MENULIS DENGAN TERPAKSA

Rubrik Literasi Oleh

Ismail Suardi Wekke
STAIN Sorong & Agupena Papua Barat

Pertama kali menulis, itu tak lebih karena urusan pekerjaan rumah. Ketika itu, mata pelajaran bahasa Indonesia di bangku sekolah disebut mengarang. Hanya saja, semuanya dilakukan karena kewajiban. Apalagi kalau tidak mengerjakan pekerjaan rumah, melihat rumah guru saja tidak berani, apalai datang ke sekolah. Begitu juga saat mulai menapaki bangku sekolah menengah. Tetap saja karena tak lebih urusan tugas pelajaran sekolah.

Begitu duduk di jenjang menengah atas, mulai mengenal majalah Santri yang sementara ini tidak terbit. Redaktur majalah mengajak untuk belajar menulis. Ikutlah saya bersama dengan beberapa kawan secara rutin mendengarkan khutbah tentang penulisan. Tetap saja, belum mampu menulis. Akhirnya, saat kuliah dengan tugas-tugas yang selalu dilengkapi dengan makalah. Maka, menulis menjadi kewajiban. Ketika itu ditulis dengan paksaan. Kalau bukan karena tugas tidak  pernah menulis. Sementara setelah kewajiban ditunaikan, tidak ada lagi upaya untuk menulis.

Semuanya hanya karena terpaksa saja. Begitu juga ketika kuliah di jenjang berikutnya. Menulis semata-mata karena keterpaksaan belaka. Tidak ada unsur inisiatif dalam prosesnya. Sampai suatu saat karena kecewa dengan keputusan orang lain. Ada kemarahan yang memuncak, namun saya ingin mengalihkan energi kemarahan itu menjadi sebuah tulisan. Maka, saya target setiap bulan harus ada artikel jurnal yang saya selesaikan. Sepanjang enam bulan, kemarahan itu berbuah produktif.

Setelah saya bisa memaafkan keputusan itu, justru saya kemudian memiliki energi dan cara tersendiri untuk tetap menulis. Maka, menulis berubah menjadi hobbi. Termasuk adanya kesempatan dari kawan dan kolega untuk menulis bersama. Akhirnya, menulis menjadi rutinitas. Melalui menulis pula mendapatkan beberapa kesempatan untuk berkolaborasi dengan kolega di perguruan tinggi lain.

Di sisi lain, beberapa profesi di tanah air harus menyelesaikan sebuah tulisan untuk naik pangkat, diataranya guru, dosen, dan pustakawan. Untuk kenaikan pangkat itulah harus melakukan publikasi. Di tahap awal, perlu pemaksaan seperti itu. Namun, bagi yang sudah mencapai pangkat tertinggi sudah tidak perlu dipaksa karena mereka sudah terbiasa menulis. Kurang lebih sama dengan murid-murid sekolah dasar. Mereka tetap harus dibiasakan walau kadnag dengan sedikit paksaan melalui tugas. Tetapi seorang sarjana yang sudah menyelesaikan pendidikan tingkat tinggi, tidak perlu lagi dipaksa. Karena mereka sudah menjadi siswa yang paripurna. Bahkan pernah menyandang status mahasiswa.

Olehnya, menulis perlu dimulai dengan paksaan tetapi tidak bisa menjadi satu-satunya teknik untuk menumbuhkan kebiasaan menulis. Pada tahap lanjutan perlu digunakan alternatif teknik lain untuk menstimulasi kemauan untuk menulis. Hanya saja, latihan dan latihan diperlukan secara berkesinambungan untuk sampai pada kemahiran menulis. Termasuk kemauan untuk belajar secara otodidak.

Menulis dapat ditansformasi menjadi sebuah kebutuhan. Jikalau ini dapat dilakukan, tanpa paksaan sekalipun kebiasaan menulis dapat diwujudkan. Di samping itu, komunitas menulis perlu ditemukan. Sehingga ada kolega yang saling membantu dan membuka kesempatan untuk menulis.

Hanya saja, masing-masing orang memerlukan waktu yang berbeda. Proses menulis melalui tahapanpun juga berbeda. Namun, instumen untuk mendukung proses menulis juga sudah tersedia dalam pelbagai bentuk. Bahkan dengan media social sekalipun bisa dijadikan sarana untuk menumbuhkembangkan kesempatan untuk menulis. Maka, jikalau semuanya didayagunakan, menulis tidak akan lagi menjadi sebuah paksaan tetapi justru karena kesadaran individual. ***

Lahir di Camba, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Menyelesaikan pendidikan doktor di Universiti Kebangsaan Malaysia. Sekarang ini bertugas di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sorong, Papua Barat. Sejak 2010 ditugaskan sebagai pelaksana kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong sampai 2011. Sejak 2012 sebagai Kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong untuk periode 2012-2016. Kemudian, diangkat kembali untuk periode 2016-2020. November 2016 menjadi bagian Southeast Asia Academic Mobility (SEAAM). Kini, menjadi Pengurus AGUPENA Papua Barat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Literasi

Go to Top