Mudik, Traveling, dan Menulis

Rubrik Literasi Oleh

Abdul Malik Raharusun
Pemudik lebaran ke Bukittinggi 1438 Hijriyah

Tradisi atau kebiasaan mudik sudah melekat dalam kebudayaan Nusantara. Mudik adalah perjalan perantau balik ke kampung halaman, lazimnya mudik dilakukan saat menjelang hari raya keagamaan atau lebaran. Tradisi tahunan ini dilakukan untuk lebih menghidmatkan suasana lebaran bersama orang tua, keluarga, sahabat dan tentunya suasana lebaran dengan lingkungan kampung halaman yang tertanam kuat dalam memory setiap perantau.

Kehidupan masa kecil di kampung halaman adalah faktor utama yang secara emosional berpengaruh bagi perantau untuk mudik. Masa kecil bagi setiap perantau adalah masa yang teramat indah. Sekalipun masa kecil itu ada juga yang “berdarah-darah” menderita. Tetapi tetap saja masa kecil yang “berdarah-darah” menderita itu menjadi kenangan indah. Tentang teman yang mendorong mu dan jatuh ke laut, tentang kenangan saat dikerjain di bangku sekolah, tentang si doi yang menolak cinta monyet mu, tentang kenangan mengaji di surau kampung atau tentang mu bersama ayah dan ibu yang bersusah payah menafkahi hidup. Seluruhnya kenangan itu teramat indah. Kenangan yang membuat setiap perantau rindu untuk mudik pulang ke kampung halaman. Sampai ulasan ini mudik, baru sebatas memenuhi kerinduan berlebaran bersama sanak family dan memenuhi kerinduan kenangan masa lalu.

Mudik idealnya tidak hanya sekedar memenuhi hasrat kenangan masa silam, tidak sekedar memenuhi keinginan bersua sahabat lama, atau mantan di kampung (hehehe). mudik pun bukan sekedar mencicipi aneka kuliner lebaran di kampung, ketupat, rendang, acar, aneka kue. Mudik tidak harus berujung dengan keluh kesah derita saat mudik. Tentang macet yang panjang, tentang antrean tiket yang berpuluh meter, tentang aneka berita kecelakaan, tentang deley pemberangkatan, tentang ombak laut yang tidak bersahabat, tentang sopir yang doyang ugal-ugalan, tentang anak buah kapal yang terus memaksakan kapasitas atau tentang jalanan yang saban mudik lebaran barulah diperbaiki.

Mudik idealnya menjadi medium traveling dan menulis bagi perantau. Perjalanan yang saban tahun dilakukan dengan biasa-biasa saja ini baiknya perlu direinterpretasi serta diwujud nyatakan menjadi perjalanan yang tidak hanya asik tetapi juga edukasi. Traveling atau dengan sedikit kening berkerut kita dapat mengartikannya sebagai petualangan. Memaknai dan menjalankan mudik sebagai traveling atau petualangan tidak hanya membuat perjalanan mudik dapat dinikmati tetapi sebuah perjalanan yang penuh dengan ide dan gagasan inspiratif.

Selama mudik layaknye seorang traveler maka petualangan ini harus memiliki kesan kuat. Untuk menciptakan sebuah kesan kuat maka traveling mudik wajib dilakukan dengan hati dan pikiran yang tenang. Dengan hati yang ikhlas serta pikiran yang jernih maka traveling mudik akan menjadi petualangan yang menyenangkan dan edukasi. Sebuah prinsip dalam traveling adalah dokumentasi. Traveling mudik harus dapat didokumentasi baik lewet tulisan atau foto yang diberikan keterangan singkat. Dengan dokumntasi maka traveling mudik akan menjadi perjalan berkesan tidak hanya bagi pemudik tetapi juga penikmat dan pembaca traveling mudik.

Terdapat banyak tema atau topik yang dapat dilihat selama traveling mudik. Seorang traveling mudik dapat memilih satu atau lebih dari beberapa tema selama traveling mudik. Tema-tema tersebut didokumentasi dan diceritakan sebagai sebuah petualangan traveling yang indah. Dengan kemampuan mengulas setiap tema atau topik, maka traveling mudik yang bagi pemudik biasa menjadi perjalanan yang membosankan dan mengecewakan pada tangan traveling mudik tetap akan mejadi perjalanan yang inspiratif dan edukasi.

Terdapat banyak tema atau topik yang dapat dilihat selama traveling mudik. Seorang traveling mudik dapat memilih satu atau lebih dari beberapa tema selama traveling mudik. Tema-tema tersebut didokumentasi dan diceritakan sebagai sebuah petualangan traveling yang indah. Dengan kemampuan mengulas setiap tema atau topik, maka traveling mudik yang bagi pemudik biasa menjadi perjalanan yang membosankan dan mengecewakan pada tangan traveling mudik tetap akan mejadi perjalanan yang inspiratif dan edukasi.

Terdapat banyak tema yang dapat didokumentasikan dan diceritakan seorang traveling mudik. Tentang kuliner misalnya, kuliner selama mudik lebaran bagi setiap daerah pasti memiliki kuliner istimewa saat lebaran. Bahkan ada ungkapan kalau tidak ada kuliner tersebut lebaran seolah hambar, ibarat sayur tanpa garam (heheh). Orang Minang misalnya tanpa rendang dan kue kering lebaran serasa kurang lengkap, saban ke rumah sanak family yang disediakan yah….rendang bersam aneka kue kering. Kuliner dapat diulas dari cara membuat penyajian dan cara menikmati sebuah kuliner lebaran.

Selain tema kuliner tema budaya, sisitim silahturahmi lebaran, suasan lebaran, keindahan alam, bahkan sampai ke aneka problem saat bermudik lebaran, lampu yang sering padam saat lebaran, hujan yang terus mengguyur, atau harga sembako yang melonjat tinggi saat lebaran atau tentang keluarga kita orang tua kita yang selalu ikhlas menghadirkan lebaran berkesan buat anak-cucunya. Bagi seorang traveling mudik dapat menjadi tema menarik yang didokumentasikan dan diceritakan kembali.

Untuk lebih memudahkan misi mudik, traveling dan menulis maka baiknya tema yang dipilih selain secara emosional disukai juga dikuasai secara pengetahuan. Seorang traveling mudik tentunya akan senang mendokomentasikan apa yang disukai dan kemudian akan menulis sesuai penguasaan pengetahuan yang dimiliki. So….jangan ragu para pemudik traveling mari dokumentasikan mudik lebaranmu yang indah. ***

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Literasi

Rahasia Menulis

Ismail Suardi Wekke STAIN Sorong & Agupena Papua Barat Menulis menjadi keperluan
Go to Top