MENJAGA KAMPUS AGAR TAK SEPI PEMINAT

Rubrik Pendidikan Oleh

Ismail Suardi Wekke
STAIN Sorong & Agupena Papua Barat

Di kota Malang, dulu School of Business (SOB) menjadi primadona. Bahkan mereka menolak mahasiswa. Beberapa kerabat dari timur Indonesia datang ke Malang karena berkeinginan kuliah di SOB. Walau hanya pendidikan diploma tetap saja menjadi kampus favorit. Begitu juga dengan Universitas Merdeka, mereka menjadi diantara pilihan utama untuk sebuah institusi pendidikan tinggi di kota yang sama. Saat ini, keduanya bukan lagi favorit, paling tidak bukan lagi pilihan pertama. Seiring dengan bertambahnya program studi di kampus-kampus negeri. Begitu pula dengan transformasi lembaga-lembaga pendidikan tinggi, berawal dari sekolah tinggi kemudian menjadi universitas. Termasuk dari institut menjadi universitas.

Masih di Malang, dulunya Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Malang bertransformasi menjadi Universitas Negeri Malang. Begitu juga Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Malang, ditingkatkan menjadi Universitas Islam Negeri Malang, selanjutnya ditambahkan nama Maulana Malik Ibrahim. Belum lagi dengan penambahan program studi di Universitas Muhammadiyah Malang dan Universitas Brawijaya. Semuanya menjadi mitra kalau tidak bisa disebut saingan dalam memperebutkan lulusan sekolah menengah.

Sementara di Jakarta, Universitas Trisakti menjadi pilihan juga. Bukan saja bagi warga Indonesia, lembaga-lembaga di Malaysia bahkan memberikan rekomendasi bagi warganya dengan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di Trisakti. Hanya saja, kampus tersebut sekarang ini mengalami dualism. Sehingga sebagian energi para pengelolanya dihabiskan untuk menengahi perseteruan yang ada. Lambat laun, mahasiswa asing juga mulai berkurang. Minat untuk kuliah di sana kadang tertahan.

Adapun di Makassar, Universitas Indonesia Timur. Persoalan Pangkalan Data Perguruan Tinggi yang tidak dikelola secara lengkap sejak awal sehingga data mahasiswa ada yang tersilap pandang. Akhirnya, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi memberi kesempatan pembenahan selama satu semester. Hanya saja, media terlanjur memberitakan bahwa kampus ini untuk sementara tidak boleh meluluskan mahasiswa. Informasi yang tidak sepenuhnya menggambarkan realitas yang ada bergantian di dunia maya dan juga media sosial. Semuanya mempengaruhi citra kampus.

Belum lagi tentang akreditasi. Setiap kampus minimal wajib mendapatkan akreditasi Badan Akreditasi nasional Perguruan tinggi (BANPT). Dengan akreditasi C, kadang peluang alumni untuk mengakses banyak kesempatan di pelbagai instansi tidak terbuka. Beberapa instansi bahkan mensyaratkan akreditasi B. untuk beberapa lembaga bahkan A. Sehingga peminat pada program studi dengan akreditasi C tersebut mulai menurun.

Tantangan bagi para pengelola kampus agar tak menyurutkan minat para calon mahasiswa. Jangan sampai, dengan berkurangnya jumlah mahasiswa akan membuat berkurangnya pemasukan untuk pengelolaan kampus. Terutama yang hanya mengandalkan semata-mata dari pembayaran mahasiswa. Sementara saingan bukan saja kampus-kampus dalam negeri. Perguruan tinggi luar negeri hampir setiap bulan mengadakan pameran untuk merebut mahasiswa sampai ke ibukota provinsi, bukan lagi hanya di Jakarta saja.

Untuk itu, pengelolaan program studi yang relevan dengan keperluan masyarakat menjadi pilihan utama. Dengan demikian, sebuah program studi terus menjadi pemecah masalah atas apa yang menjadi dinamika masyarakat. Dengan perguruan tinggi Indonesia, maka kitalah yang paling tahu kondisi masyarakat kita berbanding dengan perguruan tinggi luar negeri. Sementara itu, kesempatan untuk menikmati pendidikan tinggi sejatinya perlu dibuka kepada siapapun. Dengan menyelesaikan pendidikan tinggi, setidaknya akan memberi peluang kepada mahasiswa untuk mengembangkan daya nalar dan daya kritis. Sehingga ketika berada di masyarakat, keterampilan itu bisa digunakan dalam menjalani proses kehidupan.

Soal faktor pilihan lulusan sekolah menengah ke perguruan tinggi tertentu, ini tidak berdiri tunggal. Bukan hanya soal akreditasi semata tetapi juga karena ratusan faktor yang lain. Sehingga untuk menjadi pilihan utama, maka perlu dilakukan integrasi antara satu factor dengan factor yang lain sehingga memperbesar peluang untuk menjadi pilihan utama. Seperti Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari. Sepanjang Ramadhan dilaksanakan safari Ramadhan yang juga menjadi pengabdian masyarakat bagi dosen. Sekaligus sebagai kesempatan untuk melaksanakan sosialisasi dengan memperkenalkan program studi yang dikelola.

Kegiatan seperti itu akhirnya akan berdampak ganda. Tidak saja bagi dosen menyelesaikan kegiatan pengabdian masyarakat tetapi juga menjadi peluang setahun yang akan datang bagi orang tua untuk menjadi referensi tersendiri saat harus memilih sebuah program studi. Selama ini, kadang peminatan orang tua ataupun siswa sendiri lebih karena terbatasnya informasi yang dimiliki. Ataupun juga memilih sebuah jurusan tak lebih karena rekomendasi dari keluarga. Dengan demikian, saat melakukan sebuah kegiatan sekaligus sebagai sarana sosialisasi, maka ini akan menjadi media efektif untuk memperkenalkan sebuah program studi ke masyakarat.

Dengan melimpahnya potensi mahasiswa setiap tahun dan juga diperebutkan oleh perguruan tinggi lain yang tidak saja dalam satu kawasan, maka ini sebuah tantangan tersendiri bagi manajemen kampus. Perlu upaya terobosan dan juga sekaligus upaya menjaga keberlanjutan. Kalau tidak, maka kampus akan sepi peminat dan pada akhirnya akan menggangu kinerja secara keseluruhan sebuah institusi perguruan tinggi. ***

Lahir di Camba, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Menyelesaikan pendidikan doktor di Universiti Kebangsaan Malaysia. Sekarang ini bertugas di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sorong, Papua Barat. Sejak 2010 ditugaskan sebagai pelaksana kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong sampai 2011. Sejak 2012 sebagai Kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong untuk periode 2012-2016. Kemudian, diangkat kembali untuk periode 2016-2020. November 2016 menjadi bagian Southeast Asia Academic Mobility (SEAAM). Kini, menjadi Pengurus AGUPENA Papua Barat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Pendidikan

SEKOLAH RAMAH ANAK

(Selip Gagas Untuk Momen Outdoor Classroom Day) Oleh Anselmus Atasoge (Mahasiswa UIN
Go to Top