Home » Literasi » RESEP MENULIS » 256 views

RESEP MENULIS

Rubrik Literasi Oleh

Ismail Suardi Wekke
STAIN Sorong & Agupena Papua Barat

Menulis walaupun ada sekolah dan juga pelatihannya, namun menulis bisa saja tumbuh karena dimulai dari kesukaan akan aktivitas menulis. Seorang penulis dapat saja memberikan rahasia-rahasia yang dilakukannya ketika menulis, namun semua yang disampaikannya akan tergantung kepada individu masing-masing. Sebagaimana resep masakan, tidak ada yang rahasia sama sekali. Namun dalam hidangan yang sama, tidak semua orang mampu untuk menyajikan hidangan dengan cita rasa yang sama enaknya, walaupun dengan resep yang sama.

Maka, tulisan ini juga menegaskan bahwa resep menulis sesungguhnya sudah menjadi pengetahuan umum. Tetapi dalam praktiknya, ketika menulis justru tetap saja menjadi momok bagi sebagian besar orang. Dengan demikian, tips pertama adalah menuliskan apa yang diketahui atau dialami oleh penulis. Maka, pengalaman individual yang dituangkan ini akan mudah dimaknai dengan alur penulisan yang sepenuhnya sudah dikuasai oleh Sang Empunya tulisan.

Hampir sama dengan wartawan, walaupun bukan pengalaman pribadi yang dituangkan tetapi ada proses wawancara, mengamati, atau berbincang sehingga terkumpul sejumlah informasi. Dari proses pengumpulan data tersebut, wartawan memiliki sudut pandang tertentu dalam menyampaikan sebuah berita. Untuk itu, diperlukan aktivitas dalam mengumpulkan data-data yang dapat diolah sebagai sebuah informasi dalam penyajian tulisan.

Alternatif lain adalah hasil dari bahan bacaan. Data dapat diperoleh melalui artikel, makalah, dan buku. Kesemuanya akan memberikan data dan juga informasi. Hanya saja, diperlukan sebuah usaha untuk mengecek validitas data yang disampaikan. Begitu juga semua artikel dan sumber informasi tersebut merupakan sumber yang pertama dan kredibel. Jikalau sumber data sekunder, dikhawatirkan ada ketidakselarasan data yang disajikan dengan kondisi sebenarnya. Sehingga perlu pengecekan kembali data-data yang ada.

Aktivitas yang memungkinkan juga menjadi sumber data dan informasi yang dapat dikembangkan menjadi tulisan adalah diskusi. Terutama diskusi yang dilakukan dengan pakar atau subyek faktual. Dengan mengelaborasi salah satunya akan memberikan deskripsi dan pemahaman yang dapat diolah untuk menjadi sebuah tulisan. Pada tingkat berikutnya dapat dikembangkan dengan diskusi terarah (focus group discussion). Ini akan memberikan perspektif yang beragam sehingga memungkinkan sebuah tulisan ditinjau dari pelbagai bidang keilmuan.

Setiap media memiliki bentuk dan gaya masing-masing. Maka, saat mempersiapkan tulisan perlu sejak awal sudah ditetapkan tujuan publikasi. Ini akan membantu penulis untuk mengikuti gaya selingkung (in-house style) yang sudah digariskan redaksi media. Ketidakpadanan sebuah tulisan dengan gaya selingkung yang sudah ada akan mengakibatkan penolakan redaksi terhadap tulisan yang diterima.

Selanjutnya, penulis perlu meminimalisir kesalahan penulisan baik dalam ejaan maupun kekeliruan data. Termasuk penulisan nama sekalipun. Untuk itu, penulis perlu mengecek secara berulang apa yang sudah ditulisnya untuk menghindari adanya kekeliruan. Sebuah kesalahan yang fatal jikalau menulis “nabi” dengan “babi”. Ini semata-mata karena kedekatan papan kunci (keyboard) antara huruf b dan n. maka, menyunting dan mengedit kembali sebuah tulisan diperlukan sebelum dinyatakan siap untuk dikirimkan ke redaksi.

Tidak ada yang lebih penting saat menulis adalah soal ketekunan. Kemauan untuk memulai proses penulisan sampai menyelesaikannya diperlukan ketelitian, kecermatan, dan semangat tanpa batas. Akhir dari proses menulis adalah saat sebuah naskah sudah dikirimkan ke redaksi untuk diusulkan dalam penerbitan. Sementara jikalau itu artikel jurnal, masih ada proses berikutnya saat artikel selesai direview, maka penulis diminta kesediannya untuk memperbaiki. Saat perbaikan selesai, itulah proses antara untuk menyatakan siap diterbitkan. ***

Lahir di Camba, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Menyelesaikan pendidikan doktor di Universiti Kebangsaan Malaysia. Sekarang ini bertugas di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sorong, Papua Barat. Sejak 2010 ditugaskan sebagai pelaksana kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong sampai 2011. Sejak 2012 sebagai Kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong untuk periode 2012-2016. Kemudian, diangkat kembali untuk periode 2016-2020. November 2016 menjadi bagian Southeast Asia Academic Mobility (SEAAM). Kini, menjadi Pengurus AGUPENA Papua Barat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Literasi

Rahasia Menulis

Ismail Suardi Wekke STAIN Sorong & Agupena Papua Barat Menulis menjadi keperluan
Go to Top