diperjalankan”) ke Bengkulu, dan terus memimpin pergerakan demi kemerdekaan Indonesia. Tulisan-tulisan dia di Di Bawah Bendera Revolusi menjelaskan secara “ruhiyah” bagaimana pandangannya tentang negara-bangsa, keislaman, dan juga keindonesian yang majemuk.

Pun demikian, sosok Bung Hatta yang dari Bukittinggi belajar ke Belanda dan terlibat aktif dalam Perhimpunan Indonesia dan menyebarkan tulisan-tulisannya tentang kebangsaan. Kedua tokoh ini adalah tokoh yang berjalan, tidak tinggal diam di kampungnya; memilih untuk mengenal orang/pengalaman baru namun semua pengalaman itu dibawanya untuk kemerdekaan bangsa.

Singkatnya, orang-orang yang berpengaruh adalah mereka yang memilih untuk tidak letih berjalan. Entah itu sekedar menyapa tetangga, pergi ke rumah ibadah, bersosialisasi dengan handai tolan, atau bahkan untuk belajar di negeri yang jauh. Mereka berjalan, melihat, merasakan, dan menjadikan pengalamannya itu sebagai harta karun yang kelak ia buka dan bagi kepada sesama.

Menggali
Selama berjalan kita juga perlu menggali “tanah-tanah” penting yang sempat kita temui. Ketika bertemu orang, kita berupaya untuk mengenal, berdialog, dan mengambil hikmah dari perjalanan hidupnya yang gagal dan berhasil. Saat menghadiri seminar kita juga menggali potensi diri kita dalam menulis dengan cara mencatat hal-hal penting dari paparan pembicara dan alangkah lebih baik lagi jika dirapikan dalam bentuk esai yang dipublikasikan di media sosial, website, koran, atau untuk naskah buku.

Kita melihat fenomena di luar diri usahakanlah kita untuk menggali apa yang ada di luar dan menggali apa yang ada dalam diri kita. Sebagai contoh, kita melihat orang sukses. Maka hal pertama yang harus kita gali adalah mencari tahu bagaimana prosesnya hingga sukses. Yang pasti, tidak ada sesuatu yang jadi sempurna; semua menjalani proses. Suatu siang saya pernah bertanya kepada seorang kolega yang setiap tahun diundang menjadi pembicara di luar negeri.

Apa rahasianya sampai diundang ke luar?

Kata dia, “saya kirim 30 proposal dan yang diterima hanya beberapa saja.” Orang tahu saya “berhasil” lewat beberapa proposal yang diterima itu tapi orang tidak tahu bahwa di balik itu ada banyak proposal gagal lainnya yang tidak dipublikasikan kepada orang lain. Artinya, ketika melihat orang yang kita anggap sukses janganlah kita langsung berpikir bahwa ia melaluinya dengan mudah; pasti ada cerita pedih di balik itu semua.

Kemudian, kita juga perlu menggali potensi diri kita sendiri. Informasi atau pengalaman orang lain itu dapat menjadi modal untuk melihat diri kita. Apakah saya bisa sesukses dia? Apakah saya bisa mencapai seperti dia? Hal itu perlu menjadi pertanyaan kepada diri sendiri. Kita perlu menggali potensi diri yang telah Tuhan kasih semaksimal mungkin.

Menemukan
Walaupun pekerjaan menemukan biasanya dialamatkan pada ilmuwan tapi kita semua perlu menemukan sesuatu yang berguna buat diri dan orang lain. Banyak bentuknya, bisa bentuk barang, teori (buat ilmuwan), atau sekedar kata-kata bijak yang dapat dipakai oleh pribadi atau teman terdekat.

Waktu mahasiswa di Unhas, saya bertetangga dengan perempuan tua bernama Bibi. Jalannya agak terseok-seok, dan sering orang memberikannya selembar uang buat menyambung hidup. Saat duduk di depan kosan, dia cerita ke saya, “Kita sekarang kuat tapi nanti tidak kuat; kita sekarang ada tapi nanti tidak ada.”

Itu bentuk temuan menurutku. Ya, temuan kata-kata bijak (mungkin “sang penemu” merasa itu tidak bijak juga sebenarnya) yang berguna buat orang yang mendengarkan.

Jadi, menemukan hal-hal baik perlu menjadi pekerjaan kita dalam setelah menggali. Artinya, jika kita beraktivitas di satu hal maka kita harus menemukan apa hal-hal inspiratif-konstruktif yang dapat dikaji, dikembangkan, atau dibagi kepada orang lain.

Menemukan potensi diri, sebagai contoh, juga penting sekali. Waktu diundang ke Bangkok, saya sempat berbicara dengan seorang teman dari Washington DC. Saya tanya, “bagaimana cara menemukan potensi diri?” Kata dia, “itu pertanyaan bagus, dan jawabannya adalah potensi diri itu ibarat diagram ven, kita harus cari sekitar tiga hal yang sering kita lakukan, dan kesamaan dari ketiga hal itu.” Mungkin, kita bisa mencobanya dengan mencari tiga aktivitas yang paling sering kita lakukan, kemudian dari ketiga itu lihat dalam bidang apa kita kuat. Itulah yang kemudian dimanfaatkan jadi branding, lanjut dia lagi. Menemukan branding, selanjutnya, adalah temuan juga.

Berbagi
Pepatah mengatakan, “orang yang tidak memiliki tidak akan memberi.” Kalimat “transnasional” ini asalnya berbunyi, “faqidussyai’ la yu’thih.” Dari bahasa Arab. Ada betulnya. Jika kita tidak punya, apa yang mau kita bagi? Pasti tidak ada.

Tapi, mungkinkah ada orang yang tidak punya apa-apa? Rasanya tidak ada. Semua orang pasti punya sesuatu yang bisa dia bagi orang lain.

Problemnya kemudian, ada juga orang berpunya tapi dia tidak mau berbagi. Waktu diundang oleh Kedubes Australia dalam sebuah pertemuan di Grand Indonesia, saya diberikan informasi peluang penting oleh seorang teman saya. Kemudian saya ikut program itu. Suatu waktu, saya bertanya ke teman tersebut perihal apakah dia tidak merasa kehilangan peluang jika informasi itu dibagi ke saya? Dia menjawab, “menurut saya, tiap orang punya rezeki dan punya jalannya masing-masing.” Singkat kata, kalau rezeki nggak akan kemana-mana. Maka tak perlu takut kehilangan jika berbagi kepada orang lain.

Berbagai bentuk kedermawanan juga begitu. Tidak akan hilang sesuatu yang diberikan. Bahkan, dalam kepercayaan Islam, orang yang bersedekah akan mendapatkan balasan yang lebih dari apa yang dia keluarkan. Selain untuk membersihkan diri (tazkiyah), sedekah juga menjadi “tabungan pahala” untuk kehidupan pasca dunia.

Suatu waktu, sepulang dari tarawih di masjid, ada seorang ibu yang mendekat. “Dek, ibu mau pulang ke kampung tapi tidak ada uang. Tolong bantu dek,” katanya memelas. Sebagai mahasiswa yang kebetulan waktu itu (paginya dapat beasiswa), saya langsung bilang, “ibu tunggu di sini dulu, sebentar saya ke sini.” Saya ke rumah dan mengambil tidak hanya satu lembar merah. Doa-doa pun terlontar.

“Alhamdulillah, saya didoakan orang,” kata saya dalam hati.

Besoknya, ibu tersebut datang lagi. “Dek, uang yang tadi malam itu diambil orang pas ibu turun dari angkot. Bisa bantu lagi dek?” Saya bilang, “ibu tunggu di sini, sebentar saya ke sini lagi.” Saya ke kosan, dan mengambil lembaran merah itu.

Esoknya tidak ada lagi ibu itu.

Orang bilang, hati manusia tidak ada yang tahu—entah orang menipu atau jujur—tapi kebesaran hati untuk berbagi itu penting. Bukan buat orang lain, tapi buat diri kita sendiri.

Tak lama setelah itu saya dinyatakan lulus beasiswa yang saya terima selama tiga tahun berturut-turut. Dari situ, saya dapat pembinaan rutin yang salah satu tugasnya adalah menulis rangkuman materi. Saya buat sebaik-baiknya di warnet dekat rumah.

Dan, perjalanan menulis rangkuman itu membawa saya pada “kebahagiaan tersendiri” ketika menulis: mulai dari zaman friendster, multiply, hingga facebook dan whatsapp. Salah satu hasil dari perjalanan panjang sebagai “penulis rangkuman” pemateri itu—dan saya kira dulu Buya Hamka juga melakukan itu ketika menulis Khatibul Ummah di usia yang belum 20 tahun—adalah berbasis pada materi-materi ceramah teman-temannya di surau Sumatera Barat.

Tak ada jalan mulus untuk jadi sesuatu, tapi kehidupan selalu menyediakan kesempatan. Ya, kesempatan jika kita percaya dan kita mau berusaha. ***

Tags:

Dosen dan peneliti bidang Antropologi Sosial yang menulis 60 buku berbagai genre (Islam, Timur Tengah, biografi, dan motivasi, riset sosial). Beberapa bukunya dikaji sebagai tugas akhir di perguruan tinggi dan didokumentasikan di berbagai perpustakaan di Indonesia, Singapura, dan Australia. Pada tahun 2017, buku yang diinisiasinya "Hidup Damai di Negeri Multikultur" (GPU, 2017) diluncurkan di Kedubes Australia. Ia pernah diundang sebagai narasumber di Kuala Lumpur, Bangkok, beberapa stasiun televisi Indonesia dan MBC Korea. Saat ini, mahasiswa S3 Antropologi FISIP UI ini menjadi Ketua Bidang Usaha dan Jasa Penulisan/Penerbitan Agupena Pusat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Opini

Mana Pahlawanku?

Hari Pahlawan 2017 telah berlalu (10/11). Pada hari itu seluruh rakyat Indonesia,
Go to Top