Home » Cerpen » Sastra » SECERCAH CAHAYA TAUBAT » 262 views

SECERCAH CAHAYA TAUBAT

Rubrik Cerpen/Sastra Oleh

Cerpen Hadi Sastra

Seorang ustaz memperhatikan laki-laki yang sedang sempoyongan. Dari mulutnya tercium bau alkohol. Laki-laki tersebut merasa risih dan tidak suka, lalu mendatangi sang ustaz.

“Kenapa Ustaz melihat saya?” tanya laki-laki itu dengan mata memerah.

“Tidak,” jawab ustaz tenang.

“Tidak apa?”

“Yang Saudara lihat?”

“Dari tadi melihat saya.”

“Dari mana Saudara tahu?”

“Saya melihat sendiri”

“Sendiri?”

“Jangan main-main dengan saya?”

“Yang melihat bukan cuma saya. Bukan juga Saudara.”

“Apa maksud Ustaz? Dari tadi saya tidak melihat siapa pun selain kita berdua.”

“Ada yang lebih melihat.”

“Maksudnya?”

“Allah.”

“Ah,” laki-laki mendesah, tidak suka.

“Kita tidak melihat, tapi Dia melihat kita.”
Laki-laki makin tak suka. Dia merasa diceramahi.

“Ustaz belum tahu siapa saya?”

“Apa Saudara tahu?”

“Ustaz bagaimana? Tentu saya tahu diri sendiri.”

“Tahu betul?”
Laki-laki geram.

“Apa maksud Ustaz?”

“Kalau Saudara tahu siapa diri Saudara, berarti tahu siapa Allah.”

“Apa urusannya dengan Allah?”

“Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Rabbahu.”

“Apa itu?”

“Saudara betul tahu diri Saudara?”

“Kenapa Ustaz mengulang itu lagi?”

“Siapa yang mengenal dirinya, pasti mengenal Allah.”

“Ustaz jangan menceramahi saya?”

“Siapa yang menceramahi? Itu perkataan Nabi.”

Sekali lagi laki-laki mendesah. Makin tak suka. Namun, sanubarinya mulai tersentuh.

“Saya heran. Kenapa setiap orang mengusik kehidupan saya. Jijik melihat saya.”

“Karena sayang.”

“Cuih,” laki-laki meludah, mencibir, “Persetan dengan sayang!”

“Percayalah, semua orang menyayangi Saudara.”

“Mana buktinya? Kenapa mereka menjauhi saya? Mencampakkan saya?”

“Bersediakah Saudara bercerita kepada saya tentang diri Saudara?”

Akhirnya, laki-laki itu menceritakan perjalanan singkat hidupnya. Dua tahun yang lalu bisnisnya gulung tikar akibat kalah persaingan, lalu dia menganggur. Perubahan total mewarnai hidupnya. Dia mulai stres, pelampiasannya adalah dengan bermabuk-mabukan. Sang istri menggugat cerai karena tak tahan dengan kondisi, ditambah akibat sikap dan perlakuan dirinya yang sering kasar. Setahun kemudian mereka resmi bercerai. Istri dan anak-anak pergi meninggalkannya. Dia menjalani hidupnya seorang diri. Maka lengkaplah kemelut yang dihadapinya.

“Tak ada lagi yang menyayangi saya.”

“Masih ada.”

“Tak ada.”

“Allah.”

“Ustaz jangan sebut-sebut itu lagi. Saya sudah lama tak mengingat nama itu.”

“Sekarang ingat.”

Laki-laki terdiam. Mulai tersentuh.

“Yakinlah, Allah selalu menyayangi Saudara,” ustaz menyampaikannya dengan bijak, “Saat ini Saudara telah mengingat-Nya kembali, itu tandanya Dia sayang terhadap Saudara. Masih membuka hati Saudara.”

Tak terasa sebutir air mata menetes dari mata laki-laki. Ustaz mulai merasakan secercah cahaya Allah menyelinap ke lubuk sanubari laki-laki itu.
Laki-laki tersungkur. Menyingkirkan botol yang dipegangnya. Kemudian menangis. Ustaz terus menyiraminya dengan kesejukan ajaran Ilahi.

“Masih adakah pintu taubat untuk saya?” suara laki-laki lemah.

“Alhamdulillah, Saudara telah insyaf. Allah tak akan pernah menutup pintu taubat bagi hamba-Nya. Terkecuali untuk satu dosa.”

“Apa itu?”

“Satu-satunya dosa yang tidak akan diampuni oleh Allah adalah syirik.”

Laki-laki itu terpaku.

“Selama ini saya menganggap botol-botol minuman keras adalah penghibur saya, penyelamat saya. Apakah itu termasuk syirik.”

“Ya!” jawab ustad mantap, “Apa pun yang disembah selain Allah berarti syirik.”

“Tapi saya tidak menyembah.”

“Menganggap sesuatu sebagai penghibur, apalagi penyelamat, itu sama dengan menyembah.”

“Astaghfirullahal ‘adziim,” spontan keluar kalimat tersebut dari mulut laki-laki itu. Spontan dia bersujud, larut dalam penyesalan sambil terus beristigfar bersama banjir air mata.
Ustaz tersenyum puas. Disuruhnya laki-laki berdiri, lalu dirangkulnya. Laki-laki terus saja beristigfar.

“Allahu akbar,” ucap ustaz, “terima kasih ya, Allah, Engkau kembali menampakkan kebesaran-Mu.”

Ustaz memapah laki-laki untuk segera mengambil air wuduk karena waktu mendekati Magrib. ***

Washadi, S.Pd, MM.Pd, seorang Guru dan Penulis, tinggal di Tangerang Selatan, Banten. Tulisan-tulisannya dimuat di berbagai media massa, antologi puisi dan antologi cerpen. Aktif berkegiatan sastra di Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Tangsel. Saat ini menjabat sebagai Sekretaris Dewan Kesenian Tangerang Selatan (DKTS) merangkap Komite Sastra, dan Pengurus Asosiasi Guru Penulis Indonesia (Agupena) Wilayah Banten. Kini menjadi Ketua Bidang Humas dan Kerjasama Antar Lembaga AGUPENA.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Cerpen

Senandung Cinta di Lalao

Cerpen: Heronimus Bani Sejauh mata memandang di pantai Ba’a nuansa sore mengantar

Di Shopping Center

“Neta, ikut mbak Shopping yuk..”, ajak Mbak Nela. Mbak Nela itu, kakak

Perempuan Pemurung

Cerpen: Hadi Sastra Perempuan itu melepaskan pandangannya. Siang tak lagi terik. Angin
Go to Top