MENULIS SEBAGAI DIALOG DENGAN SANG PENCIPTA

Rubrik Literasi Oleh

Ismail Suardi Wekke
STAIN Sorong & Agupena Papua Barat

Bentangan ayat-ayat Tuhan dalam bentuk semesta merupakan kesempatan untuk menyelami kemahabesaran Ilahi. Sementara kitab suci hanya menuliskan dalam bentuk 30 juz saja. Dengan demikian, masih terlalu banyak firman Tuhan dalam bentuk kauniyah yang tidak tertuliskan. Untuk itu, melalui wadah menulis sesungguhnya terjadi komunikasi personal antara Tuhan dengan penulis. Hasil dialog itu kemudian dapat diabadikan melalui tulisan.

Pada posisi seperti inilah seorang penulis sesungguhnya juga dapat dikategorikan sebagai pewaris pesan-pesan kenabian, kalaupun tidak bis amenjadi nabi bagi dirinya sendirinya. Karena dengan menulis akan memberikan pemutakhiran informasi yang sesungguhnya secara nilai dan etika sudah ada untuk disesuaikan dengan kondisi mutakhir.

Ada refleksi personal setiap individu ketika melakukan aktivitas menulis. Dalam kesempatan tersebut, ide yang tingkatannya sangat rendah berbanding wahyu, jika diformulasi secara sungguh-sungguh dapat menunjukkan jalan menuju kebenaran. Dengan demikian, menulis dapat saja dipandang sebagai sebuah aktivitas untuk menghambakan diri kepada Yang Kuasa. Sehingga tulisan, sejatinya adalah bagian dari kebenaran itu sendiri. Tulisan tidak dapat dimanipulasi apalagi hanya sekadar bentuk lain dari pencurian. Maka, tidak ada tempatnya seorang penulis untuk melakukan plagiat. Dimana kebenaran tidak pernah diperoleh melalui jalan yang salah.

Karena menulis adalah keterampilan dasar, maka setiap orang dapat saja turut serta dalam memikul tanggung jawab ini. Dengan menulis, akan memberikan kemanfaatan tidak saja bagi diri sendiri, tetapi secara luas akan menjadi alat yang mampu menggerakkan. Sebagaimana Buya Hamka melakukannya, refleksi pemikirannya tertuang dalam bentuk tulisan sehingga bisa dinikmati walau kita secara fisik tidak bersama lagi. Demikian pula khazanah pemikiran Islam bisa terbentuk sampai sekarang karena peran serta ribuan bahkan jutaan orang. Mulai dari pengumpulan Alquran dalam satu mushaf sampai kemudian terbitnya kitab syarah untuk menjelaskan pendapat hukum para ulama.

Tidak saja menulis dalam bentuk formal, bahkan menulis surat sekalipun sudah menjadi kesempatan untuk menyebarluaskan gagasan. RA Kartini tidak pernah meniatkan surat-suratnya dijadikan buku. Beliau hanya mengirim surat kepada sahabatnya secara rutin. Namun, gagasan yang dituangkan dalam surat tersebut pada akhirnya menjadi bagian untuk memperkaya betapa perempuan pada masa itu sesungguhnya sudah mulai memikirkan emansipasi. Walau masih bernetuk surat, tetapi kemauan untuk mengekspresikan pendapat kemudian dapat terbaca pada generasi setelahnya.

Begitu pula dengan Ahmad Wahib, secara rutin melaksanakan diskusi secara terbatas bersama kawan-kawannya. Kemudian catatan harian yang ditulisnya akhirnya terbit menjadi sebuah buku. Kegelisahan yang dialami dan proses diskusi kemudian dituangkan menjadi catatan harian, menjadi sebuah sumber informasi untuk dijadikan penyemangat bagi mahasiswa. Tidak itu saja, bahkan menjadi rujukan penting untuk memaknai sebuah perjalanan bahwa semasa mahasiswa merupakan kesempatan emas dalam melakukan proses pencarian pengetahuan.

Keduanya, baik RA Kartini maupun Ahmad wahib tidak menulis untuk sebuah buku. Tetapi dengan rutin menulis, maka akhirnya dapat dijadikan sebagai buku. Demikian pula Nurcholish Madjid, seusasi shalat jumat duduk dan berdiskusi dengan jamaah. Hasil diskusi tersebut kemudian dijadikan kompilasi bab demi bab. Ini juga menunjukkan bahwa proses penulisan buku bisa saja dimulai tidak dengan mulai menulis untuk sebuah buku. Tetapi bisa saja, buku dilahirkan dari beragama aktivitas. Begitu juga dengan para pejabat atau pengambil kebijakan. Mereka senantiasa mendialogkan gagasan yang dimiliki melalui pidato atau sambutan, bahkan dalam rapat. Ketika aktivitas tersebut diabadikan dalam bentuk tulisan, maka akan menjangkau lebih banyak lagi orang.

Ketika menulis dijadikan rutinitas dan menjadi aktvitas pribadi, ini bisa saja mengantar kepada hadirnya buku yang bisa dinikmati khalayak secara luas. Olehnya, proses menulis tidaklah tunggal. Masing-masing individu memiliki cara yang unik yang bisa saja tidak sama dengan orang lain. Atau memungkinkan juga untuk sama dengan apa yang sudah dilakukan orang lain. Namun, semua proses menulis bisa jadi merupakan ritual untuk menemui Sang Pencipta. Saat menulis itulah sebuah usaha untuk berdialog dengan Tuhan sebagai usaha menemukan kebenaran. ***

Lahir di Camba, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Menyelesaikan pendidikan doktor di Universiti Kebangsaan Malaysia. Sekarang ini bertugas di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sorong, Papua Barat. Sejak 2010 ditugaskan sebagai pelaksana kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong sampai 2011. Sejak 2012 sebagai Kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong untuk periode 2012-2016. Kemudian, diangkat kembali untuk periode 2016-2020. November 2016 menjadi bagian Southeast Asia Academic Mobility (SEAAM). Kini, menjadi Pengurus AGUPENA Papua Barat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Literasi

Go to Top