PENANAMAN ETIKA DAN PERILAKU DALAM MEMBENTUK KEPRIBADIAN ANAK

Rubrik Pendidikan Oleh

Oleh: WASHADI

Etika dan Perilaku Anak Saat Ini
Tidak dapat dimungkiri bahwa, perilaku anak-anak sekarang memang berbeda dengan anak-anak zaman dahulu. Dahulu anak sangat menghargai orang tua, sehingga selalu patuh dan menurut apa pun perintah orang tua. Mereka begitu menjunjung tinggi etika dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Saat ini kondisi telah berubah. Anak-anak telah terbawa arus zaman. Memang tidak semua anak, namun secara umum dapat digambarkan demikian. Jika kita perhatikan, anak-anak sekarang lebih bersikap semaunya sendiri. Mereka tidak lagi mengindahkan etika dan perilaku, terutama dalam pergaulan di antara mereka.

Dalam keseharian, etika dan perilaku anak sering tidak terkontrol. Mereka terbiasa bersikap dan berbicara tidak baik, sekalipun kepada orang yang lebih tua. Mereka memperlakukan dan menganggap orang tua, guru, bahkan tokoh masyarakat seperti teman sebayanya. Tidak jarang ketika sedang bercanda di antara mereka, mereka saling mengolok-olok nama orang tua. Tingkah laku tidak sopan sering mereka perlihatkan, seperti ketika berjalan di hadapan orang tua, mereka tidak menunjukkan sikap menghormat. Pun dalam ucapan dan sikap mereka pada saat diajak berbicara dengan orang tua, mereka sering menggunakan bahasa yang tidak santun dan sikap yang tidak terpuji. Padahal, tutur kata dan sikap anak pada saat diajak berbicara mencerminkan kepribadian dan merupakan gambaran jiwanya.

Disadari atau tidak, banyak hal yang berpotensi menjadi penyebab merosotnya etika dan perilaku anak pada saat ini. Pola berbicara anak yang sesukanya, ceplas-ceplos, berperangai seenaknya, pemikiran berubah-ubah, sikap dan tingkah laku tidak terkontrol, gaya berbahasa tidak tepat dan sebagainya yang terjadi pada anak-anak sesungguhnya dipengaruhi oleh banyak hal. Salah satunya adalah karena tampilan dan tontonan di media-media daring yang saat ini memang sedang digandrungi mereka. Lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan pergaulan pun sangat kuat pengaruhnya dalam membentuk kepribadian anak.

Cara Menanamkan Etika dan Perilaku Anak
Banyak cara yang dapat dilakukan untuk menanamkan etika dan perilaku anak. Yang paling utama dan fundamental adalah dari keluarga. Mengapa? Karena keluarga merupakan lingkungan pertama yang menanamkan pendidikan dasar bagi pembentukan karakter anak, sehingga dalam perkembangannya anak dapat mengontrol etika dan perilaku diri sendiri dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan agama yang pertama kali diajarkan kepada anak juga berasal dari keluarga. Selain keluarga, yang tak kalah penting adalah lingkungan sekolah, dengan guru-guru yang berada di dalamnya. Hal ini dikarenakan sekolah merupakan rumah kedua bagi anak-anak. Sekolah juga merupakan landasan yang kuat sebagai pijakan dominan yang sering dijadikan ujung tombak atau tolak ukur keberhasilan pendidikan anak.

Selanjutnya, yang tak dapat diabaikan adalah lingkungan pergaulan. Sebaik dan seketat apa pun pendidikan di lingkungan keluarga dan sekolah, jika tak sejalan dengan lingkungan pergaulan di mana anak bersosialisasi dan berinteraksi dengan teman-temannya, maka tak akan banyak berpengaruh. Etika dan perilaku anak akan rusak oleh lingkungan pergaulan yang tidak baik. Penilaian secara umum bahwa, apabila anak belajar di lingkungan yang baik, maka akan membentuk kepribadian yang baik pula. Sebaliknya, apabila anak belajar di lingkungan yang tidak baik, maka akan membentuk kepribadian yang tidak baik pula. Oleh karena itu, penataan lingkungan keluarga dan sekolah, termasuk lingkungan pergaulan, sangat dominan menjiwai dan mencerminkan kepribadian seorang anak.

Tugas Orang Tua dan Guru
Disadari atau tidak, anak-anak sekarang kurang mendapatkan pendidikan moral atau budi pekerti. Dengan kurangnya pendidikan tersebut, maka sesungguhnya tidak ada alasan tepat yang dapat dijadikan sebagai tolak ukur. Tugas berat bagi orang tua dan guru untuk melahirkan generasi-generasi dengan kepribadian baik. Dibutuhkan kerja sama dan perjuangan yang baik dan terprogram antara orang tua, guru dan anak itu sendiri. Orang tua harus melakukan pendekatan dan komunikasi yang baik dengan bahasa yang santun kepada anak. Orang tua harus dapat menempatkan diri, bagaimana bersikap kepada anak, dan harus dapat berperan menjadi teman sebagai tempat anak sharing manceritakan masalah-masalahnya.

Guru sebagai pendidik di sekolah harus menjadi figur dan contoh yang baik agar anak berkepribadian baik pula dan berprestasi. Guru harus memberikan kesempatan kepada anak untuk mengutarakan apa yang menjadi keinginan dan harapannya demi mewujudkan cita-citanya. Anak harus sering diajak berbicara dari hati ke hati, menumbuhkan jiwa saling menghormati, menghargai dan percaya pada kemampuan diri sendiri. Guru juga harus mengajarkan kepada anak untuk selalu bertaqwa kepada Allah swt. agar mereka tidak sombong dan takabur jika berhasil nanti.

Selain tugas orang tua dan guru, anak pun bertugas menjaga etika dan perilaku sendiri. Anak harus selalu membuka diri kepada orang tua dan guru. Anak tidak dibenarkan bersikap masa bodoh, apalagi tidak patuh terhadap orang tua dan gurunya. Jangan sampai anak lebih dominan terpengaruh pergaulan dengan teman-temannya, tanpa menghiraukan arahan dan bimbingan orang tua dan gurunya. Jika anak terjerumus ke dalam pergaulan yang salah, maka pendidikan dari orang tua dan guru akan sia-sia.

Apabila terjalin kerja sama yang baik antarunsur-unsur sebagaimana dijelaskan di atas –orang tua, guru dan teman-teman pergaulan, termasuk diri anak sendiri– maka anak akan membuka hati dan kesadaran untuk memperbaiki dan meningkatkan etika dan perilaku serta tutur kata dan bahasa yang santun. Anak akan melakukan hal-hal yang baik demi peningkatan diri yang positif dalam menjalani kehidupan sekarang dan masa depan. Dengan demikian, akan tercipta masyarakat yang berhasil dalam membentuk pribadi anak-anak Islami yang selalu mengedepankan akhlakul karimah.***

Washadi, S.Pd, MM.Pd, seorang Guru dan Penulis, tinggal di Tangerang Selatan, Banten. Tulisan-tulisannya dimuat di berbagai media massa, antologi puisi dan antologi cerpen. Aktif berkegiatan sastra di Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Tangsel. Saat ini menjabat sebagai Sekretaris Dewan Kesenian Tangerang Selatan (DKTS) merangkap Komite Sastra, dan Pengurus Asosiasi Guru Penulis Indonesia (Agupena) Wilayah Banten. Kini menjadi Ketua Bidang Humas dan Kerjasama Antar Lembaga AGUPENA.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Pendidikan

Go to Top