Menulis Itu Perjuangan

Rubrik Literasi Oleh

Ismail Suardi Wekke
STAIN Sorong & Agupena Papua Barat

Sejak awal masuk Ramadhan 1438 H, saya meniatkan untuk menulis 1 artikel 1 hari. Bersama dengan kawan-kawan anggota Agupena, kami mengisi laman web Agupena sebagai media publikasi. Sampai malam kesepuluh Ramadhan, semuanya berjalan lancar. Niat yang dicanangkan di awal bulan masih terpenuhi. Hanya saja, setelah itu, mulai jenuh. Sehari setelahnyapun alpa menyelesaikan tulisan. Demikian pula sehari setelahnya, alpa yang kedua terjadi lagi. Sejauh ini, sudah dua utang artikel yang menumpuk. Rupanya perjuangan menulis terkait dengan upaya mengatasi kejenuhan itu sendiri. Perlu perjuangan ekstra sehingga tidak terjebak pada kejenuhan yang akhirnya menjadi penghanbat untuk merealisasikan target menulis.

Jika aktivitas menulis dikaitkan dengan rutinitas, maka perlu upaya yang berkesinambungan. Hanya saja, dengan kesinambungan itu perlu didampingi pula dengan aktivitas untuk menghindar dari kejenuhan yang mendera. Ketika jenuh, maka perlu untuk berhenti sejenak dan melakukan aktivitas yang lain. Hanya saja, perlu mencari waktu yang tepat untuk segera kembali dalam menekuni aktivitas menulis. Termasuk perhatian agar jangan terjebak pada kegiatan tersebut dan mulai melupakan aktivitas utama.

Maka, menulis menjadi perjuangan tersendiri. Membentuk suasana yang memungkinkan untuk menulis sampai memperkaya ide sehingga kreasi topik yang akan ditulis dapat terus dikembangkan. Tantangan yang perlu ditaklukkan juga diantaranya keterbatasan bahan bacaan sesuai dengan topik yang diinginkan. Padahal dengan membaca, akan memberikan perspektif dalam menemukan sebuah ide. Beberapa kali bertandang ke toko buku. Namun topik tentang menulis belum tersedia. Olehnya, justru pulang dengan buku yang bukan ditargetkan.

Informasi di laman web menjadi alternatif tersendiri. Namun demikian, layanan internet yang kadang tidak memungkinkan. Bukan hanya kota kecil seperti Sorong, tetapi begitu juga di kota besar. Bahkan di Jakarta sekalipun, tetap saja layanan internet terkadang tidak mendukung. Saat kendala seperti itu terjadi, maka perlu mengalihkan perhatian sehingga tidak menjadi ekspresi kemarahan. Atas alasan apapun juga, marah tetap saja bukan sesuatu yang menyenangkan. Sehingga perlu dihindari dan diminimalisir.

Sementara itu, aktivitas Ramadhan dengan tetap menjalankan tugas, berlanjut dengan buka puasa bersama. Kesemuanya tetap harus dituntaskan senyampang mesti menuntaskan target pribadi untuk menyelesaikan satu artikel perhari. Mengelola semua aktivitas tersebut menjadi seni tersendiri. Dengan dukungan kawan-kawan, semuanya bisa diselesaikan. Kembali ke hukum alam, bahwa manusia walaupun makhluk individu tetap saja perlu orang lain. Perjuangan menjadi mudah karena adanya dukungan kawan, kerabat, ataupun rekan sejawat. Mereka membantu, tetapi subyek utamanya adalah penulis itu sendiri.

Daya menulis perlu juga diasah. Menghadiri sesi-sesi diskusi yang khusus membicarakan kepenulisan. Demikian pula silaturahmi dengan penulis lainnya, ini akan memberikan kembali semangat sehingga tetap istiqomah menekuni aktivitas tulis-menulis. Ketika tulisan sudah dipublikasikan, maka itu bukanlah akhir. Perjuangan berikutnya adalah mulai kembali dari proses awal untuk mengidentifikasi topik yang akan ditulis. Dari tulisan ke tulisan itulah yang sebuah rangkaian perjuangan. ***

Lahir di Camba, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Menyelesaikan pendidikan doktor di Universiti Kebangsaan Malaysia. Sekarang ini bertugas di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sorong, Papua Barat. Sejak 2010 ditugaskan sebagai pelaksana kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong sampai 2011. Sejak 2012 sebagai Kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong untuk periode 2012-2016. Kemudian, diangkat kembali untuk periode 2016-2020. November 2016 menjadi bagian Southeast Asia Academic Mobility (SEAAM). Kini, menjadi Pengurus AGUPENA Papua Barat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Literasi

Go to Top