MENULIS SEBAGAI PERJALANAN SPIRITUAL

Rubrik Literasi Oleh

Ismail Suardi Wekke
STAIN Sorong & Agupena Papua Barat

Ketika menulis, ada balutan antara emosi, tenaga, dan juga pergulatan waktu. Tanpa kuasa kita menghentikan waktu untuk sejenak menulis, itulah yang menjadi tantangan dan dinamika tersendiri ketika menulis. Belum lagi, kondisi fisik. Sangat manusiawi ketika jeda antara aktivitas menulis dengan proses menulis berikutnya kadang dijebak dengan kemalasan. Maka, proses menulis sepenuhnya merupakan aktivitas yang terangkai tidak saja dalam satu hentakan nafas tetapi perlu beberapa kali rehat dan juga kontemplasi.

Belum lagi soal kegairahan menulis yang tidak bisa dipaksakan begitu saja. Entah bagi seorang wartawan yang memang pekerjaan utamanya adalah menulis. Namun, menjaga agar gairah menulis itu tetap terawat merupakan sebuah pilar tersendiri yang harus senantiasa ditegakkan. Dengan demikian, menumbuhkan spirit dan kegairahan ini merupakan urusan individual. Tidak ada bangku sekolah yang khusus mengajarkan bagaimana menumbuhkan kegairahan menulis itu. Sehingga saat menemukan ide dan langsung menuliskannya, itulah saat yang paling tepat untuk menulis. Kadang tempat tidak menjadi perkara utama.

Mata pelajaran menulis menjadi bagian dari kurikulum. Tetapi kemampuan untuk melihat sudut pandang tertentu tidak bisa diajarkan, termasuk tidak bisa dilatihkan. Keterampilan ini diasah sendiri oleh setiap pribadi. Maka, dengan kemampuan itu sebuah obyek yang sama tetapi dapat dilihat secara berbeda oleh setiap individu. Untuk sampai pada tahapan tersebut, tidak ada formula yang pasti. Hanya saja, setiap orang punya intuisi berbeda untuk melakukannya. Secara formal, bisa saja mengikuti sebuah pelatihan. Namun, tidak ada jaminan untuk sampai pada sebuah kemampuan untuk melahirkan sebuah karya. Karena ini adalah laku dan tirakat perseorangan, maka hanya pada diri seorang penulis itulah yang akan mengalami perjalanan tertentu sampai mampu menemukan apa yang ingin dicapainya.

Mendengarkan atau mempelajari apa yang sudah dilalui oleh seorang penulis dapat saja dilakukan. Hanya saja, belum tentu jalan yang sama dapat dilakukan. Kita bisa saja dengan khidmat menyimak apa menjadi kunci kesuksesan seorang penulis yang hebat. Hanya saja, belum tentu yang dilakukannya dapat kita lakukan juga. Sebuah jalan kadang hanya dapat dijalani seorang saja. Atau bahkan Tuhan hanya menyediakan jalan tertentu bagi seorang saja, dan tidak untuk yang lain.
Dengan demikian, bersabar dan terus berikhtiar untuk terus menjalani profesi pilihan merupakan cara tersendiri yang dapat dinikmati. Sebuah kunci yang dapat saja sama dari orang ke orang yaitu inovasi. Kemampuan untuk senantiasa melakukan perbaikan dan kemudian mebulat menjadi iktikad. Saat mencapai itu, maka dengan tekad yang utuh, semua alam partikel alam semesta dapat disatukan untuk membantu kemauan untuk menulis.

Maka, sesungguhnya menulis adalah kemampuan dan aktivitas untuk menggerakkan seluruh potensi alam sehingga bersatu dalam usaha menulis sampai wujud untuk mengabadi. Kemampuan ini tidak lahir begitu saja tetapi perlu diusahakan, karena keterampilan menulis bukanlah bawaan dari lahir. Hanya kemampuan untuk menangis saja yang dilakukan saat lahir ke muka bumi. Selebihnya harus dipelajari, dilatih, diasah, dan ditekuni. Sehebat apapun kemampuan kalau kemudian ditinggalkan dan digeluti kembali akan sia-sia belaka. olehnya, menjalani laku menulis jika dijalani sebagai sebuah ritual yang disertai dengan kesungguhan hati, akan berbuah sebuah keabadian dalam pengertian manusia. ***

Lahir di Camba, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Menyelesaikan pendidikan doktor di Universiti Kebangsaan Malaysia. Sekarang ini bertugas di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sorong, Papua Barat. Sejak 2010 ditugaskan sebagai pelaksana kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong sampai 2011. Sejak 2012 sebagai Kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong untuk periode 2012-2016. Kemudian, diangkat kembali untuk periode 2016-2020. November 2016 menjadi bagian Southeast Asia Academic Mobility (SEAAM). Kini, menjadi Pengurus AGUPENA Papua Barat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Literasi

WJLRC yang Impresif

Oleh : Yudhi Kurnia SD-SMP Muhammadiyah Antapani Bandung “Program WJLRC – West
Go to Top