MENULIS SEBAGAI KETERAMPILAN INDIVIDUAL

Rubrik Literasi Oleh

Ismail Suardi Wekke
STAIN Sorong & Agupena Papua Barat

Walaupun sepenuhnya merupakan keterampilan yang dapat dipelajari hanya saja menulis tidak dapat diseragamkan. Mata kuliah penulisan karya ilmiah menjadi komponen kurikulum di pelbagai program studi. Hanya saja, seiring dengan selesainya mata kuliah tersebut, bahkan beberapa diantaranya memperoleh nilai tertinggi, tetap saja bukan sebuah jaminan bahwa setelah lulus akan menghasilkan mahasiswa yang mampu menulis.

Saya teringat pelajaran mengarang ketika di SD dulu. Guru kami memberikan tugas menulis dengan topik “berlibur ke desa”. Padahal kami semua adalah anak-anak desa yang justru selama liburan tidak pernah pergi kemana-mana. Hanya berhenti sejenak untuk pergi ke sekolah, karena permainan yang kami lakoni sudah rutin. Akhirnya, harus menyontek cerita yang ada di buku pelajaran untuk memenuhi tugas yang diberikan guru. Maka, menulis sejatinya juga berkaitan dengan pengalaman pribadi. Sebuah cerita tidak akan pernah didapatkan jikalau tidak memiliki pengalaman tertentu.

Setiap orang memiliki kekhasan masing-masing dalam menulis. Di tahap awal, bisa saja meniru sebuah gaya menulis orang lain. Termasuk di tahap awal mengkaji teori-teori menulis dan membaca karya-karya penulis yang memenuhi kriteria teori yang dipelajari. . Namun, dalam perkembangan berikutnya, ketika menulis justru mesti memiliki gaya tersendiri yang tidak harus sama dengan orang lain. Bahkan wajib untuk berbeda, hampir susah menemukan sebuah tulisan yang persis sama. Termasuk jika ditulis orang yang sama tetapi di waktu yang berbeda, maka akan menghasilkan sebuah tulisan yang tidak sama persis.

Saya mengibaratkan dengan sepak bola, walau tidak sama persis. Pesepakbola memperlakukan bolanya tidak sama. Mereka menendang dengan tujuan yang sama, membuat gol. Tetapi saat menggiring bola itu, aksi individual merupakan kemampuan pribadi sang pemain. Jika ini bisa ditempatkan pada soal menulis, maka menulis juga golnya adalah publikasi. Saat penulis menggiring kata-kata untuk diakumulasi menjadi sebuah artikel, maka di situlah kemampuan individual diperlukan.

Walaupun dapat dipelajari, dilatih, dan dibantu orang lain, hanya saja menulis sepenuhnya adalah kemampuan pribadi. Saat memilih kata pertama yang digunakan untuk menulis, itulah cerminan dari kemampuan individual dan sama sekali tidak bisa dilatihkan bagaimana memilih kata pertama itu. Ada sisi kreatifitas dalam berkarya dimana pengembangan, penambahan, dan juga penyesuaian dengan kondisi yang sudah ada sebelumnya.

Karena berkaitan dengan kemampuan individual, sebuah karya tidak akan pernah sama persis dengan karya orang lain. Walaupun informasi yang disampaikan sama, tetap saja susunan kalimat akan berbeda. Maka, dengan mudah dapat dideteksi sebuah karya yang melakukan plagiat terhadap karya yang orang lain.

Sebuah tulisan bisa saja menyajikan sebuah informasi yang sama persis, tetapi karena penulisnya berbeda, maka akan ada sudut pandang tertentu. Sebagaimana sebuah peristiwa yang sama, namun ditulis oleh wartawan yang berbeda, maka tetap saja penyajiannya juga berbeda. Jika menggunakan prinsip ini, maka sepenuhnya dalam menulis adalah kemampuan individual untuk menggambarkan sebuah fenomena menjadi bentuk rangkaian kata.

Dua orang menulis hal yang sama bisa saja saja menghasilkan sebuah gambaran yang sama. Akan tetapi, keduanya akan sangat berbeda dalam susunan kata, termasuk menyajikan informasi yang menjadi narasi tulisan tersebut. Maka, walaupun sama tetapi sesungguhnya itu sebuah tulisan yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Penyajian sangatlah personal, sehingga menghasilkan juga sebuah tulisan yang sangat personal.

Prof. Isamu Akasaki dan Prof. Shuji Nakamura bekerja di perguruan tinggi yang berbeda. Tidak pernah bekerja bersama dalam satu tim. Keduanya meneliti LED, kontribusi keduanya dalam penemuan semi konduktor untuk menghasilkan warna biru dalam sebuah lampu. Mereka sampai pada kesimpulan yang sama tetapi melakukan dengan cara berbeda. Maka, keduanya dianugerahkan hadiah Nobel pada tahun 2014 setelah 20 tahun menekuni penelitian tersebut. Keberhasilan keduanya dalam menemukan unsur biru ditulis dengan cara berbeda. Walaupun sama tetapi mereka melakukan proses yang berbeda antara satu dengan lainnya. Untuk itu, sebuah tulisan sepenuhnya merupakan eskpresi individual yang juga akan menghasilkan karya yang sangat personal. ***

Lahir di Camba, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Menyelesaikan pendidikan doktor di Universiti Kebangsaan Malaysia. Sekarang ini bertugas di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sorong, Papua Barat. Sejak 2010 ditugaskan sebagai pelaksana kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong sampai 2011. Sejak 2012 sebagai Kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong untuk periode 2012-2016. Kemudian, diangkat kembali untuk periode 2016-2020. November 2016 menjadi bagian Southeast Asia Academic Mobility (SEAAM). Kini, menjadi Pengurus AGUPENA Papua Barat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Literasi

Go to Top