MENULIS TAK ADA HUBUNGAN DENGAN BAKAT

Rubrik Literasi Oleh

Ismail Suardi Wekke
STAIN Sorong & Agupena Papua Barat

Satu-satunya kemampuan manusia yang dibawa sejak lahir hanyalah menangis. Maka, saat seorang anak lahir dari Rahim ibunya masing-masing, maka hanya menangis yang bisa dilakukannya. Setelah itu, semuanya perlu latihan, belajar, dan kemauan untuk mengasah. Tanpa ketiganya, maka akan perbedaan kemampuan antara satu anak dengan anak yang lain.

Sebuah keterampilan, jika tidak dilakukan secara berkesinambungan, bisa saja hilang. Seorang anak yang memperoleh bahasa dari lingkungannya, kemudian pindah ke daerah lain yang tidak menuturkan bahasa sebagaimana yang sudah diperolehnya di lingkungan sebelumnya, maka bahasa yang sudah dikuasai akan hilang begitu saja. Begitu pula keterampilan lainnya, walaupun sudah menguasai tetapi kalau tidak dipertahankan, maka secara perlahan kemampuan itu akan berkurang sedikit demi sedikit. Pada titik tertentu bisa saja hilang dan lenyap.

Begitu juga dengan menulis sepenuhnya soal keterampilan, maka diperlukan kemauan untuk belajar. Tak ada manusia yang memperoleh kemampuan menulis melalui wahyu bahkan Nabi sekalipun tetap saja perlu belajar untuk menulis. Walaupun pesan-pesan keilahian didapatkan melalui wahyu tetapi begitu akan dituliskan maka bukan lagi teknis wahyu melainkan berurusan dengan keterampilan. Dalam konteks Nabi Muhammad SAW bahkan memerlukan bantuan sahabat sebagai penulis Quran.

Jikalaupun ada yang mengajukan alasan bahwa ketidakmampuan menulis semata-mata karena bakat, maka kita perlu berhenti sejenak. Betapa Buya Hamka tidaklah terlahir dari keluarga penulis. Demikian pula, Soekarno, pendiri republik ini, juga tidak dilahirkan dari orang tua yang berprofesi sebagai penulis. Tentu kita tidak dapat menafikan bahwa ada juga memang penulis yang terbentuk karena faktor lingkungan yang memang karena profesi orang tuanya sebagai penulis. Namun, bukan karena hereditas yang diturunkan dari genetika orang tua. Hal tersebut semata-mata karena dalam keseharian terlibat dalam aktifitas yang berhubungan dengan soal tulis menulis.

Untuk mencapai sebuah karya tulis, maka sepenuhnya adalah dengan berupaya untuk membaca dan mulai mempelajari perbedaan kata demi kata. Ketika merangkai kata untuk menjadi kalimat dengan mudah akan disusun menjadi sebuah wacana karena ketersediaan ide yang diwujudkan dalam bentuk kata. Ini tidak bisa didapatkan begitu saja, tetapi sepenuhnya adalah soal latihan semata. Dimulai dari mengidentifikasi ide sampai menuangkan dalam bentuk sebuah tulisan.

Setelah menulis, maka diendapkan beberapa saat kemudian disunting kembali. Bisa saja dalam proses penyuntingan ada beberapa hal yang tidak dicermati pada kesempatan sebelumnya. Maka, saatnya untuk memperbaiki, memoles, dan juga menyempurnakan. Proses seperti ini, bukanlah berlangsung sekali saja. Bahkan jikalau dilakukan dalam beberapa kesempatan akan semakin memperbaiki tulisan tersebut.

Ketakutan seorang penulis kerap berkaitan dengan ketidakpercayaan diri. Untuk menyingkirkan ketakutan itu, perhatian perlu diarahkan bahwa satu-satunya yang perlu ditakuti adalah jikalau terjebak pada tindakan plagiat. Jikalau kualitas artikel dipersoalkan penulis lain, maka ada cara yang memungkinkan yaitu dengan mengajukan tulisan bantahan. Dalam kesempatan tersebut, kalaupun kita salah maka tetap saja akan mendapatkan satu sitasi. Untuk itu, semua ketakutan berkenaan dengan kepenulisan perlu disingkirkan. Selama tidak melakukan plagiat, maka karya tulis tersebut sudah mendekati kesempurnaan.

Olehnya, menulis sepenuhnya adalah persoalan kemampuan individual yang tidak berkaitan dengan orang tua sekalipun. Kedua orang tua tidak menurunkan bakat sama sekali kepada anak-anaknya dalam soal bakat. Maka, ketika seseorang memutuskan untuk menulis, maka kemampuan tersebut akan didapatkan dengan usahanya sendiri tanpa terikat sama sekali dengan anugerah bakat yang dibawa sejak lahir. ***

Lahir di Camba, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Menyelesaikan pendidikan doktor di Universiti Kebangsaan Malaysia. Sekarang ini bertugas di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sorong, Papua Barat. Sejak 2010 ditugaskan sebagai pelaksana kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong sampai 2011. Sejak 2012 sebagai Kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong untuk periode 2012-2016. Kemudian, diangkat kembali untuk periode 2016-2020. November 2016 menjadi bagian Southeast Asia Academic Mobility (SEAAM). Kini, menjadi Pengurus AGUPENA Papua Barat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Literasi

Go to Top