Home » Literasi » Mulai Belajar Menulis » 317 views

Mulai Belajar Menulis

Rubrik Literasi Oleh

Ismail Suardi Wekke
STAIN Sorong & Agupena Papua Barat

Ketika pertanyaan diajukan ke Prof. Sisilia Halimi “bagaimana mulai belajar menulis?”. Maka, jawaban beliau “satu-satunya cara menulis dengan memulai menulis. Tak ada cara lain menulis kecuali dengan menulis”. Untuk itu, sejatinya, menulis itu perlu dilakukan dengan praktik. Tidak didahului dengan teori atau sekadar keinginan semata. Setelah menulis, maka perlahan-lahan diedit dan diperbaiki sehingga bisa menjadi sebuah tulisan yang utuh. Asma Nadia berujar dalam satu workshop “kalau menulis hanya keinginan, maka itu tinggallah keinginan. Menulis harus dimulai setelah niat dipancangkan”.

Maka, usai sesi orientasi tersebut, Prof. Sisilia membagikan kami dua buku tulis. Saat itu, media blog belum tersedia dengan bebas seperti sekarang. Sehingga wadah untuk menulis tetap menggunakan buku. Dua buku tulis itu digunakan untuk menulis apa saja sehalaman. Kemudian diserahkan kepada tutor. Ketika buku yang satu berada di tutor, buku yang kedua digunakan untuk menulis, begitu sebaliknya untuk jangka waktu sepuluh bulan. Setiap pekan, buku tersebut ditukar dengan tutor. Sehingga proses menulis berlangsung dengan bimbingan tutor. Kadang-kadang, tutor memanggil mahasiswa untuk memberikan beberapa penjelasan terkait dengan teknik menulis. Sekaligus kesempatan untuk berdikusi dalam pemilihan kata, menyusun kalimat, dan juga perbaikan struktur tulisan.

Dengan latihan seperti ini, maka beberapa peserta kursus dengan pelatihan tambahan bahkan bisa menulis artikel di jurnal bereputasi. Sementara beberapa diantaranya menyelesaikan buku yang diterbitkan perusahaan ternama di luar negeri. Saya menganggap bahwa dengan menulis kemudian sesekali dilakukan perbaikan akan efektif dibanding dengan mengkaji teori-teori penulisan. Ketakutan akan rambu-rambu membuat penulis kemudian tidak bisa mengekspresikan kemampuan yang dimilikinya. Sementara ketika menulis secara bebas dan diselingi dengan penguasaan keterampilan praktis, akan membantu menyelesaikan tulisan.

Kita dapat menyaksikan bagaimana seorang bayi belajar berjalan. Kadang si bayi jatuh, tetapi kemudian berdiri lagi sampai kemudian mampu berjalan. Justru, orang dewasa yang mendampinginya belajar justru was-was dan berteriak-teriak. Demikian pula mestinya ketika memulai menulis. Terus mencoba dan mencoba sampai menyelesaikan sebuah target yang dicanangkan secara pribadi. Kalau itu berkaitan dengan tugas-tugas akademik, maka tentunya sampai memenuhi syarat untuk menyelesaikan tingkatan pendidikan tertentu.

Pada proses bayi belajar berjalan, jikalau saja si bayi menyerah, maka dia tidak pernah mampu berjalan. Hanya saja, kekhawatiran dan kecemasan tidak menyertai proses berlatih tersebut. Sementara seseorang yang belajar menulis kadang dihinggapi kekhawatiran yang berlebih sehingga kemampuan menulisnya tidak terasah sebab kecemasan yang lebih besar berbanding kemauan untuk terus belajar. Istri saya seringkali harus naik ojek ke sekolah. Akhirnya, memutuskan untuk membeli motor dan mulai belajar mengendarai motor yang dibelinya. Kali pertama belajar jatuh, setelah itu tidak pernah disentuhnya motornya. Sesekali mengulangi tuturan memori bahwa dulu saat kecil pernah naik sepeda dan juga terjatuh. Itulah sebabnya tidak pernah bisa naik sepeda. Motor akhirnya teronggok dan justru tidak dipakainya sama sekali. Ini bukan tentang waktu, karena motor itu akhirnya ganti STNK. Selama lima tahun lebih, tetap saja tidak mampu dikendarainya.

Misal ini dapat dijadikan iktibar bahwa kecemasan akan mengantar kepada ketidakmampuan. Saat lebih banyak khawatir berbanding optimisme. Kemauan untuk mulai menulis dibarengi dengan optimisme untuk terus belajar dan kemauan mencoba. Prosesnya bukan ditentukan oleh lamanya tetapi intensitas belajar. Jika diperlukan, ada pendamping yang akan menemani untuk tetap berada dalam jalan belajar yang ditempuh. Akhirnya, belajar menulis langsung akan berdaya guna jikalau dilaksanakan dalam bentuk latihan demi latihan. Bukan dengan hanya sekadar berteori. ***

Lahir di Camba, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Menyelesaikan pendidikan doktor di Universiti Kebangsaan Malaysia. Sekarang ini bertugas di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sorong, Papua Barat. Sejak 2010 ditugaskan sebagai pelaksana kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong sampai 2011. Sejak 2012 sebagai Kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong untuk periode 2012-2016. Kemudian, diangkat kembali untuk periode 2016-2020. November 2016 menjadi bagian Southeast Asia Academic Mobility (SEAAM). Kini, menjadi Pengurus AGUPENA Papua Barat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Literasi

Go to Top