Hidup Sekali, Hiduplah yang Berarti

Rubrik Opini Oleh

Oleh: Ainun Zaujah

“Begitu jauh kaki ini melangkah mencari makna kehidupan, kini akhirnya aku bertemu kompas yang membimbingku untuk melihat keajaiban terpendam bahwa makna kehidupan itu tersimpan di kedalaman hati”
(Ainun Zaujah)

Aku berhenti pada sebuah titik.  Titik itu nampak berkilau dan terpendar. Titik itu kutemukan melalui perenungan yang panjang, di waktu yang hening. Sebuah titik yang menjadi jalan hidayahku yang ketiga kalinya dalam perjalananku menapaki kehidupan untuk selalu lulus melewati setiap tangga ujian kehidupan.

Betapa bahagianya kehidupanku, karena aku berkesempatan mendapatkan hidayah sebanyak tiga kali di usiaku yang kini sudah 32 tahun. Hidayah pertama aku dapatkan ketika aku harus menuntut ilmu ke kota Makassar tahun 2002. Hidayah yang merubah total cara pandangku tentang kehidupan. Suatu masa ketika aku akhirnya bisa menemukan jawaban dari 3 pertanyaan penting dalam hidupku. Dari mana aku? Untuk apa aku hidup? Di mana akhir perjalanan di dunia ini?

Hidayah kedua datang menghampiriku di tahun 2014 ketika aku menemukan quote “bahagia itu sederhana”. Hidup bahagia itu membutuhkan dua sayap, yaitu sabar dan syukur. Dua sayap yang bisa membawamu terbang menuju Allah SWT, demikian menurut Dr. Quraisy Shihab yang saya petik kembali lewat ceramah Dr.Idrianto Faisal di kota Baubau.

Hidayah ketiga kembali menyapaku di tahun 2015, yaitu ketika aku menemukan quote “Hati yang gembira adalah obat bagi kehidupan.” Ketika saya bisa sembuh dari penyakit yang diklaim dengan truk ringan. Sedangkan, dalam dua kali kunjungan ke dokter yang berbeda di kotaku, saya hanya diberikan obat antinyeri karena kesulitan berjalan.

Semua daerah persambungan leher, pergelangan tangan dan kaki, persambungan paha, lutut ke betis dan telapak kaki seolah terkancing dan saya bisa berjalan dengan sangat berat dan nyeri. Saat mengayunkan langkah, semua daerah persendian seolah terkunci dan engsel-engselnya diberi beban 1 kilogram. Saya berjalan seperti robot, tetapi saya tidak menceritakan kondisi yang sebenarnya pada orang lain. Saya tetap beraktivitas seperti biasanya, mengajar, menyelesaikan tugas struktural di Rektorat, menjalani kuliah S2 saat itu, dan melayani kebutuhan anak-anak dan suamiku.

Ujian itu saya rasakan selama 42 hari. Hari ke-43 keajaiban datang. Allah SWT akhirnya berkehendak menyembuhkan saya lewat kun fayakun-Nya. Saya terbangun di pagi hari dengan keadaan kembali normal 100 persen. Bisa berjalan kembali seperti sedia kala. Saya sangat bersyukur, ujian yang saya lalui membuat saya menjadi pribadi yang syakur. Menurut ustad Dr. Idrianto Faisal, MA di dalam alqur`an Allah menyebut kata syukur dan syakur. Syukur adalah bersyukur atas nikmat kesenangan hidup, sedangkan syakur adalah ujian yang Allah berikan, dijadikan sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Maka aku memutuskan untuk menikmati hidup ini. Hidup sekali dan hidup penuh arti. Aku bertekad untuk selalu mencari hikmah dari setiap kejadian. Aku bertekad untuk menepis segala prasangka tentang kehidupan. Mulailah segalanya dengan prasangka baik untuk semua ketetapan Tuhan, dan akhirnya saya menyadari bahwa hidup ini adalah anugerah yang harus kita syukuri. Salah-satu ungkapan rasa syukur kita adalah melaksanakan ketaatan pada Allah SWT dalam keadaan ringan maupun berat. Mendayagunakan segala potensi kita untuk konsisten berada di jalan kebaikan hingga akhir hidup kita. ***

Tags:

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Opini

Mana Pahlawanku?

Hari Pahlawan 2017 telah berlalu (10/11). Pada hari itu seluruh rakyat Indonesia,
Go to Top