Merajut Silaturrahim di Negeri Kangguru

Rubrik Opini Oleh

Oleh Abd Majid
(Mahasiswa Pascasarjana The University of Adelaide)

Di mana pun berada, manusia adalah makhluk sosial yang tidak akan bisa lepas dari orang lain. salah satu bentuk interaksi sosial manusia adalah bersilaturrahim. Memang tidak ada yang meragukan keutamaan menjalin silaturrahim dengan sesama, apalagi kalau kita sedang berada jauh dari kampung halaman. Contohnya, ketika ketemu orang Indonesia, serasa ketemu emas permata. Indahnya, dan sungguh indah. Jauh dari keluarga besar terasa terobati ketika berkumpul dengan teman-teman senasib seperjuangan ditanah rantau.

Selain silaturrahim adalah ajaran agama yang harus kita lakukan, silaturrahim juga merupakan rangkaian kegiatan yang bisa memperluas jaringan dalam meniti masa depan yang lebih baik. Ada banyak hal yang bisa kita dapatkan ketika kita sedang bersilaturrahim. Ada banyak sekali cerita, inspirasi hidup dari pengalaman orang lain, hikmah kehidupan, tawaran pekerjaan, sampai hal-hal yang awalnya kita anggap remeh namun ketika bersilaturrahim itu menjadi sesuatu yang luar biasa manfaatnya, seperti awalnya tidak saling tahu-menahu, malah berjodoh di kemudian hari.

Maka sungguh Alloh Maha Benar atas segala firman-Nya karena memerintahkan kita bersilaturrahim dengan orang lain. Alloh SWT berfiman dalam surat Al-Hujurat ayat 10 yang berarti “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah bersaudara”. Rasululloh SAW juga bersabda yang diriwayatkan oleh Imam Muslim “Tidak masuk syurga orang yang memutuskan, yaitu memutuskan tali silaturrahim”. Ini adalah sebagian kecil dalil kenapa silaturrahim itu sangat perlu untuk kita lakukan.

Perubahan cara orang bersilaturrahim pun berbeda dari waktu kewaktu seiring berkembangnya alat komunikasi atau teknologi informasi dan komunikasi. Kalau orang dulu bersilaturrahim secara langsung berhadapan, selanjutnya melalui telpon rumah, dilanjutkan dengan HandPhone, dan sekarang yang paling banyak digunakan adalah sosial media (sosmed). Sosmed memungkinkan kita berinteraksi dan bersilaturrahim dengan sangat mudah dan cukup efektif, walaupun terkadang silaturrahim terasa sedikit hampa tanpa saling melihat dan tatap-tatapan. Tapi yang jelas, tidak salah kiranya kita menggunakan teknologi untuk menjalin silaturrahim dengan orang lain bahkan teknologi menjadi lebih bermanfaat dan insyalloh barokah ketika kita menggunakannya sebagai alat silaturrahim daripada sekedar mencari gossip apalagi menyebar fitnah belaka. Allah SWT melarang kita memutuskan silaturrahim.

Dalam surat Ali Imran ayat 103, Allah SWT berfirman “واعتصموا بحبل الله جميعا ولاتفرقوا “ yang artinya “berpegang teguhlah kalian pada tali Alloh dan jangan bercerai berai”. Kalimat “Jangan bercerai berai” merupakan kalimat larangan yang tentunya kalau kita melanggar larangan Allah, maka akan ada konsekuensinya baik dalam kehidupan dunia maupun nanti dikehidupan setelahnya. Dalam potongan ayat ini kita bisa memaknai bahwa ternyata kita tidak hanya cukup mengenal dan menyembah Alloh SWT, namun juga perlu kita melihat aspek kehidupan nyata disekitar kita. Menjalin hubungan dengan Alloh SWT itu wajib, begitu juga menjalin hubungan dengan sesama manusia. Hablumminallah wahablumminnas.

Berada di negera, seperti Australia, dengan budaya yang berbeda tentunya memiliki tantangan sendiri dalam bersilaturrahim. Kita harus berusaha menjaga silaturrahim namun tentunya tidak serta merta ikut terbawa budaya mereka. Khususnya ummat muslim memiliki batas-batas dalam menjalin hubungan sosial dengan non-muslim lainya. Ada hal-hal yang bisa ditoleransikan, dan ada hal-hal yang tidak boleh sama sekali ditoleransikan. Kalau sudah menyangkut masalah ritual keagamaan, “lakum dinukum waliyadin (Bagimu agamamu, bagiku agamaku)” dalam surat Al-Kafirun sudah sangat jelas menjelaskan konsep toleransi. Namun kalau menyangkut sosial kemasyarakatan, maka haruslah saling bahu-membahu tanpa harus melihat agama dan kepercayaan masing-masing karena sejatinya semua agama dan kepercayaan mengajarkan hal yang hampir sama kalau itu dalam ranah membangun sosial kemasyarakatan.

Penulis memiliki pengalaman yang sangat indah selama berada di Australia bersama komunitas Indonesia. Sekali lagi bahwa bertemu dengan teman senegara diluar negeri itu sesuatu banget walaupun banyak juga orang yang sengaja menghindari komunitas negera asalnya dengan alasan ingin mengembangkan sayap kekancah internasional.

Tinggal di Australia Selatan, tepatnya di Kurralta Park, penulis hidup bersama beberapa keluarga dari Indonesia. Komplek ini popular dikalangan orang Indonesia dengan sebutan KCB, yang katanya terinspirasi dari film Ketika Cinta Bertasbih padahal kepanjangannya Kurralta City Beach. Setiap akhir pekan, selalu ada acara yang dibuat seperti tilawah bergiliran dimasing-masing Unit/rumah atau bahkan Bersama-sama ke taman-taman (playground) sekitar. Kegiatan ini dibuat tidak lain tujuannya kalau bukan untuk tetap menjalin silaturrahim diantara para perantau.

Akhirnya, semoga kita bisa terus bisa menjalin hubungan yang harmonis, baik itu hubungan vertikal dengan Alloh SWT, maupun hubungan horizontal dengan sesama manusia dan semoga kita terhindar dari golonga orang-orang yang memutuskan silaturrahim. Amin ya rabb!
Wallohu alam bishawab. ***

Adelaide, 21 June 2017

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Opini

Mana Pahlawanku?

Hari Pahlawan 2017 telah berlalu (10/11). Pada hari itu seluruh rakyat Indonesia,
Go to Top