Home » Literasi » UNTUK APA MENULIS? » 203 views

UNTUK APA MENULIS?

Rubrik Literasi Oleh

Ismail Suardi Wekke
STAIN Sorong & Agupena Papua Barat

Sebuah pertanyaan penting yang harus dituntaskan sejak awal bagi seorang penulis “untuk apa menulis?”. Dari sinilah semuanya berawal. Jika hanya semata karena kepangkatan atau promosi jabatan, maka kebiasaan menulis akan berhenti saat pangkat sudah diraih. Sementara kalau untuk urusan materi, ketika menulis tidak mendapatkan imbalan dalam bentuk materi, menulis tidak akan pernah dilakukan.

Atas alasan apapun juga menulis perlu dilakukan. Bahkan di tahap awal bahkan bisa saja karena paksaan melalui tugas-tugas saat duduk di bangku sekolah. Pada tahapan berikutnya kemudian terbentuk kerelaan untuk senantiasa menulis. Bahkan saat tidak ada yang memerintahkan sekalipun. Kebiasaan itu akan terbawa.

Di Bogor, kelompok kecil sejumlah usia emas mulai belajar menulis. Mereka yang saat ini sudah pension berupaya untuk mempertahankan aktivitas otak dengan menulis. Mereka menyebutnya dengan spiritual writing healing. Mayoritas pesertanya berusia 50+. Kelompk terbatas sebanyak sepuluh orang secara rutin berlatar Café Grand Garden. Sekaligus ini dijadikan sebagai sarana bersosialiasasi dengan sebaya.

Saat kemampuan kognitif terus diasah, maka potensi untuk menderita pikun akan semakin berkurang. Atas alasan ini salah satunya, warga emas itu membentuk kelompok untuk bersama-sama menulis. Dengan terus mendayagunakan potensi kognitif yang ada walau sudah tidak aktif lagi bekerja, mereka berusaha untuk menghindari pelbagai penyakit yang bisa saja muncul akibat ketiadaan aktifitas.

Dalam aktivitas pembelajaran, Imam Syafii memesankan bahwa menulis itu ibarat mengikat binatang buruan. Jikalau menuntut ilmu diibaratkan sebagai proses berburu, maka apa yang sudah didapatkan hendaknya diikat dengan tulisan. Maka, menulis sejatinya merupakan bagian dari belajar itu sendiri. Sehingga tanpa menulis, maka belajar tidak akan mendekati kesempurnaan.

Ini menunjukkan bahwa menulis tidak lagi dianggap sebagai momok bahkan harus dihindari. Justru dengan menulis akan mendapatkan kenyamanan dan kebahagiaan. Menulis menjadi kesempatan seutuhnya untuk mengekspresikan diri sendiri. Media menulis akan menjadi terapi tersendiri bagi penulisnya. Ketika Presiden Habibie ditinggal wafat oleh istrinya Ainun, kesedihan mendalam melanda beliau. Salah satu cara yang disarankan dokter untuk menjadi terapi adalah dengan menulis.

Bahkan tidak hanya menjadi terapi. Tulisan Presiden Habibie akhirnya menjadi novel yang dicetak berkali-kali. Selanjutnya, novel tersebut juga dijadikan film. Walaupun diawali hanya sebagai terapi tetapi justru hasil tulisan itu menjadi hiburan dan juga inspirasi bagi orang lain. Sehingga tidak lagi sekadar sebagai sarana ekspresi diri tetapi melampaui tujuan awal.

Nenulis juga mempermudah pelaksanaan ibadah. Penjelasan tentang fikih dan tata cara beribadah jikalau tidak dituliskan maka akan mempersulit umat Islam untuk menjalankan aturan agama. Dengan adanya tafsir, kita fikih, kitab syarah, dan pelbagai tulisan lainnya justru menjadi alat bantu dalam ibadah dan juga pengembangan ilmu pengetahuan. Begitu pula, aktivitas menulis bisa saja derajatnya naik menjadi ibadah jikalau diniatkan sebagai usaha dalam menuntut ilmu dan menyebarkan kemanfaatan.

Menulis tidaklah satu dimensi semata. Maka, setiap orang punya alas an yang berbeda-beda untuk memulai menulis. Apapun alasannya tetap saja menulis itu sebuah aktivitas yang produktif dan bermanfaat dalam banyak hal. Sehingga memilih untuk menulis bukanlah pilihan yang sia-sia. ***

Lahir di Camba, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Menyelesaikan pendidikan doktor di Universiti Kebangsaan Malaysia. Sekarang ini bertugas di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sorong, Papua Barat. Sejak 2010 ditugaskan sebagai pelaksana kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong sampai 2011. Sejak 2012 sebagai Kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong untuk periode 2012-2016. Kemudian, diangkat kembali untuk periode 2016-2020. November 2016 menjadi bagian Southeast Asia Academic Mobility (SEAAM). Kini, menjadi Pengurus AGUPENA Papua Barat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Literasi

Go to Top