Mengantar Anak ke Sekolah

Rubrik Opini Oleh

Oleh Yanuardi Syukur

Manusia makhluk dimensional. Maka tiap orang punya berbagai peran baik yang terlihat secara habitual maupun yang tidak terlihat secara empirik. Salah satu yang saya senangi dalam hidup adalah mengantarkan anak ke sekolah.

Yanuardi Syukur

Awalnya, sebelum menikah saya berpikir bahwa “urusan domestik” seperti memasak, mengasuh anak dan mengantar ke sekolah itu urusan ibu-ibu, sedangkan ayah bekerja di luar. Tapi, lama-lama saya pikir itu tidak betul. Urusan anak-anak adalah urusan bersama, ayah dan ibu.

Jika keluarga baik maka masyarakat pun jadi baik. Pada titik ini ada simpulan sementara bahwa anak-anak yang tidak terkontrol kasus geng motor beberapa waktu lalu tak jauh dari sini di Jagakarsa, adalah karena minimnya perhatian orangtua kepada anak-anaknya.

Salah satu kebutuhan alamiah manusia adalah kasih sayang. Apalagi bagi anak-anak di usia yang masih dini.

Jika baca berita, kita lihat banyak sekali masalah di negeri ini. Solusinya pun beragam. Tapi, salah satu solusi yang kurang diperhatikan adalah pendidikan di dalam rumah.

Kata orang, menjadi tua itu takdir tapi menjadi dewasa itu pilihan. Pun menjadi suami/ayah atau istri/ibu itu alami tapi menjalankan peran suami/ayah atau istri/ibu yang baik itu tidak mudah.

Kata istriku, anak-anak sebelum dewasa itu disayang-sayang, berbeda dengan ketika mereka sudah dewasa. Memang iya sih. Coba kita lihat anak-anak yang baru dewasa, mereka umumnya tidak mau lagi berdekat-dekat dengan orangtuanya karena hendak mencari jati diri. “Biar nggak jadi anak mama-papa,” kira-kira begitu.

Mengantarkan anak ke sekolah adalah bagian penting dari tumbuh-kembang anak. Jika anak baik, maka kita punya sedikit aset untuk membuat masa depan ini lebih baik.

Sejak TK saya rajin antar anak saya, pakai motor, bentor, atau jalan kaki. Karena percaya pentingnya kedekatan anak dan ayah maka ketika pindah domisili saya selalu mempertimbangkan sekolah anak-anak dulu, baru rumah.

“Sekolah ini kecil, tapi kita mencari berkahnya,” begitu kata ibu guru sekolah Muhammadiyah saat saya survei lokasi yang tak seberapa jauh dari Pesantren Al-Hikam Depok dan Kampus UI. Saat itu, saya menyisir cari sekolah anak-anak mulai dari Lenteng Agung, Jalan M. Kahfi, hingga ke Kukusan.

Ketika mengantar anak, saya sering mendengarkan mereka bercerita tentang temannya, sekolahnya, dan permainannya.

“Temanku ada yang punya spinner tapi tidak nyala,” kata Fikri anak ketiga. Kebetulan beberapa waktu lalu sepulang dari rumah Dubes Australia, saya belikan Fikri spinner di Cikini.

Dua kakaknya di perjalanan bertanya, “Abi, apa sih gunanya Instagram itu?”

“Instagram itu buat pertemanan, mungkin bisa silaturahmi lewat komen-komen di situ,” jawab saya.

“Trus caranya gimana?” tanya Afifah.

“Biasanya sih biar orang lain tahu, kita harus tulis tombol “@” dulu,” jawab saya.

“Kalau gitu nanti kalau ada HP saya mau bikin IG yang namanya Anisah-Afifah,” kata Anisah lagi.

Mungkin dialog-dialog seperti ini kelihatannya sederhana, atau bahkan tidak begitu penting bagi orang tertentu.
Tapi saya merasa bahagia, dan kebahagiaan di pagi hari itu akan berimplikasi positif bagi berbagai aktivitas hingga malam ini. Ayo, ayah-ayah: antar anak-anak ke sekolah. ***

Dosen dan peneliti bidang Antropologi Sosial yang menulis 60 buku berbagai genre (Islam, Timur Tengah, biografi, dan motivasi, riset sosial). Beberapa bukunya dikaji sebagai tugas akhir di perguruan tinggi dan didokumentasikan di berbagai perpustakaan di Indonesia, Singapura, dan Australia. Pada tahun 2017, buku yang diinisiasinya "Hidup Damai di Negeri Multikultur" (GPU, 2017) diluncurkan di Kedubes Australia. Ia pernah diundang sebagai narasumber di Kuala Lumpur, Bangkok, beberapa stasiun televisi Indonesia dan MBC Korea. Saat ini, mahasiswa S3 Antropologi FISIP UI ini menjadi Ketua Bidang Usaha dan Jasa Penulisan/Penerbitan Agupena Pusat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Opini

Mana Pahlawanku?

Hari Pahlawan 2017 telah berlalu (10/11). Pada hari itu seluruh rakyat Indonesia,
Go to Top