Home » Literasi » MUSUH UTAMA MENULIS » 235 views

MUSUH UTAMA MENULIS

Rubrik Literasi Oleh

Ismail Suardi Wekke
STAIN Sorong & Agupena Papua Barat

Ketika menulis menjadi kebiasaan pada tingkat tertentu akan terjadi kejenuhan. Maka, semua capaian yang sudah dilewati kemudian terabaikan dan hanya ingin berhenti untuk menulis. Ada kejengahan yang membuncah. Tidak ada lagi energy yang dapat dialihkan untuk menulis. Saat itu, mengalihkan aktivitas ke kegiatan yang bisa membangkitkan kemauan menulis diperlukan. Sehingga dapat kembali ke jalur ke kepenulisan sebagaimana sebelumnya.

Berikutnya, menulis juga menghadapi masalah kemalasan. Ketika malas menyergap, maka diperlukan usaha untuk membangkitkan gairah menulis itu kembali. Malas untuk membaca dan kemudian berimbas kepada ketiadaan ide untuk menulis. Tantangannya adalah jikalau terlalu banyak waktu yang dihabiskan untuk bermedia sosial dengan tidak produktif. Akhirnya, malas yang akan timbul dari aktivitas tersebut. Sehingga tulisan tidak terangkai dikarenakan munculnya kemalasan beraktivitas dalam menulis.

Begitu juga dengan kebiasaan menunda-nunda pekerjaan. Saat kesempatan sudah tiba, hanya saja menunda dengan harapan bahwa masih ada kesempatan berikutnya. Namun, kemudian ditunda lagi. Akhirnya, pekerjaan tidak pernah selesai. Kewalahan akan menghadang jikalau semua yang direncanakan, diabaikan begitu saja. Walaupun dengan berdalih “nanti-nanti”, maka susah menemukan waktu yang sesuai untuk menulis. Saat menunda itulah, maka pekerjaan akan bertumpuk dan susah untuk menyelesaikan semua yang sudah tertunda tersebut. Sementara beban baru terus berdatangan seiring dengan dinamika kehidupan. Tanpa dapat dicegah, waktu akan terus berlalu. Untuk itu, menunda pekerjaan bukanlah pilihan bagi seorang penulis. Menulis pada kesempatan pertama dan awal dari semua aktivitas keseharian merupakan sebuah tantangan yang mesti ditunaikan. Sehingga tidak terbebani dan justru menjadikan proses menulis sebagai sebuah kebutuhan.

Sesekali yang diperlukan adalah menghadiri majelis yang mempertemukan dengan tokoh-tokoh penulis. Dengan demikian semangat yang sudah digenggam akan terpelihara dari waktu ke waktu. Ketika redup, maka ada pertemuan yang akan membangkitkan kembali hasrat menulis yang terpendam. Demikian pula dengan kolega yang menjadi mitra untuk mengingatkan atau paling tidak menagih capaian tulisan. Dengan bantuan ini, konsistensi menulis akan terbantu karena adanya dukungan kolega.

Kesemuanya berkaitan dengan konsistensi. Salah satu upaya untuk menjaga konsistensi tersebut adalah dengan mengecek kembali motivasi terawal ketika mulai menulis. Dengan berlandaskan motivasi ini, akan memberikan semangat untuk tetap dan terus menulis. Seorang penulis akan sesekali mendapatkan kesemua tantangan tersebut. Diperlukan upaya yang sangat personal untuk menumbuhkan kembali gairah menulis hingga dapat kembali pada kondisi semula atau bahkan melampaui apa yang sudah dilakukan di masa lalu. ***

Lahir di Camba, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Menyelesaikan pendidikan doktor di Universiti Kebangsaan Malaysia. Sekarang ini bertugas di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sorong, Papua Barat. Sejak 2010 ditugaskan sebagai pelaksana kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong sampai 2011. Sejak 2012 sebagai Kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong untuk periode 2012-2016. Kemudian, diangkat kembali untuk periode 2016-2020. November 2016 menjadi bagian Southeast Asia Academic Mobility (SEAAM). Kini, menjadi Pengurus AGUPENA Papua Barat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Literasi

Go to Top