Rinai Hujan dan Senyum Dedaunan

Rubrik Opini Oleh

Oleh: La Ode Mu’jizat (Agupena Kota Baubau, Sulawesi Tenggara)

Ada kisah burung Gagak yang menanti hujan. Berharap awan mendung segera muncul, lalu titik-titik airnya turun membasahi semesta dan mengguyur tubuhnya. Sebab tinta hitam yang melekat di sekujur badan telah menutupi bulu putihnya yang indah. Tapi sang hujan tak kunjung datang, maka gelaplah ia selamanya.

Ada juga cerita sang Kodok. Si amfibi yang lucu dan kerap melompat-lompat. Ketika hujan akan turun dari langit, ia keluar dari air, lalu bernyanyi bersama sahabat, menampilkan orkestra alam di ekosistem danau, sampai sang hujan mencapai bumi.

Ini tentang hujan. Beberapa hari yang lalu, kulihat seorang bocah berteriak penuh kesal: “Saya benci hujan….” Lebih dari sekali ia berkata demikian. Petualangannya yang masih seru harus berhenti sebab rintik yang menyapa wajahnya. Ia merasa terganggu, senangnya terputus, maka teriaklah dirinya. Ahh… namanya juga anak-anak.

“Kamu suka buah apel, anggur, mangga dan jambu?”, tanyaku padanya. “Iya”, jawab sang bocah. “Tahukah kamu nak, semua buah itu ada sebab hujan turun ke bumi”, jelasku. “Buah yang dirumput itu juga?” tanyanya sambil menunjuk buah yang menggantung di semak-semak. “Iya, yuk bersyukur pada Allah”, kataku.

Allah SWT berfirman: “Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.(QS. Al Baqarah, 22)

Saban hari kudengar orang-orang mengutuk hujan. Sebab banjir muncul karenanya. Tapi bagiku, genangan air yang merendam puluhan rumah itu bukan sebab sang hujan. Tapi oleh kesalahan manusia sendiri. Hutan yang ditebangi tanpa perhitungan, sampah yang menyumbat saluran air, inilah diantara masalahnya. Sang Pencipta ingin agar kita introspeksi diri.

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”(QS: Ar Rum, 41)

Kemarin, usai Dzuhur, deras sang hujan masih menghiasi kampungku. Di jalan setapak nan sempit itu, dari bawah payung yang melindungi, kusaksikan dedaunan dan rerumputan hijau seperti menari bersama hujan. “Wajah” mereka tampak berseri. “Ia (daun) sedang tersenyum”, gumamku. Sebab rizki Allah turun padanya. ***

Tags:

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Opini

Keluargaku Surgaku

Seorang ahli kungfu sedang asyik menari di lantai dansa bersama istrinya. Ia

Sayang dia, Cinta dia

Hampir pecah tangisku menyaksikan peristiwa itu. Seorang suami mencekik, menampar dan menendang

Tegar

Oleh: La Ode Mu’jizat Perlu kekuatan hati yang berlebih ketika ujian atau
Go to Top