Home » Literasi » MEREDUKSI PLAGIAT » 343 views

MEREDUKSI PLAGIAT

Rubrik Literasi Oleh

Ismail Suardi Wekke
STAIN Sorong & Agupena Papua Barat

Kesadaran akan sebuah hak kekayaan intelektual diperlukan bukan saja di dunia akademik. Tetapi dalam soal sekecil apapun itu, termasuk di media sosial sekalipun. Ketika itu bukan karya intelektual kita, maka perlu dinyatakan sejak awal sumber yang bisa dirujuk. Walau persoalan plagiat sesungguhnya tidak bisa digeneralisir, tetapi pada karya-karya yang berhubungan dengan aktivitas akademik, tetap saja diperlukan kejujuran. Maka pondasi dari semuanya adalah kemauan dan kemampuan untuk jujur.

Selanjutnya, soal informasi atau fakta. Secara teknis, jikalau itu bersumber dari orang lain atau referensi, maka perlu dinyatakan sumbernya. Kecuali kalau fakta yang disampaikan itu adalah hasil olah data penulis sendiri, maka tentunya tidak perlu ada persantunan sama sekali. Secara kaku dalam tradisi akademik bahkan perlu dinyatakan dalam bab khusus atau subjudul tertentu penjelasan tentang metode pengumpulan data dan keterangan teknis lainnya berhubungan dengan pemerolehan data.

Sementara dalam tulisan yang tidak formal tetap saja diperlukan keterangan sumber-sumber informasi yang diuraikan dalam tulisan. Tipsnya adalah dengan tidak mengakui karya orang lain sebagai milik pribadi. Sekalipun itu adalah berupa ide yang mengandung data atau fakta. Termasuk pula sebuah istilah yang mengandung pengertian tertentu. Begitu juga dengan sebuah karya seni yang sudah dipentaskan seperti puisi dan drama, lukisan, dan desain arsitektur. Semuanya memiliki hak cipta masing-masing. Bahkan bisa saja sebuah istilah yang dipidatokan oleh seseorang, sejauh bisa diverifikasi dan dibuktikan bahwa itu bersumber dari ucapan individual.

Ini bisa diwujudkan jika sejak awal dalam berkarya, kita mampu untuk mengapresiasi karya orang lain. Penghargaan terhadap apa yang dihasilkan orang lain tidaklah menunjukkan kelemahan dan kekurangan kita. Justru dengan mau memperlakukan secara layak apa yang sudah dihasilkan orang lain itulah menunjukkan kemampuan kita sebagai seorang yang mengerti adat dan tata krama akademik. Untuk itu, sejak awal perlu dilatih kemampuan dan kemauan untuk berupaya menghargai apa yang sudah dihasilkan orang lain. Saat kita meneruskan apa yang sudah dicapai orang lain, bukan berarti kita jatuh pada lembah kehinaan. Justru itu adalah capaian yang mulia. Dimana kita meneruskan apa yang sudah dilakukan orang lain dengan melakukan modifikasi, penambahan, atau justru meneruskan pekerjaan yang sudah diselesaikan sebelumnya.

Tidak saja terhadap karya orang lain, bahkan karya diri sendiri sekalipun tetap saja perlu diberikan catatan rujukan. Jikalau sebuah karya sudah memiliki ISSN atau ISBN, maka karya tersebut sudah menjadi milik public. Walaupun hak kepengarangannya tetap berada di penulis. Tetapi tidak bisa diubah dan diterbitkan kembali walau dengan nama penulis yang sama. Karya tersebut sudah mendapatkan registrasi berupa ISSN atau ISBN sehingga tidak bisa digunakan kecuali dirujuk seperlunya.

Untuk mewujudkan itu, maka diperlukan juga kreatifitas dan inovasi. Di tahap awal, bisa saja proses pelatihan seperti di jurusan pendidikan fisika, praktikum dan pelaksanaan laboratorium mengacu kepada temuan-temuan ilmuwan sebelumnya. Hanya saja, dengan latihan tersebut akan memperkaya perspektif dan cakrawala peserta didik. Pada tahapan selanjutnya, peserta didik perlu mengembangkan kemampuan kreatif sehingga bisa menemukan sebuah kesimpulan dari rangkaian simulasi yang dilaksanakan. Termasuk diperlukan iklim untuk senantiasa berusaha melakukan inovasi. Hanya dengan inovasi akan ada perbaikan dan penyempurnaan terhadap karya yang sudah ada.

Sebuah karya, terutama dalam ilmu eksakta tidak akan pernah berdiri sendiri. Ada beberapa bahkan ribuan karya yang sudah dihasilkan sebelumnya. Dengan kemampuan merangkai dan menyinergikan apa yang sudah tersedia merupakan keterampilan tersendiri. Sehingga dengan hadirnya rangkaian tersebut merupakan sebuah temuan yang justru dianggap sebagai sesuatu yang baru. Tetapi ini bukan merupakan tindakan dalam kategori plagiat.

Hal lain yang perlu diperhatikan bahwa tidak ada karya yang lahir secara tiba-tiba dan dalam jangka waktu yang cepat. Penemuan LED biru di Nagoya University, Jepang memerlukan waktu sepanjang 20 tahun. Riset ini didukung oleh mahasiswa dan rekan-rekan dosen. Pada akhirnya, memperoleh pengakuan berupa hadiah nobel. Untuk itu, keaslian sebuah karya bukan karena sama sekali baru. LED sebelumnya sudah ada dalam dua warna yang lain. Hanya saja dengan penambahan warna biru, lebih hemat dan lebih awet. Dengan demikian, penemuan LED biru bukannya berdiri sendiri. Semuanya sudah dimulai pada tahun-tahun sebelumnya. Termasuk sumbangsih dari bidang ilmu lain tidak terhitung.

Dengan demikian, mengeliminasi sama sekali tindakan plagiat tidak dapat dilakukan jikalau tidak disertai dengan latihan dan kesepahaman. Sejak awal, pada tingkatan pendidikan dasar sekalipun sudah perlu diperkenalkan pelatihan dan kebiasaan untuk jujur, menghargai karya, kesempatan untuk berkreasi dan berinovasi, bekerja sama, dan mengikuti proses yang panjang dan lama. ***

Lahir di Camba, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Menyelesaikan pendidikan doktor di Universiti Kebangsaan Malaysia. Sekarang ini bertugas di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sorong, Papua Barat. Sejak 2010 ditugaskan sebagai pelaksana kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong sampai 2011. Sejak 2012 sebagai Kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong untuk periode 2012-2016. Kemudian, diangkat kembali untuk periode 2016-2020. November 2016 menjadi bagian Southeast Asia Academic Mobility (SEAAM). Kini, menjadi Pengurus AGUPENA Papua Barat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Literasi

Rahasia Menulis

Ismail Suardi Wekke STAIN Sorong & Agupena Papua Barat Menulis menjadi keperluan
Go to Top