GURU, TUNTUTAN, DAN TANTANGANNYA

Rubrik Pendidikan Oleh

Oleh: Washadi

Guru adalah profesi mulia. Menjadi guru tidak mudah. Banyak persyaratan dan kriteria yang harus dipenuhi untuk menjadi guru. Banyak tuntutan yang ditujukan kepada guru. Banyak pula tantangan yang dihadapi guru. Semua demi tujuan utama pendidikan, yakni mencerdaskan segenap anak bangsa. Berikut beberapa tuntutan dan tantangan yang dihadapi guru.

1. Guru Harus Ikhlas dan Tawaduk
Salah satu tugas guru adalah menyampaikan ilmu kepada peserta didiknya dengan penuh cinta dan tanggung jawab. Dengan cinta dan tanggung jawab, maka ilmu yang disampaikannya mengena di hati para peserta didik. Ilmu itu akan bermanfaat, baik bagi peserta didik maupun bagi khalayak luas, pun bagi dirinya sendiri. Tentu, guru dituntut memiliki sikap ikhlas dan tawaduk dalam mentransfer ilmunya. Hal ini penting, mengingat keikhlasan dan ketawadukan guru menjadi pintu bagi keberkahan ilmu yang diserap peserta didiknya.

Guru yang ikhlas dan tawaduk mencerminkan sifat rabbani, yang betul-betul mendedikasikan diri dan ilmuya semata-mata untuk beribadah kepada Allah swt. Guru yang ikhlas dan tawaduk akan melaksanakan tugasnya dengan sungguh-sungguh, tidak sekadar menggugurkan kewajiban, apalagi hanya didasari materi yang tidak ada hubungannya dengan keimanan. Allah swt. berfirman dalam Alquran, yang artinya: “… Hendaknya kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al-Kitab dan disebabkan kamu tetap mengajarkannya.” (Q.S. Ali Imran : 79).

2. Guru Harus Menjadi Panutan
Ada ungkapan: “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. Ungkapan lain: “Guru, digugu lan ditiru”. (bahasa Jawa, digugu artinya dipercaya). Sungguh, ini bukan ungkapan-ungkapan biasa, namum mengandung makna yang sangat dalam. Bahwa, apa pun yang dilakukan guru akan diikuti peserta didiknya. Perkataan guru harus dijaga, sebab akan didengarkan dan ditiru mereka. Guru bertanggung jawab terhadap pembentukan karakter peserta didiknya. Maka, guru harus menjadi panutan (suri tauladan) bagi mereka.

Selain menjadi panutan bagi peserta didiknya, guru juga harus menjadi panutan bagi keluarga, masyarakat sekitar, dan masyarakat bangsa dan negara secara keseluruhan. Hal ini dikarenakan masa depan bangsa dan negara terletak pada generasi mudanya. Sedangkan, masa depan generasi muda tergantung pada guru-gurunya. Sekali lagi, guru harus betul-betul menjadi panutan. Sebagaimana Rasulullah menjadi panutan bagi umatnya, seperti yang dijelaskan dalam Alquran, yang artinya: “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Q.S. Al-Ahzaab : 21).

3. Guru Harus Memiliki Pribadi yang Kuat
Selain menjadi panutan, guru juga harus memiliki pribadi yang kuat. Mengapa? Sebab, dengan pribadi yang kuat dan berakhlakul karimah, maka akan dihormati peserta didiknya. Dengan pribadi yang kuat, menunjukkan bahwa guru tersebut tegas dan berwibawa. Dengan demikian, akan menjaga wibawa ilmu dan profesinya. Guru disegani, tidak hanya oleh peserta didik, namun oleh masyarakat secara umum, termasuk oleh kalangan pejabat pemeeintahan. Ini semua karena kekuatan ilmu yang dimiliki guru. Sebagaiman firman Allah swt, yang artinya: “Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahuinya.” (Q.S. Al-Munafiquun : 8).

Dengan memiliki pribadi yang kuat, maka berarti guru akan menjalankan tugas dan kewajibannya dengan baik. Ilmu yang disampaikannya memiliki karakter yang kuat pula. Alhasil, peserta didik pun menjadi pribadi-pribadi yang kuat pula. Dalam hal ini Rasulullah saw. menjelaskan, “Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah dan juga dalam semua kebaikan.” (H.R. Muslim).

4. Guru Harus Mengikuti Perkembangan Zaman
Guru, selain sebagai berperan sebagai pengajar dan pendidik juga sebagai pembelajar. Oleh karena itu, tidak ada waktu yang sia-sia bagi seorang guru untuk terus memperdalam ilmu pengetahuan dan wawasannya. Guru harus terus mencari dan meramu ilmu yang didapatkannya menjadi sumber-sumber belajar yang diterapkan di dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Guru harus mengikuti perkembangan zaman dengan dinamika yang terjadi di dalamnya. Ingat, zaman sekarang jauh berbeda dengan zaman dahulu. Sekarang teknologi begitu canggih. Media atau perangkat pembelajaran juga mengikuti perkembangan zaman. Saat ini, media pembelajaran berbasis teknologi informasi, maka guru harus menguasainya. Dengan menguasai teknologi, banyak manfaat yang diperoleh guru. Hasil pembelajaran juga lebih sempurna. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah saw., yang artinya: “Allah mencintai seseorang yang apabila ia mengerjakan sesuatu pekerjaan, maka ia mengerjakannya dengan sempurna.” (H.R. Baihaqi).

Media komunikasi yang berkembang saat ini dan digandrungi kalangan peserta didik adalah media-media komunikasi jejaring sosial. Guru harus mengikutiya. Salah satu tujuannya adalah agar guru dapat berinteraksi dan berkomunikasi secara aktual dengan peserta didiknya. Banyak hal baru yang didapat guru dari interaksi tersebut yang dapat dijadikan sebagai kajian dan evaluasi. Guru juga harus luwes dalam mengikuti perkembangan pergaulan peserta didik, namun harus tetap mengontrolnya. Jangan sampai terbaca oleh peserta didik bahwa gurunya kurang pergaulan dan ketinggalan zaman. Dengan demikian, hubungan guru dan peserta didik menjadi semakin baik.

5. Guru Harus Konsisten Menjaga Amanah
Guru dan ilmu pengetahuan adalah seperti dua sisi mata uang, keduanya menyatu dan tidak dapat dipisahkan. Di mana ada guru, maka di situ ada ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan yang dimiliki guru adalah amanah yang harus disampaikan kepada peserta didiknya. Maka, wajib hukumnya bagi guru untuk menyampaikannya. Guru harus bersikap adil dalam menyampaikan ilmunya, tidak membeda-bedakan antara peserta didik yang satu dengan peserta didik lainnya. Allah swt. berfirman dalam Alquran, yang artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan menyuruh (kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil.” (Q.S. An-Nisaa : 58).

Guru harus memiliki kesadaran bahwa menyampaikan amanah harus konsisten dan berkelanjutan. Sebab, ilmu yang telah disampaikan, bukan berkurang, tetapi justru akan bertambah. Guru yang konsisten menjaga amanah, berarti dia konsisten menjaga imannya. Sebaliknya, guru yang tidak dapat menjaga amanah, berarti dia tidak dapat menjaga imannya. Sebagaimana sabda Rasulullah saw., “Tidak ada keimanan bagi orang yang tak dapat menjaga amanah dan tidak ada agama bagi orang yang tak dapat memegang janji.” (H.R. Ahmad) ***

Washadi, S.Pd, MM.Pd, seorang Guru dan Penulis, tinggal di Tangerang Selatan, Banten. Tulisan-tulisannya dimuat di berbagai media massa, antologi puisi dan antologi cerpen. Aktif berkegiatan sastra di Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Tangsel. Saat ini menjabat sebagai Sekretaris Dewan Kesenian Tangerang Selatan (DKTS) merangkap Komite Sastra, dan Pengurus Asosiasi Guru Penulis Indonesia (Agupena) Wilayah Banten. Kini menjadi Ketua Bidang Humas dan Kerjasama Antar Lembaga AGUPENA.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Pendidikan

SEKOLAH RAMAH ANAK

(Selip Gagas Untuk Momen Outdoor Classroom Day) Oleh Anselmus Atasoge (Mahasiswa UIN
Go to Top