Ketika Bumi Mengikat Manusia

Rubrik Opini Oleh

OLeh: La Ode Mu’jizat

“Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.” (QS: Al Imran, 14)

Ketika menghadiri beberapa acara Silaturrahm, Saya menemukan topik yang nyaris selalu hadir dalam pembicaraan para orang tua. Apakah itu? Soal kesuksesan (dunia) anak mereka.

“Anak Saya belajar di sekolah kedinasan, gajinya sekian dan bekerja di instansi abcd jika lulus nanti.” Kata seorang Bapak dengan penuh kebanggaan. “Putra Saya yang kedua telah lulus pendidikan aparat, Saya berharap setelah selesai nanti, ia bisa ditugaskan ke kampung halamannya.” Celetuk Bapak yang lain, tak mau kalah.

“Anak Saya yang pertama baru saja beli mobil baru. Padahal mobil lamanya masih bagus. Heran Saya pada anakku itu.” Agak keras suara pria tua itu. Kini ia menjadi pusat perhatian. Maka digunakanlah kesempatan pula untuk memuja buah hatinya dihadapan para sahabat.

Tak jauh dari ruang diskusi para Bapak, seorang ibu bercerita tentang anak gadisnya yang telah dilamar oleh seseorang yang berprofesi menjanjikan. Penuh semangat ia bertutur, matanya berbinar, sebab jika anaknya telah menikah nanti, maka soal uang takkan jadi masalah lagi bagi keluarganya.

Ibarat perang pantun, sambut-menyambut cerita para orang tua itu. Terus-menerus berkisah tentang kesuksesan anak-anak mereka. Siapapun yang mendengar diskusi di ruang itu akan sampai pada kesimpulan bahwa para ibu-bapak itu sedang berbangga-bangga.

Di sudut ruangan, kulihat seorang Bapak terus menunduk sejak tadi. Tak banyak bercakap di forum Silaturrahm itu. Sekedar memasang telinga saja mendengar celoteh saudara dan para Sahabat. Saya mencoba memahami mengapa beliau begitu. Tampaknya agak malu ia ikut bertutur, sebab anak-anaknya tidak masuk dalam standar kesuksesan yang dipakai oleh saudara dan para sahabatnya saat itu.

Oh iya, ayat Al Qur’an di atas telah jauh-jauh hari menjelaskan fenomena diskusi dalam Silaturrahm tersebut. Dan memang begitu mengasyikkan bagi para orang tua serta manusia secara umum jika bercerita tentang kesuksesan anak, aset keuangan di bank, jumlah petak sawah, kendaraan pribadi dan lainnya.

Tentu, tidak semua pertemuan silaturrahm melulu membahas tentang para anak. Dan belum tentu juga setiap orang tua bermaksud sombong dengan membanggakan prestasi keturunannya.  Seorang Sahabat berkata padaku, bahwa adalah hal yang wajar jika para orang tua berbicara tentang anak-anak mereka di forum seperti itu. Sisi baik yang hadir dalam hangatnya percakapan tersebut yaitu cerita tentang para buah hati sholeh-sholehah yang berbakti pada kedua orang tuanya. Sesuatu yang menjadi contoh buat para pendengar.

Saya sendiri berharap, dalam ruang Silaturrahm, adalah lebih baik jika saling berbagi tentang inspirasi serta motivasi hidup dan kehidupan. Saling berwasiat tentang kebaikan dan kesabaran. Sesuatu yang Allah cinta dan ridho pada kita. Bukankah Surat Al Imran ayat 14 itu berujung: “… dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.”

Oh iya, Saya teringat statement Ahmad Syarfuddin dalam bukunya yang berjudul ‘Puasa Menuju Sehat Fisik dan Psikis’, bahwa diantara manfaat silaturrahm adalah: “… mencairkan kebekuan, melepaskan belenggu ketegangan, meluruskan benang kusut, dan menyelesaikan problem dan kesulitan. Sesuatu yang tadinya keruh dalam jiwa menjadi jernih, beku menjadi cair, dan yang terikat menjadi lepas dan bebas. Jiwa menjadi lebih santai, ceria dan fress.

Tapi terlepas dari soal diskusi para ibu-bapak diatas, sesungguhnya ada bahaya mengintip jika terus berbangga-bangga saja serta begitu cinta pada kemewahan dunia. John Naisbith dalam bukunya yang berjudul ‘High Tech High Touch’ berkata: “Semakin kuat keterikatan manusia pada kehidupan di bumi, dan semakin memuncak apa yang mereka peroleh, maka semakin takutlah mereka akan kematian.”

Padahal Allah SWT berfirman: “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan (kesuksesan). Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (QS: Al Imran, 185) ***

Tags:

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Opini

Keluargaku Surgaku

Seorang ahli kungfu sedang asyik menari di lantai dansa bersama istrinya. Ia

Sayang dia, Cinta dia

Hampir pecah tangisku menyaksikan peristiwa itu. Seorang suami mencekik, menampar dan menendang

Tegar

Oleh: La Ode Mu’jizat Perlu kekuatan hati yang berlebih ketika ujian atau
Go to Top