MENULIS DENGAN SEPENUH JIWA

Rubrik Literasi Oleh

Ismail Suardi Wekke
(STAIN Sorong-Agupena Papua Barat)

Menulis dengan terpaksa akan sangat berbeda jikalau dilakukan dengan sukarela sekaligus melibatkan keseluruhan semangat yang dimiliki. Dari hasil tulisan itu akan tercermin betapa karya yang dihasilkan karena keterpaksaan akan berjarak antara penulis dengan wujud tulisan yang ada. Sementara karya yang dihasilkan karena kesadaran pribadi menjadi curahan gagasan dan pengalaman penulisnya.

Novel “Ketika Cinta Bertasbih” bagi saya menjadi diantara salah satu acuan, betapa sebuah karya ditulis dengan kesungguhan hati. Tentu, tak terbilang karya lain yang sama bagusnya. Sehingga yang menerimanya juga adalah hati. Demikian pula Laskar Pelangi. Kedua novel ini, ditulis setelah melalui “riset” panjang. Bukan ditulis dengan target deadiline semata tetapi karena keinginan untuk mempersembahkan sebuah karya untuk memenuhi selera penulisnya. Maka, kita bisa saksikan kedua novel tersebut berterima di pelbagai kalangan dan semua tingkatan umur. Demikian pula dijadikan bacaan bukan dalam waktu yang singkat tetapi menjadi bacaan dari generasi ke generasi.

Ini dapat dimulai dengan sebuah niat bahwa menulis bukanlah karena menginginkan target kebendaan. Sebab ketika menulis hanya karena memenuhi sesuatu, maka hasilnya akan sampai hanya pada sesuatu. Sementara kalau menulis untuk kepentingan tak terbatas yaitu menumpahkan hasrat dan kegairahan menulis, maka hasilnya juga tidak akan terbatas. Pada porsi seperti inilah kemudian menulis bisa saja dilakukan oleh siapa saja tetapi wujudnya akan berbeda karena perbedaan niat pula.

Dalam bahasa Covey (1989) sebuah langkah justru dimulai dari akhir. Jika menggunakan terminology agama, maka ini disebut dengan niat. Maka, niat menulis sesungguhnya sudah mesti dipancangkan sejak awal untuk memberikan penguatan kepada penulis. Ini sekaligus jawaban sebuah pertanyaan “untuk apa menulis?”. Jikalau ini sudah terjawab dengan utuh, maka kesempurnaan menulis akan terwujud dalam sebuah karya.

Jikalau menulis karena kepentingan materi, maka hasilnya akan sampai kepada materi juga, seperti target pangkat, jabatan, atau karena kewajiban semata. Sementara kalau diniatkan sejak awal sebagai bagian dari proses pendidikan, jikalau itu penulisan skripsi, tesis, dan disertasi, maka hasilnya akan diamanfaatkan bukan hanya untuk prasayarat kelulusan saja. Bahkan lebih dari itu, selesai pendidikan formal, tulisan tetap dapat dijadikan sebagai sebuah karya tersendiri. Begitu juga dengan saat menulis hanya karena semata-mata untuk kepentingan kepangkatan saja. Usai pangkat diraih, maka menulis serta merta akan ditinggalkan. Gambaran ini menunjukkan bahwa menulis karena menginginkan sesuatu. Bukan menjadikan menulis sebagai kesempatan untuk mengasah kepekaan jiwa.

Menulis juga bisa menjadi cerminan kecintaan pada sebuah profesi. Mahbubani (2001, 2009) menulis dalam kapasitas sebagai seorang diplomat senior. Karyanya kemudian menjadi rujukan penting dalam kajian hubungan internasional. Menulis baginya, menurut saya karena menumpahkan kecintaan profesi yang ditekuninya sehingga menghasilkan sebuah karya yang dibaca. Karya ini juga semata-mata karena merupakan bagian dari menemuni profesi yang digelutinya sehingga mampu memberikan sudut pandang tersendiri.

Begitu juga dengan Buya Ma’arif. Beliau menulis semata-mata karena kecintaan terhadap bangsa. Sehingga tulisannya hadir tanpa pamrih. Walaupun dalam kesemarakan pemilihan gubernur Jakarta 2017, beliau bahkan dicerca. Tetapi karena ditulis dengan ketulusanhati, tetap saja bisa dibaca walau pemilihan gubernur sudah usai. Maka, menulis akan menjadi penerang jalan kehidupan jikalau sejak awal jiwa yang penulisnya tidak dibebani oleh apapun. Bban yang ada, kalaupun itu disebut dengan beban adalah semata-mata karena kecintaan kepada kemanusiaan melalui dunia tulis menulis. Saat itu, maka tulisan yang diekspresikan sepenuhnya hanya akan dijiwai oleh ketulusan. ***

Lahir di Camba, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Menyelesaikan pendidikan doktor di Universiti Kebangsaan Malaysia. Sekarang ini bertugas di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sorong, Papua Barat. Sejak 2010 ditugaskan sebagai pelaksana kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong sampai 2011. Sejak 2012 sebagai Kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong untuk periode 2012-2016. Kemudian, diangkat kembali untuk periode 2016-2020. November 2016 menjadi bagian Southeast Asia Academic Mobility (SEAAM). Kini, menjadi Pengurus AGUPENA Papua Barat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Literasi

Rahasia Menulis

Ismail Suardi Wekke STAIN Sorong & Agupena Papua Barat Menulis menjadi keperluan
Go to Top