MENULIS DENGAN MENGASINGKAN DIRI

Rubrik Literasi Oleh

Ismail Suardi Wekke
STAIN Sorong & Agupena Papua Barat

Masalah utama menulis adalah menemukan kesempatan. Hiruk-pikuk kehidupan kadang membatasi sehingga tidak memiliki kesempatan untuk menulis. Untuk itu, menemukan waktu yang tepat dalam menulis merupakan tantangan tersendiri. Dimana dengan koneksi internet yang ada bukannya membantu dalam hal tertentu, tetapi justru menghalangi karena adanya kontak-kontak terutama di media sosial yang justru akan memecah konsentrasi. Ini tentu tidak bisa dilihat secara umum, karena terkadang beberapa individu justru mampu melakukan proses kreatif menulis dalam suasana yang tetap hiruk-pikuk media sosial. Termasuk dengan koneksi internet juga akan membantu dalam mengumpulkan informasi dan menghubungkan dengan pusat-pusat maklumat yang tersedia tanpa perlu melakukan perjalanan jauh.

Adapun media sosial ketika digunakan secara produktif justru akan memberikan kesempatan dalam menulis. Begitupun dengan blog yang tersedia memungkinkan menjadi sarana dalam menulis. Beberapa fitur berupa note dapat dimanfaatkan untuk menulis draft tulisan sejak awal. Hanya saja, media massa baik cetak maupun dalam jaringan (online) tidak akan menerima tulisan yang sudah terpublikasi walaupun hanya dalam media sosial. Sementara itu, ada saja orang lain yang kadang melakukan plagiat terhadap tulisan yang tersebar di media sosial. Sehingga susah untuk melakukan klaim kepengarangan kalau itu hanya ditempatkan di media sosial.

Walaupun bukan kontemplasi sebagaimana ketika Nabi Muhammad SAW melakukan uzlah ke Gua Hira dan dalam kesempatan tersebut menerima wahyu, menulis tidak hanya dengan menyiapkan waktu untuk diri sendiri tetapi sesungguhnya berusaha untuk melakukan refleksi sehingga mampu melahirkan sebuah tulisan. Menyendiri bisa saja dilakukan di tempat yang ramai dimana sumber-sumber informasi dapat ditemukan seperti di perpustakaan. Walaupun berada dalam keramaian tetap ada ruang yang memungkinkan untuk menyendiri dan mendapatkan ruang yang sangat pribadi.

Mengasingkan diri juga dapat dimaknai dengan membentuk kelompok kecil untuk melakukan aktivitas bersama. Saat sebuah makalah sudah diselesaikan, maka untuk menjernihkan gagasan yang sudah tertulis dapat saja dilakukan diskusi. Daam proses diskusi dengan kolega dan rekan sebaya itulah akan memberikan kesempatan dalam menyunting tulisan sehingga dapat disempurnakan kembali. Mengasingkan diri dalam konteks ini justru adalah adanya beberapa orang yang bersama-sama untuk melakukan proses penulisan.

Kesempatan mengasingkan diri dapat pula dilakukan dengan menghadiri seminar, konferensi, ataupun simposium. Salah satunya akan memperkaya dalam menemukan informasi yang mutakhir selanjutnya saat jeda acara akan memempertemukan dengan kolega yang memiliki minat dan focus kajian yang sama. Jikalau itu dilaksanakan selama beberapa hari, maka saat lepas dari rutinitas kantor justru sebuah kesempatan untuk menulis ataupun mengoreksi tulisan yang ada. Walaupun juga berada di keramaian tetapi bisa saja menemukan kesempatan berharga untuk menulis. Terlebih lagi jikalau kegiatan yang diikuti dilaksanakan di hotel, dengan kemewahan dan fasilitas yang ada akan menjadi peluang istimewa untuk menulis.

Sementara bagi saya pribadi, kesempatan merayakan idul fithri atau berkunjung ke keluarga di pedalaman sebuah hadiah yang sangat bernilai. Sepanjang terdapat akses listrik, maka hari-hari tersebut justru sebuah peluang untuk menulis. Terlebih lagi dimana beberapa lokasi justru tidak tersedia jaringan telepon seluler sehingga ketiadaan akses signal justru menjadi berkah. Pada saat itulah masa untuk menulis tersedia. Apalagi dengan berada di pedalaman, waktu untuk tidur lebih awal. Sepanjang hari menjadi kondisi yang sangat ideal untuk terus menulis. Bahkan dalam satu kesempatan saya bisa menyelesaikan naskah artikel untuk jurnal terakreditasi di saat pulang ke rumah untuk hari raya. Begitu pula pada hari raya yang lain bisa menulis draft buku ajar yang tinggal dikoreksi ketika kembali lagi ke kampus.

Semua uraian di atas bukanlah model yang paten. Tergantung kepada individu masing-masing. Proses menulis sangat personel dan setiap pribadi memiliki pengalaman yang berbeda-beda. Dengan demikian, untuk menulis maka seseorang perlu mengenali gaya dan cara yang paling tepat untuk menulis. Bisa saja pada tahap awal mencontoh apa yang sudah dilakukan orang lain tetapi pada kesempatan berikutnya perlu menemukan sendiri sesuai dengan kondisi masing-masing. Apapun itu seluruhnya diarahkan kepada usaha untuk menghasilkan sebuah tulisan. ***

Lahir di Camba, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Menyelesaikan pendidikan doktor di Universiti Kebangsaan Malaysia. Sekarang ini bertugas di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sorong, Papua Barat. Sejak 2010 ditugaskan sebagai pelaksana kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong sampai 2011. Sejak 2012 sebagai Kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong untuk periode 2012-2016. Kemudian, diangkat kembali untuk periode 2016-2020. November 2016 menjadi bagian Southeast Asia Academic Mobility (SEAAM). Kini, menjadi Pengurus AGUPENA Papua Barat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Literasi

Rahasia Menulis

Ismail Suardi Wekke STAIN Sorong & Agupena Papua Barat Menulis menjadi keperluan
Go to Top