HARI RAYA SAATNYA KEMBALI KE RUMAH

Rubrik Opini Oleh

Ismail Suardi Wekke
STAIN Sorong & Agupena Papua Barat

Di penghujung Ramadhan, jutaan bahkan puluhan juta orang berbondong-bondong berusaha untuk pulang. Bahkan diantara mereka harus mengorbankan jerih payah yang sudah dilakukan selama ini. Mereka harus menempuh jarak dan juga biaya yang tidak sedikit. Semuanya dilakoni karena kerinduan akan pertemuan dengan keluarga.

Secara khusus momentum Ramadhan bagi muslim di Indonesia dijadikan waktu untuk kembali ke kampung. Saat itu adalah kesempatan yang sangat berharga untuk berkumpul dengan handai taulan, setelah setahun lamanya dipisahkan oleh jarak. Walaupun harus dengan perjuangan seperti di tahun 2016 saat idul fithri 1437 H. Insiden Brexit (Brebes Exit) dimana terjadi penumpukan kendaraan sehingga antrian panjang yang mesti ditempuh tidak kurang dari dua belas. Semuanya terlunasi saat berjumpa dengan keluarga.

Para pekerja di pelbagai pabrik, demikian pula dengan asisten rumah tangga di kota-kota. Mereka sepenuhnya berusaha untuk senantiasa berada di sekitar keluarga saat merayakan hari raya. Setelah setahun tidak bersua dengan keluarga, mereka menjadwalkan secara khusus untuk mudik dan memilih waktu hari raya untuk bertemu. Semuanya karena kerinduan yang memuncak dan ditumpahkan khusus pada hari raya.

Begitu pula saat tahun baru, di China. Mereka kemudian memilih merayakan Gong Xi Fa Chai bersama dengan keluarga. Mereka juga harus menempuh perjalanan panjang dari tempat mukim ke rumah keluarga. Bahkan dalam beberapa kesempatan karena tahun baru biasanya di musim dingin, mereka rela menginap di bandara untuk menunggu penerbangan yang tertunda akibat salju tebal.

Adapun masyarakat Amerika merayakan natal dengan makan kalkun bersama keluarga. Mereka menanti-nantikan saat bersama keluarga. Sehingga merekapun juga berusaha untuk juga pulang. Kebersamaan untuk berkumpul bersama keluarga. Mereka akan membuka kado natal yang diterima dari keluarga besar. Saat-saat itulah yang senantiasa dinantikan dari tahun ke tahun.

Walaupun berbeda dalam ritual, maka seorang manusia selalu berusaha untuk pulang. Hanya saja, ada perbedaan dalam memaknai keberagamaan. Tetapi sejatinya mereka selalu berusaha untuk pulang. Berusaha untuk bersama dan berbagi kegembiraan dengan kerabat. Tak ada hari raya yang dirayakan dalam kesendirian. Semuanya ingin bersama dan bersua. Kekhidmatan hari raya justru dijalani dengan kebersamaan. Bagi yang berpunya mereka dengan ringan tangan mengulurkan bantuan bagi yang tidak beruntung.

Dalam satu kesempatan Idul Fihtri di Jakarta, pemandangan manusia gerobak sangat jamak. Mereka tidak memiliki kesempatan untuk pulang ke kampung halaman. Dalam banyak kesedihan, mereka bahkan tidak punya sanak keluarga. Beberapa diantaranya karena tidak memiliki ongkos untuk pulang. Sehingga mereka mesti menjalani takdir dengan mendorong gerobak dari satu tempat ke tempat lain hingga datangnya malam untuk sekadar berteduh. Hari raya tak ada keistimewaan sama sekali, justru yang dating adalah kesedihan. Di saat orang lain bergembira, mereka justru tidak berdaya sama sekali.

Itulah potret dimana mereka justru tidak mengenal kosakata rumah selain gerobak. Belum lagi mereka harus menghadapi rasia yang justru tidak memberikan alternatif apa-apa dan menjadi momok tersendiri. Keberadaan mereka di ibukota justru dianggap sampah. Mereka kemudian kehilangan arti rumah baik dalam bentuk fisik maupun kehangatan. Atau bahkan mereka sudah tidak mengenal kata rindu itu sendiri.

Maka bagi yang memiliki rumah untuk pulang, sebuah kesyukuran tersendiri. Dimana ada ruang dan juga orang yang selalu dapat dijadikan sebagai tujuan untuk pulang. Masih banyak orang lain yang justru tidak memiliki sama sekali jangankan rumah, mereka hanya memiliki ruang dalam bentuk gerobak untuk sekadar rehat. Merebahkan tubuh, entah setelah itu mereka tidak tahu harus kemana lagi. Maka bagi mereka, hari raya bukan untuk pulang. Tapi hari raya justru berusaha untuk menghindar dari kesedihan yang bisa saja dating menyengat. ***

Lahir di Camba, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Menyelesaikan pendidikan doktor di Universiti Kebangsaan Malaysia. Sekarang ini bertugas di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sorong, Papua Barat. Sejak 2010 ditugaskan sebagai pelaksana kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong sampai 2011. Sejak 2012 sebagai Kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong untuk periode 2012-2016. Kemudian, diangkat kembali untuk periode 2016-2020. November 2016 menjadi bagian Southeast Asia Academic Mobility (SEAAM). Kini, menjadi Pengurus AGUPENA Papua Barat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Opini

IT dan Hasil Karya

Oleh: Fortin Sri Haryani Abad ke-21 disinyalir sebagai abad digital karena instrumentnya
Go to Top