Home » Opini » Catatan Ayah Biasa » 294 views

Catatan Ayah Biasa

Rubrik Opini Oleh

Oleh Yanuardi Syukur

Jika ada kebaikan, maka saya berkomitmen untuk harus bersegera hadir dan mengambil tetes-tetes hikmah dan kearifan yang ada dari situ. Itulah kenapa saya senang dengan berbagai kegiatan, karena berkegiatan berarti bergiat, dan bergiat berarti berusaha. Sejak awal menikah, saya tak bosan untuk membawa anak-anak ikut dalam momen-momen yang saya lewati; menghadiri diskusi, makan-makan, atau sekedar duduk-duduk di pinggir pantai.

Dalam beberapa bulan terakhir, saya merasa senang dapat mengikutkan anak-anak pada berbagai kegiatan yang saya hadiri di Jakarta. Ketika saya diundang bawa materi di Kota Tua, saya bawa anak-anak. Ketika diundang buka puasa di rumah Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah, saya juga bawa anak-anak. Pun demikian ketika diundang pada kegiatan ILUNI UI di UI Salemba saya bawa anak-anak.

Foto bersama Dubes Australia

Terakhir, saat diundang oleh Dubes Australia Paul Grigson, saya juga bawa anak-anak dan memperkenalkan kepada Pak Paul istri dan anak-anak saya.

Dalam kata pengantar untuk buku “Hidup Damai di Negeri Multikultur”, Dubes Paul Grigson menulis, “on behalf of the Australian Embassy, Jakarta, we wish to thank all the contributors for this book, especially Yanuardi Syukur who has worked tirelessly to make this publication.”

Dalam buku yang saya inisiasi selama dua tahun tersebut, saya banyak dibantu oleh anak-anak saya secara tidak langsung. Ketika saya ada janji bertemu Prof Greg Fealy dan Prof Tim Lindsey di salah satu hotel di Makassar, saya juga bawa anak-anak untuk temani saya.

Pun ketika menulis kata pengantar untuk buku itu, saya tak lupa menulis ucapan terimakasih buat keluarga, dan anak-anak saya yang senang melihat namanya ada di buku.

Kata orang, “Ah, repot kalau bawa anak-anak.” Tapi, saya tidak berpikir begitu. Menurutku, semakin cepat anak melihat kegiatan ayahnya, semakin kenal juga ia akan dunia.

Anak-anak saya pernah tinggal di lantai 3, pernah di lantai 1. Pernah di pinggir pantai dgn masyarakat majemuk, pernah juga di pesantren yg homogen. Pernah di rumah yg agak luas, pernah juga di kosan-kosan. Pernah ke sekolah diantar kendaraan, pernah juga dan sering jalan kaki pulang pergi.

Saya orang kampung. Dibesarkan di kampung. Dan, sampai sekarang tinggal dan betah di tinggal di suasana kampung.

Saya teringat Kang Abik. Waktu perkenalan dalam forum International League of Islamic Literature di Hotel Bidakara dengan tokoh lembaga yang berpusat di Riyadh tersebut, Kang Abik mendefinisikan dirinya dengan kata, “Ana Habiburrahman, ana min qaryah.” Saya Habiburrahman, saya berasal dari kampung.

Waktu saya ketemu Kang Abik di rumahnya (waktu itu saya bawa anak ketiga: Fikri), beliau juga bercerita betapa ia lebih senang menulis dalam suasana kampung. Itulah kenapa ia memilih rumah di Kukusan, tak seberapa jauh dari tempat saya sekarang di perbatan Jakarta-Depok.

Saya sadar sih, sebagai ayah saya tidak sempurna seutuhnya. Tapi saya pekerja keras. Saya selalu teringat pesan-pesan Luqman dalam Al-Qur’an kepada anak-anaknya, “ya bunayya la tusyrik billah!” Wahai anakku, jangan sekutukan Allah. Sebagai muslim, saya percaya itu, dan saya amalkan itu. Maka, basis keimanan ditanamkan setiap hari: dari rumah.

Selama 10 tahun ini saya sering bawa anak-anak dalam berbagai kegiatan. Mereka senang karena bertemu hal-hal baru.

Tinggal di Tobelo mereka berenang di pantai belakang rumah, dan bertemu banyak jenis orang yg lalu-lalang di samping rumah atau sekedar berbelanja. Di Ternate mereka dapat teman baru, dan mulai tahu tentang perbedaan. Di Maros mereka tinggal di pesantren, menghafal Al-Qur’an dan senang ketika bisa qiyamullail dini hari di masjid. Di Depok kini mereka belajar tentang kehidupan multibudaya dan kesadaran untuk menjadi pribadi yang baik yang dimulai dari rumah.

Terkadang anak saya tidur saya ikut saya, dan saya harus menggendongnya dalam jarak yang tidak singkat. Tapi, begitulah seharusnya seorang ayah: pejuang dan tak letih untuk anak-anaknya.

Saya teringat ayahku, bagaimana ia bekerja sangat keras untuk anak-anaknya, juga ibuku yang dengan ikhlas selalu memberikan dukungan yg terbaik buat anak-anaknya.

Tahun 1993, saya teringat ibuku meneteskan air mata saat melepas anaknya yg berumur 11 tahun untuk belajar di tempat yang jauh berpulau-pulau. Sejak itu, saya bertekad, saya harus berhasil! Maka, setiap kali sedih saya selalu menguatkan diri bahwa saya harus berhasil! Ya, percuma saya merantau jika tidak jadi apa-apa, tidak jadi orang berguna, tidak jadi orang yg berbeda.

Maka, berbagai tapak pun kujalani, kulewati, dan kuterjang untuk menggapai impian dengan tak lupa berdoa kepada-Nya untuk selalu ditunjukkan jalan-jalan-Nya yang terbaik.

Sebagai ayah, saya belum betul-betul sempurna seperti teman-teman saya lainnya, tapi saya selalu berusaha untuk menjadi pribadi yang baik dan memberikan yang terbaik untuk keluarga kecilku yang sekarang terus tumbuh, insya Allah.

Robbana hablana min azwajiba wa dzurriyyatina qurrata a’yun waj’alna lilmuttaqina imama.

Dosen dan peneliti bidang Antropologi Sosial yang menulis 60 buku berbagai genre (Islam, Timur Tengah, biografi, dan motivasi, riset sosial). Beberapa bukunya dikaji sebagai tugas akhir di perguruan tinggi dan didokumentasikan di berbagai perpustakaan di Indonesia, Singapura, dan Australia. Pada tahun 2017, buku yang diinisiasinya "Hidup Damai di Negeri Multikultur" (GPU, 2017) diluncurkan di Kedubes Australia. Ia pernah diundang sebagai narasumber di Kuala Lumpur, Bangkok, beberapa stasiun televisi Indonesia dan MBC Korea. Saat ini, mahasiswa S3 Antropologi FISIP UI ini menjadi Ketua Bidang Usaha dan Jasa Penulisan/Penerbitan Agupena Pusat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Opini

Mana Pahlawanku?

Hari Pahlawan 2017 telah berlalu (10/11). Pada hari itu seluruh rakyat Indonesia,

IT dan Hasil Karya

Oleh: Fortin Sri Haryani Abad ke-21 disinyalir sebagai abad digital karena instrumentnya
Go to Top