Home » Opini » Bahtera Tak Berlayar » 237 views

Bahtera Tak Berlayar

Rubrik Opini Oleh

Oleh: La Ode Mu’jizat
(Agupena Kota Baubau, Sulawesi Tenggara)

Nyaris tiap hari Saya melihatnya di tempat itu. Ujung gang kompleks rumah kami. Usianya masih muda. Kerjaannya membuat bahtera mungil dari ranting kecil, daun dan rerumputan yang ia kumpulkan dari kebun seorang warga dekat situ.

Sayang, kapal buatannya itu tak pernah diselesaikannya. Sebab belum juga karya itu rampung, dedaunan, rumput dan ranting kecil yang ia jadikan sebagai bahan untuk mewujudkan imajinasinya, telah layu dan patah dimakan hari. Kapal itu “karam” sebelum berlayar ke laut lepas.

Mungkin ia memahami bahwa bahan-bahan itu tak layak tuk membuat behtera mungil miliknya. Tapi tetap saja, ketika kapal itu mulai hancur dengan sendirinya, pria itu membuat lagi yang baru. Dengan bahan seperti sebelumnya.

Sore tadi ku lihat ia rancang lagi karya barunya. Rangka kapalnya masih dihiasi ranting muda, rerumpuran serta dedaunan hijau. Di tengah rintik hujan, lelaki muda itu mencoba menyelesaikannya lagi.

Tapi tunggu, orang itu sesungguhnya tidak seperti kebanyakan insan yang sehat akal dan jiwanya. Ia sedang mengalami gangguan jiwa. Sudah beberapa tahun Saya melihatnya begitu.

Saban hari kudengar orang-orang bertutur, sebab beban hidup yang tak sanggup dipikulnya, lelaki muda itu jadi gila. Sejak itu ia terus membuat bahtera, tak kenal lelah. Walau tak satupun berhasil dirampungkannya.

Bagiku, sebenarnya sang pemuda sedang mengirim pesan untuk semua yang melihatnya. Bahtera itu adalah penanda. Bahwa ia ingin pergi jauh, lepas dari masalahnya. Dengan kapal, dirinya ingin meninggalkan tempat yang membuat hidupnya gelap, gersang dan berantakan.

Namun tak pernah lelaki muda itu lepas dari jerat luka hidupnya. Behtera itu belum pernah sekalipun berlayar. Beban yang tak mampu dipikulnya itu makin lama makin berat dan telah membuatnya teperosok ke palung terdalam kepahitan dunia. Ia bukan dirinya lagi.

Mungkin ada yang bertanya, apakah Tuhan telah meninggalkannya? Ahh… Saya jadi ingat kisah itu. Saat seorang lelaki muda curhat pada orang tua bijak. “Kakek, hidup Saya hampa, segala yang ku upayakan gagal. Kini hanya beban yang kurasakan. Dan makin lama semakin berat. Aku stress, ingin ku akhiri hidup ini. Apakah Tuhan telah meninggalkan diriku?” Keluhnya.

“Tuhan tidak meninggalkan dirimu anak muda.” Jawab sang kakek. “Tapi saat Yang Maha Kuasa ingin menemuimu dalam shaf-shaf Sholat, engkau tak muncul di sana. Ketika Sang Pencipta ingin melihatmu di majlis-majlis Dzikir, dikau tak jua datang.

Saat Sang Pemberi Rezki ingin menghampirimu dalam kumpulan anak yatim untuk kau bagi hartamu, dirimu tiada juga di sana. Jadi, bukan Allah SWT yang meninggalkanmu, tapi dirimulah yang berpaling dari-Nya.” Pungkas si orang tua bijak. ***

Tags:

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Opini

Keluargaku Surgaku

Seorang ahli kungfu sedang asyik menari di lantai dansa bersama istrinya. Ia

Sayang dia, Cinta dia

Hampir pecah tangisku menyaksikan peristiwa itu. Seorang suami mencekik, menampar dan menendang

Tegar

Oleh: La Ode Mu’jizat Perlu kekuatan hati yang berlebih ketika ujian atau
Go to Top