TENTANG KEBARUAN DALAM MENULIS

Rubrik Literasi Oleh

Ismail Suardi Wekke
STAIN Sorong & Agupena Papua Barat

Perkembangan dunia ilmu pengetahuan sekarang ini sejatinya ditopang dari pondasi masa lalu. Sehingga apa yang diketahui sekarang ini, tidak datang secara tiba-tiba tetapi ada ikhtiar dan upaya cendekiawan dan ilmuwan di zaman sebelumnya. Temuan lampu, mesin uap, dan segala perangkat teknologi memberikan kesempatan kepada hadirnya temuan baru yang merupakan modifikasi. Bahkan juga penyempurnaan atas apa yang sudah ada sebelumnya. Atau melengkapi yang sudah ada dengan inovasi yang lebih mudah, murah, dan efisien.

Sebuah tulisan bisa saja akan muncul dari kegelisahan intelektual. Hanya saja tidak semua kegelisahan itu akan diakhiri dengan sebuah tulisan. Sebuah kegelisahan belum tentu belum ada jawabannya. Ketika jawabannya sudah ada, maka tidak perlu sebuah proses ilmiah untuk menemukan jawaban atas pertanyaan tersebut. Kecuali bagi pelajar atau mahasiswa, proses simulasi ulang sebagai bagian untuk mempelajari apa yang sudah ada merupakan proses untuk mengidentifikasi sebuah jawaban dari pertanyaan yang sudah diajukan oleh seseorang.

Proses konfirmasi dan pengecekan perlu dilakukan. Jangan sampai sebuah kesimpulan dilakukan secara terburu-buru. Saat melihat pensil yang disimpan dalam gelas, secara kasat mata akan terlihat patah. Padahal pensil tetap utuh, hanya karena ditenggelamkan dalam air sehingga terlihat patah. Olehnya, apa yang terlihat perlu dikonfirmasi dan dicek untuk memastikan bahwa informasi yang disampaikan sudah tepat. Jangan sampai karena terburu-buru, akhirnya yang tertulis justru mengandung kekeliruan.

Di satu sisi, deskripsi pengalaman yang diperoleh secara indrawi merupakan salah satu sumber pengetahuan (Poespowardojo & Seran, 2016). Hanya saja, itu bukan satu-satunya. Sebab indrawi bisa saja salah dalam memberikan gambaran sesuatu. Sehingga diperlukan aspek lain untuk membantu indrawi dalam proses menemukan kebaruan ilmu pengetahuan. Baik phenomenon, maupun noumenon diartikulasi oleh penulis untuk mempresentasikan sebuah pengalaman.

Proses menulis jika itu adalah sebuah karya ilmiah dilakukan dengan tahapan saintifik. Dengan demikian informasi yang disampaikan sesungguhnya adalah maklumat ilmu pengetahuan. Informasi yang disajikan perlu dipertanggungjawabkan secara metodologi. Seorang penulis perlu berusaha dengan sepenuh hati untuk tidak melibatkan subyeknya sehingga dapat diterima oleh siapa saja karena berlaku secara universal.

Sementara ilmu sosial dalam pandangan Habermas (1984) harus menjadi sarana pembebasan dan emansipasi. Masih menurut Habermas kolonisasi atau dominasi sudut pandang menjadi momok bagi yang harus dilawan. Maka, dalam pengetahuan untuk ranah kajian sosial harus membebaskan dari kunkungan dan jerat kebendaan. Hal yang harus ditumbuhkan adalah kemandirian. Hanya saja, sebagai pribadi tetap saja penulis secara manusiawi juga mengalami kondisi keterbatasan.

Keterbatasan pengetahuan menjadi kondisi yang wajib diterima dan bersamaan dengan subyektifisme manusia. Maka, kebaruan adalah mengurangi keterbatasan dan juga upaya untuk memberikan makna dalam kondisi kekinian (Powell, 1901). Cara memahami inilah yang kemudian merupakan sebuah novelty yang akan memberikan tambahan dalam pemahaman yang utuh untuk sebuah kondisi yang sudah ada. Perkembangan ilmu pengetahuan mengalami evolusi (Cigswell, 1899) yang tidak dapat diselesaikan satu generasi. Maka, kelanjutan dari generasi ke generasi akan menyempurnakan pemahaman.

Kerja-kerja pengetahuan merupakan ikhtiar intelektual untuk menyampaikan informasi yang sudah terjawab. Masing-masing ilmuwan berupaya untuk melengkapi kepingan puzzle sebagai jawaban fenomena alam. Maka, tugas seorang ilmuwan adalah usaha untuk mempresentasikan kebaruan atas fakta atau nillai. ***

Lahir di Camba, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Menyelesaikan pendidikan doktor di Universiti Kebangsaan Malaysia. Sekarang ini bertugas di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sorong, Papua Barat. Sejak 2010 ditugaskan sebagai pelaksana kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong sampai 2011. Sejak 2012 sebagai Kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong untuk periode 2012-2016. Kemudian, diangkat kembali untuk periode 2016-2020. November 2016 menjadi bagian Southeast Asia Academic Mobility (SEAAM). Kini, menjadi Pengurus AGUPENA Papua Barat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Literasi

Rahasia Menulis

Ismail Suardi Wekke STAIN Sorong & Agupena Papua Barat Menulis menjadi keperluan
Go to Top