Home » Literasi » SISI LAIN MENULIS » 239 views

SISI LAIN MENULIS

Rubrik Literasi Oleh

Ismail Suardi Wekke
STAIN Sorong & Agupena Papua Barat

Pasangan menulis yang tidak bisa ditinggalkan sama sekali adalah menulis. Jika bisa diibaratkan sebagai sebuah koin, satu sisi yang lain tidak lengkap jikalau sisi yang satunya tidak ada. Mak, menulis tidak akan pernah sempurna jikalau membaca juga tidak dilakukan. Untuk memperkuat kemampuan menulis, maka membaca merupakan sarana untuk melengkapinya. Keterampilan menulis tidak akan dimulai jikalau keterampilan membaca belum dikuasai. Dengan membaca menjadi pilar bagi keterampilan menulis.

Bagi seorang anak, membaca akan memberikan peluang dalam memperkuat kognitif. Rangkaian kata yang dibacanya akan memberikan stimulus dan pemahaman sesuai dengan kemampuan yang sudah dikuasainya. Saat membaca berikutnya walaupun dengan teks yang sama tetap saja akan muncul sebuah pemahaman tambahan yang akan berbeda dengan apa yang sudah dibaca sebelumnya. Berbeda halnya ketika aktivitas menonton televisi. Ketika menonton televisi, justru kemampuan kognitif anak akan istirahat. Semata-mata hanya menerima informasi yang muncul dari gambar dan itu berlangsung secara cepat. Sehingga seorang penonton televisi akan terbiasa bermalas-malasan dan tidak membiasakan diri untuk sabar dan kritis. Sepenuhnya menyerap informasi yang sudah disediakan oleh tayangan yang ada tanpa adanya sebuah usaha yang dapat dilakukan kecuali pada askses televisi itu sendiri.

Dengan membaca paling tidak akan melatih dua hal yaitu sabar dan telaten (Hernowo, 2002). Hanya dengan keduanya akan memberikan kesempatan dalam memaknai teks yang dibaca. Setelahnya, akan menelusuri halaman demi halaman untuk mengumpulkan informasi yang diinginkan. Tidak akan pernah ada sikap tergesa-gesa karena ketidaktepatan yang akan dijumpai. Begitu juga kesempatan untuk menemukan informasi secara utuh hanya dengan ketelatenan, ketika tergesa-gesa akan banyak informasi yang menguap dan hilang.

Keajaiban dari membaca akan memberikan motivasi bagi pelakunya. Syamsul Anwar Harahap mantan juara tinju nasional justru mengalami kekurang-upayaan di tangan kanannya. Hanya saja, ketika kecil membaca cerita Wilma Rudolf yang dengan keterbatasan kaki kanan akibat folio. Justru dengan kelumpuhan yang dialami itu Rudolf mampu meraih medali emas di olimpiade Roma 1960. Ini semata-mata karena Harahap membaca pengalaman hidup orang lain sehingga membangkitkan kepercayaan diri bahwa keterbatasan bukan halangan untuk meraih sesuatu yang diinginkan.

Gagasan dan ide yang didapatkan dari aktivitas menulis akan terkumpul sehingga dapat dipilah. Selanjutnya diklasifikasi sehingga dapat dituangkan kembali dalam bentuk tulisan yang lain. Dengan membaca pula akan ada kesempatan untuk terus belajar tanpa dibatasi dengan ruang berupa tembok-tembok pendidikan formal. Termasuk berkaitan dengan waktu sekolah yang juga sangat terbatas. Membaca dapat dilakukan dimana dan kapan saja sesuka hati pembacanya. Bahkan kita bisa saksikan santri di pondok dan madrasah, kesempatan merupakan sesuatu yang sangat berharga. Maka mereka walaupun dengan berjalan tetap saja selalu berusaha untuk membaca. Ini untuk menghindari terbuangnya waktu secara percuma.

Kesenangan membaca dapat ditumbuhkan dimana saja. Masyarakat Jepang terbiasa membaca walau berada di kereta sekalipun. Sehingga menjadi praktik umum, tidak berbicara atau menerima telepon walaupun berada di area publik karena ada saja penumpang yang selalu membawa buku dan membacanya. Sepanjang perjalanan kereta mereka menghabiskan waktu untuk membaca.

Dengan kebiasaan membaca seperti itu akan memudahkan untuk menulis. Saya mengistilahkan bahwa membaca adalah proses mengumpulkan informasi. Setelah informasi sudah terkumpul dengan mudah akan menjadi bahan yang dapat diolah untuk dituliskan kembali. Sebagaimana dapat diibaratkan dengan mengeluarkan air dari bak. Tidak akan ada air yang dapat ditimba jikalau belum ada air yang sudah dikumpulkan sebelumnya. Maka, salah satu istilah dalam proses belajar adalah menimba ilmu karena seorang guru diibaratkan sebagai mata air kehidupan, maka untuk mendapatkan kearifan darinya diperlukan proses menimba.

Kesulitan-kesulitan di masa lalu dalam belajar justru digantikan dengan keuletan untuk senantiasa belajar. Dalam praktik orang Bugis, murid yang mengaji dibebani secara kultural untuk mengangkat air, membersihkan rumah guru, dan membantu pekerjaan musiman seperti membajak sawah sampai panen. Semangat belajar itulah yang kemudian dimaknai sebagai bakti seorang murid untuk memperoleh keterampilan membaca Quran.

Sekarang ini, justru fasilitas dan kemudahan untuk membaca sudah tersedia. Bahkan perangkat eletronik untuk membantu belajar membaca disediakan melalui telepon seluler sekalipun. Sehingga tidak ada lagi alasan untuk tidak mau belajar membaca. Sementara bacaanpun juga melimpah. Dengan demikian membaca dapat dilakukan dengan lebih intensif lagi. Kemampuan membaca itulah yang akan menjadi penopang bagi aktivitas menulis. Tanpa kemauan dan kemampuan membaca, maka proses menulis bisa saja tidak dapat dimulai atau bahkan terhenti sama sekali. ***

Lahir di Camba, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Menyelesaikan pendidikan doktor di Universiti Kebangsaan Malaysia. Sekarang ini bertugas di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sorong, Papua Barat. Sejak 2010 ditugaskan sebagai pelaksana kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong sampai 2011. Sejak 2012 sebagai Kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong untuk periode 2012-2016. Kemudian, diangkat kembali untuk periode 2016-2020. November 2016 menjadi bagian Southeast Asia Academic Mobility (SEAAM). Kini, menjadi Pengurus AGUPENA Papua Barat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Literasi

Rahasia Menulis

Ismail Suardi Wekke STAIN Sorong & Agupena Papua Barat Menulis menjadi keperluan
Go to Top