Home » Opini » Warna Warni Ramadhan » 206 views

Warna Warni Ramadhan

Rubrik Opini Oleh

Ismail Suardi Wekke
(STAIN Sorong-Agupena Papua Barat)

Di manapun seorang muslim berada, tidak memandang jumlah, bahkan kadang dalam kesendirian sekalipun, Ramadhan dirayakan dengan sepenuh hati. Bergantung kepada masing-masing tradisi yang selama ini dipraktikkan. Semuanya menyambut Ramadhan, tak rela untuk melewatkannya sedetikpun.

Walaupun dalam jumlah yang bukan mayoritas, dari pelantam masjid-masjid di Tanah Papua tetap saja terdengar suara jamaah yang mengaji hingga tengah malam, membangun warga untuk menikmati sahur, dan menyeru waktu berbuka. Ditambah dengan peringatan imsak dari radio dengan suara sirine. Kesemarakan Ramadhan sama saja dengan wilayah lain di Indonesia. Bahkan saat penyambutan Idhul Fithri sekalipun, pawai dan konvoi takbir berlangsung di semua daerah.

Remaja Masjid Attaubah Kota Sorong secara bergiliran menyiapkan buka puasa dan makan malam kepada jamaah masjid. Ramadhan kali ini mereka menempati ruangan untuk sekretariat. Begitu pula menjelang sahur, mereka membangunkan warga. Semuanya dikerjakan secara bergotong royong. Bahkan mereka dengan senang hati menjemput hidangan takjil dari rumah ke rumah untuk diantar ke masjid. Beberapa diantara remaja tersebut justru tidak pernah hadir ke masjid, justru saat Ramadhan mereka memudahkan langkah ke masjid.

Manado juga demikian. Kumandang adzan di waktu berbuka puasa dan irama beduk bertalu-talu. Tak terasa bahwa penduduk muslim tak seberapa jumlahnya berbanding dengan Protestan dan Katolik. Usai tarawih, anak muda separu baya justru menghabiskan malam dengan ronda. Ketika tiba waktu sahur, mereka berkeliling di sekitar perumahan untuk membangunkan. Walaupun ada warga yang tak perlu bangun untuk sahur, tetap saja tak ada nada protes yang menyertai perayaan itu.

Sementara di Trengganu, Malaysia waktu berbuka ditandai dengan dentuman mercon saat datangnya maghrib. Masjid-masjid tidak mengadakan acara khusus untuk ceramah Ramadhan. Mereka mengundang imam-imam terbaik dari pelbagai negara untuk datang memimpin tarawih dan qiyamul lail (shalat malam), beberapa diantaranya dari Palestina, Mesir, dan juga tentunya dari Indonesia.

Begitu juga di Taman Indrapura, Kuantan. Warga secara bergotongroyong memasak dan setelah berbuka puasa, menikmati hidangan secara bersama. Warga bersama keluarga makan dengan hidangan yang sepenuhnya dipanen dari kebun sendiri. Mulai dari buah dan bahan-bahan pokok yang disajikan, kecuali beras, semuanya berasal dari kebun samping masjid.

Sajian buka puasa yang disantap bersama, bubur lambuk. Masing-masing masjid membuat dapur khusus untuk sajian bubur lambuk pada hari tertentu, bahkan ada yang menyediakan sepanjang Ramadhan. Walau Malaysia memproklamirkan diri sebagai Negara Islam, siang hari seentaro negara tetap saja warung terbuka tanpa sekat sama sekali. Orang yang berpuasa tidak terganggu dengan orang yang tidak berpuasa.

Adapun di Korea Selatan, warga yang sebagian besar adalah pendatang memusatkan kegiatan Ramadhan di pusat Islam, Seoul. Masjid yang jumlahnya tak lebih dari sepuluh buat di seluruh pelosok kota menjadi bertemunya warga muslim. Mereka merayakan Ramadhan dengan berbuka sampai selesai melaksanakan taraweh. Sepuluh malam terakhir, dilaksanakan qiyamul lain dan diakhiri dengan makan sahur bersama. Masjid digunakan untuk mengobati kerinduan bersama akan kampung halaman.

Kesibukan di masjid Jawa, Bangkok bermula sejak shalat dhuhur. Warga yang diberi tugas untuk mempersiapkan makan malam sudah mulai memasak untuk jamaah masjid. Bukan saja untuk jamaah tetap, kadang muslim yang sementara melakukan perjalanan di Bangkok juga turut hadir untuk berbuka puasa bersama. Dimulai dengan sajian kue dan hidangan ringan. Usai sholat maghrib dilanjutkan dengan makan malam. Jadwal berjamaah isya diakhirkan untuk memberi kesempatan menimati makan malam.

Hampir sama di Singapura, warga menggunakan masjid untuk dijadikan sebagai sarana menyemarakkan Ramadhan. Juga dengan berbuka puasa bersama. Hanya saja karena sebagian besar adalah para pekerja, pengurus masjid sudah memesan makanan melalui restoran dengan kontrak sepanjang Ramadhan. Untuk memudahkan pelayanan, pengurus masjid menghimbau jamaah untuk mendaftar terlebih dahulu. Walaupun yang tidak mendaftar tetap dilayani. Kota bersolek dengan hiasan lampu dan pernak pernik bulan bintang. Ramadhan menjadi penanda seluruh kota, terutama di pusat-pusat perjumpaan warga. Kota bersolek sebagaimana pada perayaan hari besar agama lain. Kurang lebih kota dihias sebagaimana ketika perayaan Natal, Divawali, dan juga tahun baru China.

Negara-negara di lintasan khatulistiwa menikmati Ramadhan yang hampir sama sepanjang masa. Sementara di belahan dunia tertentu, ada perbedaan Ramadhan di musim dingin dan musim panas. Untuk saat ini, beberapa negara di Eropa menyelesaikan Ramadhan tak kurang dari 18 jam sehari. Namun demikian, sebuah peluang untuk menikmati betapa Ramadhan memberikan kekuatan untuk menahan makan-minum walau sepanjang itu. Ramadhan menjadi sarana untuk kontemplasi dan juga berkhidmat. Lapar justru membangkitkan kepedulian terhadap sesama, kemauan untuk berbagi, dan keinginan untuk menjadi bagian dari jamaah. ***

Lahir di Camba, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Menyelesaikan pendidikan doktor di Universiti Kebangsaan Malaysia. Sekarang ini bertugas di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sorong, Papua Barat. Sejak 2010 ditugaskan sebagai pelaksana kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong sampai 2011. Sejak 2012 sebagai Kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong untuk periode 2012-2016. Kemudian, diangkat kembali untuk periode 2016-2020. November 2016 menjadi bagian Southeast Asia Academic Mobility (SEAAM). Kini, menjadi Pengurus AGUPENA Papua Barat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Opini

Keluargaku Surgaku

Seorang ahli kungfu sedang asyik menari di lantai dansa bersama istrinya. Ia

Sayang dia, Cinta dia

Hampir pecah tangisku menyaksikan peristiwa itu. Seorang suami mencekik, menampar dan menendang

Tegar

Oleh: La Ode Mu’jizat Perlu kekuatan hati yang berlebih ketika ujian atau
Go to Top