MERAIH ENAM (6) MUTIARA FAJAR LASKAR KEMENANGAN DI HARI RAYA IDUL FITRI

Rubrik Opini Oleh

Oleh : H.A. Sholeh Dimyathi

Fajar 1 Syawal telah menyingsing di ufuk timur, pada saat ini kita berada pada hari raya Idul Fitri 1438 H. Pada hari ini di segenap penjuru dunia, umat Islam bersedia untuk bangkit secara serentak menggemakan dan mengumandangkan takbir, tahlil dan tahmid. Idul Fitri menandai berakhirnya bulan Ramadhan, sekaligus mengawali kehidupan baru yang diharapkan lebih baik daripada sebelumnya. Umat Islam di Indonesia merayakan Idul Fitri dengan tradisi berlebaran, yang disemarakkan dengan mudik ke kampung halaman, untuk bertemu sanak keluarga yang tak kalah meriahnya. Semuanya berlangsung indah, rukun dan damai. Segala kesalahan, kekhilafan dan prasangka buruk dilebur dalam semangat Idul Fitri.

Setelah menjalani shaum selama sebulan penuh, umat muslim telah ditempa untuk menyucikan diri sehingga diharapkan mempunyai FITHRAH jiwa yang bersih serta terkendali. Dengan pengendalian diri itulah, segala langkah yang diambil akan sesuai dengan ketentuan hidup yang tertib, aman dan damai.

Itu sebabnya hari ini kita berhak merayakan sebuah kemenangan, menjadi pribadi yang TAQWA, dan menjadi pribadi yang FITRAH.Dan rupanya mempertahankan KEMENANGAN jauh lebih tidak mudah dibandingkan dengan MENCAPAI KEMENANGAN itu. Banyak orang yang sudah menang lalu menjadi sombong, lupa diri, lupa berbagi, bahkan lupa jati diri.

Banyak orang berpikir,Idul Fitri adalah puncak kemenangan kaum musilimin. Tahukah Kita jika Kita pun merasakan bahwa Idul Fitri adalah puncak, maka biasanya setelah puncak yang hadir adalah turunan. Itu sebabnya, betapa banyak kaum Muslimin yang sudah berjuang 30 Hari di Bulan Ramadhan untuk meraih fithrah, justru kembali kepada fithnah. Selain turun kualitas amalnya, turun pula kuantitas amal-amalnya.

Yang tadinya sholat malam rutin, kini tak lagi rajin. Yang tadinya membaca Al-Qur’an penuh semangat, kini tak lagi antusias, sebab dianggapnya sudah tamat. Yang tadinya banyak sedekah dan berbagi, kini tak lagi sudi kecuali hanya sedikit sekali. Na’udzubillahi min dzalik. Itu sebabnya kemenangan sejati adalah hanya milik orang-orang yang bertaqwa, bukan milik orang-orang yang tertawa ketika Ramadhan ditinggalkannya.Allah berfirman;Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu mendapatkan kemenangan.
{Q.S. An-Naba’ (78) : 31}.

Selama mutiara di hatimu masih kokoh bersemayam, tidak tergadai apalagi terjual, maka kemenangan itu selalu berulang, sebab mutiara itu obor harapanmu. Ibarat laskar yang pantang pulang sebelum kemenangan di tangan, membela mati-matian, terjatuh satu terbangun seribu. Ya, mutiara tetaplah sebagai mutiara dimana pun ia berada. Kitalah mutiara sang pemenang sejati. Dimana seorang pemenang tak pernah menyerah dan orang yang menyerah tak pernah menang.

Kemenangan sejati itu bersifat FITRAH. FITRAH itu Semula Jadi. Fitrah itu Keaslianmu diwaktu dulu. FITRAH itu kesejatianmu sebagai Abdullah dan Khalifah. Yakinlah, Setiap dirimu dihadirkan sebagai pemenang sejati. Walau tak selamanya engkau memenangkan petualanganmu, tapi yakinlah bahwa selamanya engkau adalah sang pemenang. Percayalah, melodi kemenanganmu masih terpelihara hingga kini. Tak masalah berapa kali Engkau pernah gagal, yang penting berapa kali engkau bangkit dari kegagalanmu.

Masih ingatkah, dulunya, dari sekitar dua juta setengahsel spermatozoa yang terlepas bahagia, saat ledakan start lomba bersama purnama cinta, maka engkaulah satu-satunya yang bertahan, lantaran engkaulah sel spermatozoa yang paling sabar, paling tahu jalan, paling ikhlas, paling bertawakkal, paling bersyukur, paling mengerti tentang cinta, paling istiqomah, paling tinggi harapannya, sehingga engkau pun terus bergerak lincah bergairah menuju piala “ovum” yang tersedia hanya satu-satunya. Engkau tercipta sebagai sang pemenang sejak awal mula. Satu mengalahkan 2,5 juta. Maka bergeraklah terus untuk MEMPERTAHANKANNYA.

Allah Swt. berfirman;”Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap. {Q.S. Al-Insyiroh (94) : 7-8}

Sekali lagi kita yakinkan, bahwa engkaulah pemenang itu. Maka buanglah putus asamu, dan sambunglah kasih sayang dan sinergi bersama saudaramu. Bersilaturahimlah. Jangan ceraikan apapun yang sudah baik bersatu, terlebih hanya lantaran ada satu dua yang tidak setuju. Lebih baik bersatu dengan sedikit dosa, daripada sendiri dengan membawa bangga, lalu merasa paling suci. Percayalah, orang terbaik bukanlah orang yang tidak pernah berbuat dosa, tapi orang terbaik adalah orang yang segera bersuci dan bertaubat ketika dosa tak sengaja itu mengurangi kualitas bening mutiara hatinya.

Satu pertanyaan yang perlu kita renungkan. Apakah kita hari ini sudah mendapatkan kembali sang FITRAH itu?.Secara sederhana, penulis akan uraikan singkatan dari FITRAH.

FITRAH diawali huruf “F”, yang berarti “Furqon”. “I” kependekan dari “Ikhlas”. “T” berirama “Tawakkal”. “R” adalah “Rendah Hati”, lalu “A” adalah “Apa Adanya”, serta yang terakhir “H” melambangkan sebuah “Harapan”.

FURQON
Furqon artinya pembeda. Membedakan mana mutiara dari hati dan mana mutiara dari hawa nafsu. Pemisah antara yang benar dan salah, hak dan batil, cahaya dan kegelapan, sukses dan gagal, pemenang dan pecundang, iman dan ingkar, Annur dan Annaar.Ketahuilah, kecerdasan tertinggimu adalah kecerdasan akan kemampuanmu dalam hal membedakan sesuatu. Seperti Nabi Ibrahim as., kecerdasannya bermuara kepada kemampuan kecerdasan spiritual, yakni membedakan mana Tuhan sesungguhnya dan mana Tuhan yang rekayasa. Untuk menjadi sang pembeda yang lihai dan pkitai, maka kita tak cukup membuat perbedaan dalam tataran pikiran dan rasa saja. Untuk membedakan dengan cerdas dan tuntas, kita harus mulai membuktikannya dengan langkah-langkah yang istiqomah dan bergairah.

Artinya, seringkali untuk menjadi cerdas dalam membedakan, kita harus berani mencoba bertindak, bukan sekedar berani berpikir dan meyakini. Ingatlah, dua penyebab kegagalan sejati adalah :pertama, karena beriman tanpa bertindak, dan yang kedua, karena bertindak tanpa dilkitasi keimanan. Keimanan adalah akarnya tindakan.Tentu saja, Sejak kapan akar mengkudu berbuah durian? Sejak kapan keikhlasan berbuah keluhan? Sejak kapan cinta berbuah derita? Sejak kapan harapan berbuah putus asa? Sejak kapankah? Engkaulah yang memilihnya.Allah Swt. berfirman;

Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, Maka Allah dan rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.
{Q.S. At-Taubah (9) : 105}

Janganlah menjadi penakut dan hanya mau berada di tepi, di pinggiran, menjadi orang-orang yang meminggirkan diri. Sebab jika kita menyendiri lantaran takut, maka untuk apa kita gunakan RUH suci dari Tuhanmu itu? Allah mengingatkan dalam firmanNya;

Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi. Maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. {Q.S. Al-Hajj (22) : 11}

Ayo pilihlah. Biarkan fitrahmu tetap bermuara. Biarkan mutiara fajar itu bekerja. Tanpa pilihan maka kita yang akan dipilihkan, diperebutkan, ditarik-tarik, didorong-dorong, diobok-obok. Kita lah objeknya, kita lah targetnya, kita lah mangsanya.

Ingatlah bahwa Hidup ini adalah PILIHAN. Dan setiap Pilihan pasti mengandung resiko yang tak bisa Kita pilih. Kalau Kita memilih Ikan paus maka resikonya bernama samudera, bukan selokan. Artinya, pelaut ulung tidak dilahirkan dari laut yang tenang. Layang-layang terbang tinggi karena berani melawan arah angin. Cita-cita besar akan dipaketkan dengan ujian dan resiko yang besar. Memilih itu memang tidak mudah, tetapi Tidak pernah memilih, jauh lebih menyulitkan lagi.

IKHLAS
Kita dikatakan tidak ikhlas jika : Kita beramal karena orang lain, atau jika kita tidak jadi beramal karena orang lain. Dan kita dikatakan tidak ikhlas jika mayoritas ucapan kita berisi keluhan dibandingkan kesyukuran.Sudahkah kita ikhlas dengan kehidupan kita saat ini? Adakah yang membuat hidup kita tidak bisa berjalan dengan ikhlas? Masalah-masalah kah yang telah membuat kita mempermasalahkan keikhlasan kita? Bukankah masalah-masalah itu yang tetap membuat kita hingga kini bertahan dan berTuhan?

Allah mengingatkan kita dalam firmanNya; “Dan (aku telah diperintah): “Hadapkanlah mukamu kepada agama dengan tulus dan ikhlas dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang musyrik. {Q.S. Yunus (10) : 105}.

Kadang kala masalah hadir lewat hembusan angin, kadang lewat amukan air, kadang lewat luapan api, dan kadang lewat retaknya bumi. Tapi itu semua hakikatnya hanya ilusi, eksternal masalah kita, tapi internal ujian kita. Semuanya kembali pada diri kita, pada fitrah kita, dimana sang mutiara fajar bersemayam.

Walaupun semua orang mengatakan bahwa kita akan gagal, tapi jika kita yakin bisa berhasil maka, insya ALLAH kita pasti berhasil. Dan walaupun semua orang mengatakan bahwa kita akan berhasil tapi kita malah ragu, maka keraguan dan kegagalanlah yang akan kembali kepada kita. “Famayya’mal mistqoola dzaarotin khoiroyyaroh, wamayya’mal mistqoola dzarrotin syarroyyaroh

Tidak ada yang berat, jika tenaga kita cukup untuk mengangkatnya, bahkan menyelaraskannya. Sesendok garam bisa membuat air dalam gelas menjadi asin. Tapi tidak ada air yang asin, walau seratus sendok pun garam ditumpahkan, jika wadahnya selebar danau keikhlasan. yakniLapangnya dada kita.

Mulai hari ini, hindari do’a penuh keluhan “Wahai Allah, masalahku sangat besar”, tapi katakanlah “Wahai Masalah, Allah itu Maha Besar.” Nah, sebesar apakah masalah kita? Sebesar bumikah? Apakah “gara-gara” masalah kita sebesar bumi lalu engkau mengecilkan Allah dan kekuasaan-Nya? Astaghfirullahal’aziim. Allah mengingatkan; “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’. {Q.S. Al-Baqoroh (2) : 45}

TAWAKKAL
Tawakkal artinya menyerahkan segala permasalahan hidup kita hanya kepada Allah, dari jiwa kita yang terdalam. Allah lah tempat siapa pun berharap, menggantungkan harapan tertinggi dan semua. Paket dari Tawakkal adalah Azam, atau tekad kuat dan usaha yang mantap. Tawakkal tanpa ditemani tekad dan usaha adalah pasrah yang kebablasan. Ber-azam dulu, berencana dulu, berdo’a dulu, barulah kita bertawakkal kepada Allah SWT seraya bersungguh-sungguh bergerak.

Kemudian apabila kamu telah ber-azam (membulatkan tekad), maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. { Q.S. Ali-Imron (3) : 159}

Apa yang sesungguhnya kita butuhkan dalam hidup ini? Sudahkah kebutuhan kita selaras dengan sinergi dakwah semestamu. Apakah kebutuhan kita jika terpenuhi, sungguh tidak akan menjadikan dirimu lupa akan tugas utamamu. Sebagai Khalifah dan hamba Allah.

“…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. { Q.S. Al-Baqoroh (2) : 216}”

Mulai hari ini, percayakan saja sepenuhnya kepada-Nya setiap kebutuhan-kebutuhan kita, setiap sel dalam tubuh kita, satu-satunya ruh dalam jiwa kita, dan setiap ujian cerca yang melkita kita. Berserah dirilah dengan penuh. Bertawakkallah dengan sungguh.

Mulai hari ini, belajarlah kita untuk memberi lebih ikhlas dan tawakkal. Memberilah kepada manusia karena cinta kita kepada Allah, dan memintalah kepada Allah agar kita bisa memberi lebih banyak lagi. Salah satu ciri orang yang memiliki TAWAKKAL yang tinggi adalah hobinya untuk berbagi dan bersedekah.

Kaya itu Penting, Tapi Sedekah itu jauh lebih kaya dan abadi. Kaya di dunia dan kaya di akhirat. Jangan takut bersedekah karena miskin, dan jangan takut miskin karena bersedekah. Sedekah akan membuat kita menjadi kaya, bahagia, dicintai Allah dan makhlukNya. Itu sebabnya, Jangan pernah menunggu kaya baru kita bersedekah, tapi bersedekahlah maka kita menjadi kaya.

Begitupun, tak usah sungkan diri kita menginfakkan harta kita untuk kegiatan jihad fisabilillah. Harta yang kita habiskan untuk jajan dan merokok hanya akan menjadi beban hisabmu di akhirat, tapi bersedekah, untukjihad fisabilillah, menjadikan harta kita berkah, menyelamatkan kita di alam barzah.Allah Swt.berfirman;

“… Dan barang siapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya). Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. {Q.S. Ath- Tholaaq (65) : 3}

RENDAH HATI
Jadikan diri kita sebagai pemenang yang rendah hati. Tidak usahlah kita tambah, sudah cukup banyak para pemenang yang arogan, walau tidak sedikit juga para pecundang yang justru lebih arogan. Memang sungguh Terlalu! Allah mengingatkan dalam QS.Al-A’raf ayat 166; “Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang dilarang mereka mengerjakannya, kami katakan kepadanya: “Jadilah kamu kera yang hina”. { Q.S. Al-A’raaf (7) : 166}

Hanya sedikit pencetak gol yang lantas refleks sujud syukur setelah wasit memastikan kesahihan golnya. Kebanyakan mereka merayakannya dengan berteriak, menari, bahkan memamerkan sedikit aurat di perutnya; dengan demikian, berhasil membuat lawan yang tertinggal angka, menjadi resah dendam terpatri. Ingat sekali lagi, Gol itu bukan tujuan utama, tapi hanya percepatanmu menuju ketaqwaan. Kalau lantaran Gol tercipta lalu bolong jala ketaqwaanmu, maka segeralah kembali kepada jalan yang fitrah.Sebagaimana Allahberfirman dalam QS.Al-Israa’;”Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia niscaya berpalinglah Dia; dan membelakang dengan sikap yang sombong; dan apabila dia ditimpa kesusahan niscaya dia berputus asa.{ Q.S. Al-Israa (17) : 83}

APA ADANYA
Sudahkah hari ini kita melihat dunia ini apa adanya? Sudahkah kita menerima keadaan diri kita, keadaan semesta kita, lebih dan kurangnya, dengan apa adanya? Masihkah ada rasa tertekan, sumbatan energi dalam tubuh kita, ketika semesta kita mempertontonkan rasa zalim yang menyakiti kita? Pikir kita, bisakah seseorang menyakiti hati kita jika kita tak mengizinkan hati kita untuk tersakiti?

Berkarakter “apa adanya” bukan berarti menyerah pada kezaliman yang ada. Lalu siap ditekan dan dizalimi sesama. Sekali lagi, Bukan berarti tertekan itu dipersilakan, tapi berdamailah dengan diri sendiri, selaraskan dengan normatif religi, lalu lebih kuat bersinergi untuk perbaiki semesta kita itu dan ini. Buat apa tertekan, jika perasaan tertekan terbukti lebih berkonstribusi menambah masalah kita. Selaraskan jiwa kita dengan nilai luhur kita, bukan selaraskan diri kita dengan nilai leluhur kita atau realita terbaru. Tidak semua dari Leluhur itu luhur, dan juga tidak semua yang baru itu luhur; Yang luhur hanyalah yang “Apa adanya” tertera di dalam Al-Quran dan Sunnahnya.

Nilai luhur itu dari Tuhan, sedangkan realita itu sudah banyak rekayasa syaitan dan manusia arogan. Sekali lagi engkau harus memfilternya, dan berani memilih, memilah, bukan diam malah. Jangan menyerah dengan “apa adanya” yang salah, tapi berbahagialah dengan “apa adanya” yang fitrah.Sebagaimana dijelaskan dalam QS.Ali-Imran ayat 146;

Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. {Q.S. Ali-Imran (3) : 146}

Para pemilik fitrah sejati pun memiliki kekuatan “Apa Adanya” dalam menerima risalah Islam. Berkarakter “Sami’na wa Atho’na”. Kami dengar, dan kami lakukan. Benar-benar menempatkan Al-Quran di atas seluruh aturan, dihormati dengan segenap, dijadikan subyek rujukan untuk kemaslahatan hidup manusia, kesejahteraan semesta. Ya, sebuah rujukan dan bukan rujakan.

Hari ini ada sebagian manusia karakternya sudah tidak “Apa adanya”, tapi lebih kepada “Ada apanya”. Mereka coba memilih-milih aturan Allah, memfilter yang sudah murni, menyaring dalam angan. Dan berusaha menyingkirkan aturan Allah yang sudah baku dengan berbagai dalih logika dan empati yang bernuansa musyrik sejati, ciptaan sendiri.

Mereka tidak menjadikan Al-Quran sebagai subjek, tetapi malah dijadikannya sebagai objek. Mereka tidak menjadikan Al-Quran sebagai rujukan, melainkan malah menjadikannya sebagai rujakan. Mereka potong ayat-ayat yang sudah ada, lalu mereka campur dengan bumbu kemunafikan, diolah dengan sambal kemaksiatan; sehingga ayat-ayat Al-Quran yang murni pun menjadi ternoda dan tercampur oleh suasana nafsu hati mereka. Pantas saja jika bumi, langit, dan seisinya rusak dan demam karena tindakan mereka dan orang-orang sejenisnya.

Ketika kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan (Al-Quran) mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan (Al-Quran) itu. {Q.S. Al-Mu’min (23) : 71}

HARAPAN
Para insan taqwa yang dimuliakan oleh Allah SWT. Hari ini yakinlah bahwa para pemilik fitrah sejati selalu mempunyai harapan dalam hidupnya. Manusia tanpa harapan tidak ada bedanya dengan jasad mati yang bergerak tanpa Arruh dan Arah. Itu sebabnya, kita harus memiliki banyak harapan, setidaknya satu, agar kita masih bisa bernafas.

“…Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir” Q.S. Yusuf (12) : 87

Jangan pernah bunuh harapan yang masih bersemayam di jiwa kita. Walaupun kini, harapan kita sepertinya kecil dan belum terwujud nyata, tetaplah bersyukur pada Allah SWT, karena setidaknya kita telah memiliki harapan itu. Kalau lah harapan saja sudah tidak ada, maka apalah yang bisa diharapkan di dunia ini, apalagi di akhirat. Bersyukurlah dengan harapan yang ada, maka kita akan ditambah kenikmatan dari-Nya. Bertubi-tubi, Mau? Berharaplah.

Masalah itu Lumrah. Masalah itu Hadiah. Masalah itu ujian dan cinta dariNya. Kalau engkau lari dari masalah maka engkau lari dari kasih sayang Allah. Masalah-lah yang membuat kita tetap bertahan dan berTuhan. Masalah itu memang tidak enak, tapi ia melahirkan rasa enak. Lapar adalah masalah, tapi tanpa lapar kita tidak pernah menikmati makan. Sebagaimana tanpa haus kita tak pernah optimal merasakan nikmatnya sebuah minuman. Semakin lapar semakin enak makannya, semakin haus semakin enak minumnya, semakin banyak masalah semakin besar harapan kita dekat dengan Tuhan, dekat dengan Sumber Solusi. Teruslahlah bergerak dan berharap. Selama kita tetap bergerak dan berharap pada Allah, maka sungguh dibalik Frustasi dan sesaknya dada kita, ada Prestasi sejati yang menanti kita.

Harapan itu dihadirkan agar kita bisa melakukan yang terbaik dalam hidup yang sebentar ini. Tanpa harapan, maka tiada yang bisa diharapkan dari kehadiran kita di dunia ini. Jadilah manusia yang penuh dengan harapan, agar kehadiran kita di tengah semestamu selalu diharapkan. Dan harapan tertingi kita adalah pertemuan dengan Allah SWT.

Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.{ Q.S. Al-Insyiroh (94) : 8}

Sebagai penutup tulisan ini, marilah kita menundukkan hati kita ke hadirat Allah SWT, memohon ridha danperkenanNya. Ya Allah, Ya Tuhan kami, curahilah kami dengan rahmat dan nikmatMu, sinarilah hati kami dengancahayaMu. Berikanlah kami bimbingan untuk dapat berjalan dijalanMu. Tunjukkanlah kami jalanyang lurus, yaitu jalan yang Engkau ridhai. Berilah kami kemampuan untuk mengikuti jalan yanglurus itu ya Allah.Amin… !

“Selamat Idul Fithri 1438 H Taqabbalallah minna Waminkum Taqabbal Yaakarim Minal A’idin wal Faa’izin, Mohon maaf lahir dan batin.” ***

Bekasi, 29 Ramadhan 1438H

Drs. H. Ahmad Sholeh Dimyathi, MF., MM. (biasa dipanggil Pak Kyai) lahir di Pati, Jawa Tengah, 17 Oktober 1954. Prestasi yang berhasil dicapainya meliputi pemenang utama Lomba Kreativitas Guru (LKG) tingkat nasional tahun 1997, guru teladan tingkat Jakarta Timur tahun 2000, pemenang II Lomba Kreativitas Guru (LKG) tingkat nasional tahun 2001 dan 2002, guru berprestasi dan berdedikasi luar bisa tingkat nasional tahun 2005, kepala sekolah berprestasi nasional tahun 2006, dan pengawas berprestasi terbaik 2 tingkat DKI Jakarta tahun 2014. Dalam kepangkatan sebagai pegawai negeri sipil (PNS) berhasil meraih pangkat pembina utama dengan golongan IV E. Pangkat dan golongan ini bagi PNS yang berkarir dari seorang guru, merupakan prestasi yang sulit dicapai. Pada tahun 2004 ia meraih Satya Lencana Pendidikan Guru Berprestasi dan Berdedikasi dari Menteri Pendidikan Nasional. Saat ini menjadi Dewan Pembina Pengurus Pusat Agupena (Asosiasi Guru Penulis Indonesia).

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Opini

IT dan Hasil Karya

Oleh: Fortin Sri Haryani Abad ke-21 disinyalir sebagai abad digital karena instrumentnya
Go to Top