MEMBUMIKAN PUISI DENGAN MUSIKALISASI

Rubrik Pendidikan Oleh

Oleh: Yonas Suharyono
(Guru SMP Negeri 1 Cilacap-Jawa Tengah, Peneliti Bidang Pendidikan)

Yonas Suharyono

Puisi bukan sekadar deretan kata yang disusun berbait dan berlarik. Puisi tak hanya reka bentuk visual aneh dan unik bernama tipografi. Puisi tak sebatas diksi yang sengaja atau dihadirkan untuk menimbulkan aspek estetis. Puisi memiliki roh, memiliki kekuatan magis yang akan muncul bak jin keluar dari lampu aladin saat digosok-gosok. Puisi juga mempunyai daya pembeda dengan karya sastra lainnya.

Daya magis, roh, jin baik hati yang merasuki puisi akan nampak jika digumuli dengan hati. Roh itu bersemayam, dan akan muncul dalam rupa emosi jika digosok-gosok dengan penuh perasaan. Emosi yang dimunculkan sedemikian dahsyat hingga  dapat menguras air mata, amarah yang meledak-ledak. Gosokan-gosokan yang dilakukan memanggil roh puisi, salah satunya melalui apresiasi, yakni menggaulinya dengan sangat imtim.

Apresiasi seni adalah aktivitas mengamati, mendengarkan suatu bentuk tampilan dan sajian karya seni. Aktivitas itu kemudian diikuti dengan penikmatan, penilaian, dan penghargaan terhadap aspek-aspek yang muncul. Dalam mengapresiasi puisi kegiatan itu meliputi (1) mengamati tipografi, (2) diksi, (3) rima, (4) kata konkret, dan (5) gaya (majas). Kemudian dilanjutkan dengan membacakan dengan intens, artinya berusaha masuk wilayah  batin puisi yang diapresiasi. Wilayah batin puisi ini meliputi (1) tema (sense), (2) rasa (feeling), (3) nada (tone), dan (4) amanat (itention). Akhir dari kegiatan itu adalah mendapatkan kenikmatan dan melakukan penilaian, yakni apresiasi estetis dan kritis.

Selama ini puisi dengan sosoknya yang mistis sering menyulitkan guru dalam pembelajaran. Banyak cara ditempuh untuk membumikan genre sastra yang seolah bersemayam di negeri awan tersebut. Salah satunya adalah metode parafrase. Namun demikian metode-metode itu justru semakin menjadikan puisi menjauh untuk digauli. Baik parafrase, analisis struktur, maupun baca puisi selalu membuat jenuh peserta didik. Akhirnya puisi tetap menjadi barang mahal yang tak terjangkau oleh daya apresiasi peserta didik. Nah, bagaimana strategi yang bijak agar puisi membumi di kalangan peserta didik?

Ada banyak cara orang mengapresiasi puisi, salah satunya melalui musikalisasi. Cara ini sudah lama dilakukan baik oleh komunitas sastra maupun kalangan pendidik. Puisi-puisi karya Taufiq Ismail banyak dimusikkan oleh Bimbo, begitu juga Ebet G. Ade dengan syair-syair baladanya. Ada juga kakak beradik Yan Hartland dan Rita Ruby Hartland yang membawakan puisi-puisi bertemakan lingkungan hidup. Bahkan, dalam bentuk komposisi opera, RAJ. Soedjasmin dan FX. Soetopo menggubah karya besar Chairil Anwar, masing-masing sajak Aku (Semangat),dan Cintaku Jauh Di Pulau. Kedua komposisi tersebut bahkan selalu dijadikan lagu wajib pada pemilihan bintang radio dan televisi (BRTV) nasional untuk genre seriosa. Akhir-akhir ini banyak bermunculan di jejaring internet repertoar musikalisasi puisi karya Sapardi Djoko Damono dan sejumlah penyair lain.

Bagaimana Menerapkan Metode Musikalisasi Puisi?
Cara paling sederhana mengapresiasi puisi dengan musikalisasi puisi bisa dengan berburu di jagad media (sebut saja youtube). Di dalam fitur itu sudah banyak dipajang rekaman baik audio maupun audiovisual. Banyak pilihan jenis puisi dari puisi anak-anak hingga puisi serius. Pun jenis musik yang digunakan untuk membuat komposisi musik iringan.

Cara lain yang tidak kalah menantang adalah mengeksplor nada-nada, irama, tangga nada, menjadi komposisi musikal dengan instrumen musik sesuai dengan struktur batin dan tema puisi. Selama ini alat-alat musik harmonis seperti gitar dan piano (keyboard) mendominasi penggunaan instrumen untuk musikalisasi puisi. Tentu akan lebih semarak jika mampu mengeksplor instrumen etnik lainya dalam rangka memberi aksentuasi pada aspek  tertentu.

Guru yang kreatif, inovatif, dan eksploratif tentu akan mengondisikan kelasnya selalu menyenangkan. Pembelajaran yang dikelola menjadi sangat hangat dan penuh gairah. Musikalisasi puisi menawarkan teknik yang mudah dan menyenangkan agar peserta didik menikmati karya sastrawan sehingga pada mereka akan mengenal siapa Chairil Anwar, Taufiq Ismail, Toto Sudarto Bahtiar, dan sastrawan besar lainnya. Dengan model menyenangkan, peserta didik akan menghargai karya besar sastrawan.

Dalam beberapa kali berkunjung ke rumah budayawan nasional asli Banyumas, Ahmad Tohari, penulis selalu mendapatkan petuah sekaligus fatwa tentang bagaimana mendekatkan karya sastra dengan peserta didik. Secara tegas, ayah imajinatif Ronggeng Dukuh Paruk itu menyampaikan bahwa pembentukan karakter peserta didik lebih strategis menggunakan sastra. Pemanfaatan karya sastra dalam pembelajaran, entah itu program literasi atau pun pembelajaran di kelas akan memupuk rasa, karsa dan karya. Peserta didik lebih terasah ‘rasa’-nya sehingga terdapat balans antara otak kiri dan otak kanan, antara rasa dan logika.

Metode apa pun dapat digunakan dalam pembelajaran apresiasi puisi. Masing-masing memiliki kelebihan dan kelemahan. Baik parafrase, analisis struktural, berdeklamasi, maupun musikalisasi patut dicobakan. Yang perlu digarisbawahi, bahwa puisi termasuk jenis karya sastra yang indah dan mengasyikkan. Yang keberadaanya tidak untuk di pajang di menara gading, yang tak terjangkau oleh orang-orang biasa. Maka benar kata filsuf dan pujangga besar Yunani, Horatius, dulce et utile,  puisi itu memancarkan nilai estetis dan edukatis. ***

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Pendidikan

Hidden Kurikulum

Oleh: Fortin Sri Haryani Ada pertanyaan di balik tragedi pembunuhan massal oleh

Mind Map dan Aikido

Oleh: Yudhi Kurnia Bagi para praktisi pendidikan tentunya tidak akan asing lagi
Go to Top