Menulis itu Susah (Bagian II)

Rubrik Literasi Oleh

Ismail Suardi Wekke
STAIN Sorong & AGUPENA Papua Barat

Seiring dengan bertambahnya puasa Ramadhan, bertambah pulalah kegiatan. Tidak saja urusan berbuka tetapi juga walau masih jauh, idul fithri. Semua aktivitas itu ternyata tidak menyumbang bagi lahirnya ide-ide untuk terus menulis.

Akhirnya, seharian penuh kemarin itu habis tanpa sedikitpun ide tentang tulisan. Lalu malam hari godaan diri sendiri untuk bermalas-malasan. Maka, sesungguhnya menjaga konsistensi menulis sama pentingnya dengan menemukan ide itu sendiri.

Sampai di situ, saya berkesimpulan bahwa menulis itu susah. Perlu usaha untuk menulis. Walaupun perangkat tulis sudah lengkap, kalau ide dan kesinambungan tidak bisa terjaga, maka tidak akan pernah lahir sebuah tulisan yang khas. Menemukan ide itulah yang menjadi kekhasan setiap penulis. Bahkan juga merupakan kekayaan intelektual individu. Dengan alat yang sama, kesempatan yang sama, dan semua fasilitas publikasi yang juga sama. Tetap saja setiap individu memiliki kemampuan berbeda untuk menemukan ide-ide tulisan.

Saat saya mengetik ini, sudah tiga alpa saya miliki atas janji yang saya kemukakan sendiri. Maka, jawabnya mungkin saja, saya perlu beruzlah untuk kemudian bisa menemukan ide. Dalam suasana Ramadhan ini, saya teringat bahwa Rasulullah SAW pertama kali menerima wahyu ketika beruzlah ke Gua Hira. Mungkin salah satu proses menemukan ide ketika berada di tempat yang sunyi. Begitu juga dengan Buya Hamka, menuliskan tafsir Al-Azhar saat dipenjara. Termasuk Prof. Quraish Shihab menulis tafsir Al-Misbah saat menjabat Duta Besar di Mesir.

Berhenti sejenak dari hiruk pikuk aktivitas rutin, memungkinkan penulis bisa menjaga peluang untuk terus menulis. Sebuah tantangan tersendiri jikalau dalam semua dinamika aktivitas untuk tetap juga menjaga konsistensi menulis. Hanya penulis yang mahir dan terlatih yang bisa menuntaskan keduanya.

Atau mungkin saja kita perlu sejenak berhenti dan melihat lembaran sejarah. Orang-orang yang menulis adalah juga orang yang menjaga perilaku. Saat menulis itulah merupakan kontemplasi untuk mendekatkan diri kepada Allah. Melalui tulisan, ada komunikasi personal seorang Hamba dengan Tuhan. Sehingga hasil dialog sepenuhnua tercurahkan ke media tulisan.

Suatu waktu Imam Syafii mengadu kepada gurunya tentang hafalan. Maka, petunjuk Sang Guru adalah ilmu itu cahaya Allah dan hanya bisa dihidayahkan kepada orang yang menjauhi maksiat. Dengan demikian, Sang Pemilik semesta alamlah yang memiliki kuasa akan ilmu termasuk menulis. Salah satu bayangan saya adalah untuk menulis perlu kedekatan dengan Tuhan dengan senantiasa menjauhi maksiat. Senada dengan ini, Prof. B.J. Habibie memesankan bahwa saat mulai menulis semua diawali dengan basmalah.

Dengan itu semua, semua halangan dan hambatan akan disingkirkan sehingga menulis dapat dilakukan dengan mudah. Untuk dua hal yang berhubungan dengan ide dan kesinambungan, maka hanya bisa didapatkan dengan kedekatan kepada Sang Pencipta. Saat kuasa-Nya terlimpah, apapun yang awalnya susah dapat saja menjadi mudah. ***

Lahir di Camba, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Menyelesaikan pendidikan doktor di Universiti Kebangsaan Malaysia. Sekarang ini bertugas di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sorong, Papua Barat. Sejak 2010 ditugaskan sebagai pelaksana kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong sampai 2011. Sejak 2012 sebagai Kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong untuk periode 2012-2016. Kemudian, diangkat kembali untuk periode 2016-2020. November 2016 menjadi bagian Southeast Asia Academic Mobility (SEAAM). Kini, menjadi Pengurus AGUPENA Papua Barat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Literasi

Go to Top