MATA AIR KETELADANAN BJ. HABIBIE

Rubrik Berita/Kegiatan Oleh

Abd.Malik Raharusun
(Sekretaris Eksekutif PN.MASIKA-ICMI, Wakil Sekretaris Asosiasi Guru Penulis Indonesia)

Malam bulan suci Ramadhan 1438 H memasuki malam ke-12 Ramadhan artinya kita telah memasuki tahapan 10 hari kedua ramadhan atau fase pertengahan yakni hari-hari Maghfirah (Ampunan) dari Allah SWT. Bertepatan dengan tanggal 06 Juni 2017 bertempat di kediaman Ayahanda Prof. Dr. Ing. Bacharuddin Jusuf Habibie Jalan Patra Kuningan XIII No.3, Pengurus Majelis Nasional Ikatan Cendikiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) menggelar buka puasa bersama, tausiyah dan nasehat serta sholat berjamaah.

Habibie dan ICMI seperti qalam (pena) dan kitabaatun (tulisan) keduanya adalah kesatuan tidak terpisahkan. Bukan hanya secara emosional Habibie adalah tonggak sejarah awal berdirinya ICMI tetapi yang paling substansial adalah dalam diri seorang Habibie nilai-nilai ICMI (baca : Cendikiawan, Muslim dan Indonesia) teraktulisasi. Memang ICMI memiliki segudang tokoh cendikiawan muslim namun Habibie adalah sosok yang dalam usia mencapai 81 tahun konsistensi Iman dan Takwa (IMTAK) serta Ilmu pengetahuan dan teknologi (IMTEK) tetap terjaga.

Dan ini, malam ke-12 Ramadhan warga Majelis Nasional ICMI dan Pengurus Nasional MASIKA-ICMI kembali “meneguk” mata air keteladanan dari Habibie.

Mata Air Keteladan BJ.Habibie
Prof. Dr. Ing. Bacharuddin Jusuf Habibie adalah guru bangsa. Darinya di usia yang sudah tua dimakan waktu, 81 tahun, terus mengalir mata air keteladan bagi anak bangsa. Habibie seperti telaga al kautsar yakni hikmah atau keteladanan yang melimpah ruah. Dengan kesedarhanannya, mantan Presiden ketiga Republik Indonesia ini memberikan nasehat kepada warga ICMI.

Duduk di sebuah kursi, di tengah jamaah ICMI, Habibie menyampaikan nasehat lebih dari 30 menit. Habibie masih terlihat semangat dan optimisme menyampaikan hikmah dan menanamkan rasa percaya diri serta semangat untuk berbuat yang lebih baik bagi umat dan bangsa kepada jamaah. Tipe seorang cendikiawan muslim Habibie berbicara dengan data, sumber serta intonasi suara yang tepat. Seluruh jamaah dalam suasana khusu meneguk setiap mata air keteladanan yang disampaikan. Terdapat banyak nasehat hikmah yang disampaikan Habibie, kesempatan ini penulis hanya menyampaikan sedikit yang dapat penulis sampaikan.

Di akhir nasehatnya Habibie bercerita pengalamannya ketika diusia 50 tahun menerima penghargaan Edward Warner Award dalam bidang penerbangan oleh International Civil Aviation Organization (ICAO) Montreal, Kanada. Sebelum bercerita Habibi meminta agar Ilham anaknya mengambilkan medali emas penghargaan agar diperlihatkan kepada jamaah ICMI.
Habibie bercerita (redaksi cerita sudah disadur ulang oleh penulis tanpa mengurangi makna cerita), pada tanggal 7 Desember 1994 Habibie mendapatkan penghargaan atas pengabdiannya selamaa 50 tahun untuk penelitian dalam dunia penerbangan.

Penghargaan Edward Warner Award oleh International Civil Aviation Organization (ICAO). Hanya Habibie satu-satunya orang Asia yang menerima penghargaan tersebut. Habibie diminta untuk memberikan sambutan pada acara tersebut, awalnya Habibie menolak untuk memberikan sambutan, Habibie berkata, “saya ke sini hanya untuk menerima penghargaan bukan untuk berbicara”. Tetapi pihak ICAO tetapi meminta, Habibie pun memberikan sambutan. Habibie bercerita kalimat yang pertama diucapkan adalah, “Bismillahir Rahmanir Rahim” (Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang)”. Susana forum hening untuk pertama kalinya kalimat “Bismillahir Rahmanir Rahim” diucapkan di forum ICAO oleh seorang muslim. Habibie lalu melanjutkan sambutanya, “bahwa kemampuan menciptakan teknologi secanggih apapun bukan milik agama tertentu, bangsa tertentu, suku tertentu tetapi milik umat manusia yang berusaha”.

Habibi kembali mengingatkan dan memberikan motivasi kepada jamaah ICMI, “kondisi anda saat ini lebih baik dari kondisi saya dahulu ketika berusia yang sama dengan Anda, Anda harus lebih baik dari apa yang saya raih.

Habibie pun melanjutkan ceritanya setelah forum tersebut Habibie mendapatkan pertanyaan, Pak Habibie, pada 50 tahun yang lalu 7 Desember 1944 pukul 10.00 pagi dan malam Anda sedang di mana dan apa yang Anda lakukan? Habibie menjawab, “Saya lahir tahun 1936 pada saat itu usiaku baru 8 tahun. Saya tinggal di kampung kecil di Bugis, Indonesia di rumah panggung terbuat dari kayu. Setiap pagi Saya harus menyiapkan makanan ternak kuda sebagai kendaraan. Ibu saya menggunakan andong kendaraan yang ditarik oleh kuda. Dimalam harinya Saya memiliki jadwal tetap mengaji membaca Al Qur’an”.

Rasa kagum dan bangga terlihat dari wajah para jamaah buka puasa ICMI, cerita ini mungkin pembaca juga telah membacanya di koran, media online, jurnal dan juga pada buku Habibie-Ainun. Energi positifnya tentu berbeda melihat secara langsung Habibie, mendengarkan tekanan intonasi suaranya serta gerak tubuh pada setiap kata yang disampaikan. Diakhir ceritanya Habibie berpesan agar ICMI tetap mengedepankan IMTAK dan IPTEK, Habibie tetap optimis Indonesia kedepan dengan mengedepankan persatuan maka akan semakin baik.

Butiran-butiran Hikmah Nasehat BJ.Habibie
Penulis adalah Pengurus Nasional Majelis Sinergi Kalam – ICMI (MASIKA ICMI) yang turut hadiri bersama pengurus lainnya. Bagi MASIKA ICMI yang merupakan semiotonom dari ICMI menghimpun anak-anak muda cendikiwan muslim Indonesia perjumpaan silahturahmi dengan Ayahanda BJ.Habibie pada momentum ramadhan ini adalah nikmat, rahmat yang patut syukuri. Habibie adalah ulul albab, dalam dirinya ke-Islam-an, ke-cendikiwan dan ke-Indonesia-an menyatu dengan sempurna.

Di usianya yang makin menua Habibie tetap semangat menjadi tauladan bagi ICMI dan kami MASIKA-ICMI. Habibie sekali lagi menyadarkan kami tentang tradisi Islam sebagai agama paripurna mengajarkan umatnya mengembangkan rasionalitas sains untuk kemaslahatan seluruh umat manusia. Dunia barat dibuat kagum seorang anak di pedalaman Bugis, Indonesia dalam usia 8 tahun usia yang dalam Islam adalah usia balig dan mendapatkan kewajiban mengaji Al Qur’an serta tugas-tugas mandiri lainnya pada 50 tahun kemudian berdiri pada seuatu ajang cendikiawan dunia mendapatkan penghargaan yang hanya sekali diberikan bagi satu ilmuan atas penemuannya.

Habibie adalah fakta tentang teori pendidikan Islam bagi anak-anak memasuki usia balig (7 – 10 tahun) sudah harus dikenakan kewajiban baik sebagai seorang muslim atau pribadi yang mandiri. Nabi Muhammad SAW berpesan anak pada usia 7 tahun (jika pertumbuhannya sang anak normal) sudah diwajibkan untuk melaksanakan perintah agama serta kewajiban mandiri lainnya. Sholat, mengaji Al-Qur’an dan tugas mandiri lainnya sesuai perkembangan anak wajib menjadi perhatian orang tua. Jika ini dapat dilakukan, sebagaimana kata Habibie lingkungan berperan besar membentuk pribadinya, sangat mungkin kita akan melihat 40 sampai 50 tahun kemudian lahir generasi Indonesia yang tidak hanya cerdas secara intelektual tetapi juga memiliki basic spiritual yang baik. Wallahualam bisawah.

Jakarta, 07 Juni 2017

1 Comment

  1. Tulisan ini sungguh menguras air mata sy karna sudah lama sy ingin berjumpa dengan beliau namun hal itu tak pernah terwujud karna saya hanyalah seorang gadis pedalaman yang sangat jauh dari perkotaan.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*