Pantaskah Aku Menyampaikan Materi TAUHID

Rubrik Opini Oleh

Oleh: Ainun Zaujah

“Malik Bin Dinar rahimahullah berkata: ”Para pemuja dunia telah keluar dari dunia, sementara mereka belum sempat merasakan sesuatu yang paling nikmat di dalamnya. “orang-orang bertanya,”apakah hal itu wahai Abu Yahya?”, Beliau menjawab, “Ma’rifatullah ‘Azza Wa Jalla”

(Dikutip dari Sittu Durar Min Ashul Al-Atsar (28) karya Syaikh Abdul Malik Ramadhani)
***

Tauhid adalah tema pembahasan yang sangat agung.Kehadirannya dalam kehidupan manusia ibarat cahaya di atas cahaya.Puncak dari segala keagungan yang nilainya lebih mahal dari dunia dan seluruh isinya.Kita semua berjuang dengan sepenuh jiwa untuk meletakkannya di dalam hati.Lewat pencarian dan perenungan yang mendalam untuk mengenal Allah SWT.

Betapa mulianya pembahasan tema ini, membuat saya harus menyajikan materi ini dengan kreatif tanpa menghilangkan esensi pentingnya.Saya mencoba merumuskan sebuah materi yang sesuai dengan bahasa siswa SMU.Karena kali ini, saya mendapat amanah untuk menyampaikan materi Tauhid pada kegiatan pesantren kilat Ramadhan siswa-siswi SMUN 1 Kota Baubau, hari Rabu, 31 Mei 2017.

Kesan pertama yang hadir di benak adalah materi TAUHID ini sangat berat untuk dipresentasikan, karena saya jadi mengukur-ngukur diri.Apakah saya layak menyampaikan materi ini.Materi yang dampaknya sangat besar bagi kehidupan seorang muslim. Dengan bismillah, saya niatkan semoga ilmu ini bisa berkah bagi orang lain dan berdampak lebih dahsyat untuk diri sendiri.

Saya ingin menyampaikan materi TAUHID dengan cara memasuki dunia siswa sebelum mengajak mereka ke dunia Islam yang saya pahami. Dengan izin Allah, saya dapat inspirasi.Memulai materi dgn pertanyaan “Ada yang tahu film Naruto? Pernah nonton?Lalu saya akan menyampaikan tentang profil anak bernama naruto. Kekuatan tekadnya, kemampuannya melihat masa depan di tengah kondisi yang selalu dihina dan dipojokkan. Naruto sangat mengenal dirinya, tahu kapasitasnya, tahu kekuatannya, tahu harapan negeri konoha padanya, semua berharap naruto akan jadi penyelamat negeri konoha untuk hidup damai bebas dari peperangan dan permusuhan.Ketika kita mengenal siapa diri kita (kekuatan, kelemahan, peluang yang bisa kita raih di masa depan, ancaman yg harus kita hindari untuk sukses meraih impian), maka hal tersebut akan membimbing kita untuk mengenal Robb. Dari kisah ini, lalu saya akan antarkan menuju Islam. Saya akan bawa pada konsep Tauhid.Memasuki dunia siswa adalah jembatan penghubung yg akan membuat siswa nyaman dan mau membuka pendengaran, penglihatan dan hatinya untuk mendengarkan nasehat kita.

Dalam menyampaikan materi TAUHID, Saya mengambil referensi dari materi yang disampaikan oleh ustad Harry Santosa (penulis buku fitrah based education).Membaca materi tersebut membuka wawasan keislaman dan saya merasa  tercerahkan untuk membahas materi tauhid secara bertahap dan sesuai dengan dunia siswa SMU.Dalam tulisan tersebut, disebutkan 3 Tauhid (fitrah keimanan) yang harus kita tumbuhkan:

  1. Tauhid Rububiyatullah ditumbuhkan sejak anak berusia 0-7 tahun
  2. Tauhid Mulkiyatullah ditumbuhkan sejak anak berusia 10 tahun
  3. Tauhid Uluhiyatullah ditumbuhkan sejak anak berusia 11-14 tahun

Tauhid Rububiyah  yaitu Menjadikan Allah sebagai satu-satunya Robb (pencipta, pemberi rezeki, pemelihara, pemilik alam semesta). Tauhid Mulkiyatullah yaitu menjadikan Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang harus ditaati dan sebagai pembuat hukum.Tauhid Uluhiyatullah yaitu menjadikan Allah sebagai satu-satunya Ilah yang dicintai, ditakuti dan diharapkan lebih dari apapun di muka bumi ini.Tauhid uluhiyatullah ini menghadirkan 3 (tiga) rasa di dalam hati (CTH=CINTA, TAKUT dan HARAP).

Tauhid yang tumbuh di dasar hati dengan baik, akan melahirkan generasi aqil baligh yaitu ketika seorang anak memasuki usia 15 tahun. Usia emas dimana seorang anak siap memikul beban syariah dan menjalankan peran terbaik sebagai khalifah lewat bakat yang spesifik.Inilah usia-usia para pemuda untuk produktif beramal sholeh, sebagaimana kisah para pemuda di masa keemasan Islam, mereka berkarya di usia muda.Muhammad al fatih, mushab bin umair, ali bin abi tholib, umar bin abdul aziz. Sebuah konsep pendidikan aqil baligh yang diperoleh dari rujukan alqur’an, sunnahdan siroh nabawiah. Materi ini sangat sesuai dengan dunia siswa SMU yaitu usia dimana mereka sudah harus mengenal diri, mengenal Tuhannya, agar bisa produktif dalam amal sholeh. Semoga materi Tauhid yang saya sampaikan ini menjadi ilmu yang berkah untuk diriku dan orang lain baik di dunia maupun di akhirat nanti. ***

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Opini

Keluargaku Surgaku

Seorang ahli kungfu sedang asyik menari di lantai dansa bersama istrinya. Ia

Sayang dia, Cinta dia

Hampir pecah tangisku menyaksikan peristiwa itu. Seorang suami mencekik, menampar dan menendang

Tegar

Oleh: La Ode Mu’jizat Perlu kekuatan hati yang berlebih ketika ujian atau
Go to Top