MEMBACA TEKS DAN MEMBACA VIRTUAL DALAM KONTEKS LITERASI DI TENGAH ARUS DIGITALISASI

Rubrik Literasi Oleh

Oleh Alpansyah
(Penulis adalah Ketua Agupena Wilayah Sumatra Selatan)

Istilah literasi saat ini begitu populer terlebih lagi bagi pelaku pendidikan. Literasi diartikan sebagai kemampuan menulis dan membaca (KBBI Darling). Istilah ini menjadi populer setelah Kemendikbud RI menjadikan kegiatan literasi ini sebagai salah satu aktivitas yang harus ditumbuhkembangkan di sekolah-sekolah baik pada jenjang pendidikan dasar maupun pada jenjang pendidikan menengah. Tentu saja panduan-panduan tentang cara membuhkan literasi di sekolah-sekolah pun sudah mulai dipublikasikan.

Kegiatan ini bukan tidak beralasan. Kegiatan literasi ini sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari rasionalisasi perubahan kurikulum 2013 yang memandang bahwa perlu ada penekanan pada penumbuhan karakter kepada peserta didik. Penumbuhan karakter ini dirasa mendesak mengingat bentuk-bentuk perilaku pelajar kita saat ini sudah semakin menjauh dari nilai karakter bangsa diantaranya adalah perilaku jujur, tanggung jawab, gotong royong, cinta tanah air, serta budaya gemar membaca.

Bila kita membicarakan literasi di kalangan pelajar maka kita dapat melepaskan diri dari ikatan kemajuan di bidang teknologi informasi. Menutup mata terhadap derasnya kelajuan di bidang teknologi informasi di era digital ini adalah suatu keniscayaan.

Pelajar kita yang saat ini berseragam putih merah, putih biru, dan putih abu-abu itu adalah mereka yang lahir pada tahun 2000-an ke atas. Artinya, kehadiran mereka ditandai dengan era digitalisasi sebagai salah satu penanda abad globalisasi. Mereka adalah pemilik abad digital ini. Sebuah dekade yang menjadikan dunia terasa semakin sempit dan semakin cepat. Segala sekat-sekat jarak, ruang, dan waktu sudah dapat ditembus dengan ujung jari.

Kemajuan zaman terlebih lagi di era yang serba digital ini membawa konsekuensi yang bernilai positif sekaligus bukan tidak memungkin juga memberikan dampak yang negatif. Dalam konteks literasi, tentu saja saat ini tidak ada susahnya mendapatkan bahan bacaan.

Pelajar kita saat ini dapat membaca apapun dengan genre apapun dengan mudah dan cepat. Sumber-sumber informasi baik berupa teks virtual dan nirteks (audio dan video) mudah sekali mendapatkannya. Bahkan melalui media sosial (medsos) pelajar-pelajar kita bukan sekedar mendapat informasi tetapi jauh lebih daripada itu. Mereka dapat meng-update status, merespons, memposting, dan lain-lain. Kemudahan medsos bertambah-tambah setelah juga tersedia grup-grup chating pada aplikasi whatsapp atau line.

Apa yang dialami pelajar kita saat ini dalam koteks keterbacaan (literasi) tentu berbeda jauh dengan apa yang dialami para pelajar (dahulu) yang lahir sekitar tahun 1970-an. Sekedar autorefleksi (refleksi diri sediri), di Sumatra Selatan sekitar tahun 1990-an baru ada dua surat kabar lokal saat itu yang terbit setiap hari yaitu Sriwijaya Post dan Sumatera Ekspress. Belum ada pilihan untuk membaca virtual. Satu-satunya sumber literatur adalah buku. Buku ini pun belum sebabnya seperti sekarang sehingga bagi para pelajar dan mahasiswa saat itu menjadi perpustkaan sebagai tempat membaca.

Meskipun demikian, aktivitas membaca masyarakat (paling tidak demikian yang terasa) tidak berkurang terutama di kalangan pelajar dan mahasiswa. Mereka akan merasa seolah-olah ada sesuatu yang kurang atau hambar bila hari itu mereka melewatka atau belum membaca koran (paper text) sehingga akvitas membaca teks ini menjadi kebutuhan.

Indikasi bahwa geliat membaca teks masyarakat (khususnya di Sumatra Selatan) meningkat dapat dilihat dari bertambahnya oplah dan jumlah surat kabar saat itu yang semula hanya dua surat kabar, tetapi sekitar tahun 2000-an jumlah surat kabar bertambah. Perusahaan penerbitan pers pun mulai menerbitkan koran dengan segmentasi pembaca yang khusus pula sehingga varian surat kabar semakin banyak dan bervariasi.

Sebagaimana yang disampaikan di awal bahwa kemajuan ilmu dan teknologi ada sebuah keniscayaan terlebih lagi kemajuan di abad globalisasi dengan ditandai oleh era digitalisasi. Kemudahan yang ditawarkan oleh kemajuan zaman terhadap akses informasi juga dapat berdampak negatif. Kita dapat membaca atau menyaksikan di televisi berapa banyak remaja putri yang hilang, diperkosa, bahkan dibunuh berawal dari chating di medsos. Pelaku pemerkosaan tidak perlu lagi mencongkel jendela rumah lalu memperkosa tetapi melalui medsos korban datang sendiri ke tempat pelaku dan menyerakan diri. Begitu juga segala bentuk pencurian dan penipuan. Pencuri dan penipu tidak perlu lagi mengedap-endap di malam hari membawa linggis dan membobol rumah, melalui medsos malah tuan rumah memberikan pin tabunangannya untuk diambil oleh pencuri atau penipu.

Lebih daripada itu, membaca vitual dan membaca teks adalah sesuatu yang sama tetapi berbeda. Teks vitual termasuk nirteks (audio dan video) lebih dominan menyasar pada aspek emosional, seperti sedih, gembicara, menangis, benci, cinta, iba dan sebagainya. Bebeda dengan teks (paper text) yang lebih dominan menyasar pada aspek pengetahuan (knowledge).

Karakter keterbacaan teks virtual dengan teks (paper text) membuat orang harus bijak mengugnakaannya. Kalau tujuannya untuk sekilas mengatahui informasi secara cepat mungkin teks vitual menjadi alternatif tetapi kalau informasi itu untuk keperluan studi dan memerlukan referensi maka pilihannya harus pada teks (paper text). Belum lagi sampai saat ini belum ada kajian yang mendalam yang dapat menjawab apakah membaca virtual sama dengan membaca teks atau lebih baik?

Buktikan saja kita megetik di layar komputer. Setelah mengetik kita merasa semua sudah selesai dan sempurna tidak ada tulisan yang salah. Lalu coba print (cetak) dan baca ulang. Nah, bukankah mata kita akan medapati banyak sekali kata dan ejaan yang salah tulis.
Akhirnya perlu digarisbawahi bahwa semangat literasi perlu ditumbuhkembangkan. Untuk itu pelajar sedianya banyak membaca. Dalam membaca harus bijak. Meskipun kemudahan mendapat segala bahan bacaan karena kemajuan ilmu dan teknologi di abad globalisasi tetapi membaca teks vitual dan teks (paper text) harusnya selaras. Gunakankan mudahan pada teks virtual yang ada sesuai dengan peruntukan dan tujuan membaca tersebut. Sebaliknya membaca teks (paper text) bukan sebuah keterbelakangan. Membaca paper text sangat diperlukan untuk mencerdaskan. Sampai saat ini (sepanjang yang diketahui) belum ada kajian yang mendalam yang mengatakan membaca virtual dapat menggantikan atau bahkan lebih baik dari membaca paper text. Oleh karena itu, menumbuhkan budaya gemar membaca juga berarti menumbuhka budaya cinta buku (paper text). ***

Lahir di Musi Banyu Asin, 01 Januari 1969. Pendidikan S2 Bahasa Indonesia pada Program Pascasarjana Universitas Sriwijaya tahun 2011. Saat ini penulis sedang melaksanakan tugas perbantuan sebagai guru Sekolah Indonesia KBRI Kuala Lumpur, Malaysia. Aktif menulis di berbagai media baik lokal maupun nasional. Tulisan berupa cerpen dan puisi banyak dimuat surat kabar Sriwijaya Post, Berita Pagi, Sumatera Ekspres, dan majalah remaja Annida. Kini menjadi Ketua II Agupena Pusat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Literasi

WJLRC yang Impresif

Oleh : Yudhi Kurnia SD-SMP Muhammadiyah Antapani Bandung “Program WJLRC – West
Go to Top