KISAH SUKSES SEORANG ANAK DARI BALIK KERLIP LENTERA

Rubrik Opini Oleh

Resensi Buku: 

Judul Buku: KERLIP LENTERA DI SUDUT DESA
Pengarang: Sardono Syarief
Penerbit: CV. Rasi Terbit, Bandung, cetakan pertama, Februari 2017
Tebal Buku:  iv + 139 halaman

 

Cerita anak merupakan cerita yang ditulis atau dilisankan untuk anak-anak. Jika penyajiannya dengan bahasa tutur, berarti pemberian cerita secara lisan. Sebaliknya jika penceritaannya disajikan dengan media tulisan, berarti cerita yang diberikan kepada anak secara tertulis.

Penyajian cerita secara lisan bisa ditempuh oleh pihak pencerita pada saat berada di tengah-tengah kerumunan anak. Misalnya cerita guru di depan kelas. Bisa pula cerita orang tua kepada anak-anak di tengah-tengah keluarga mereka. Sedangkan cerita anak yang disajikan lewat koran, majalah, ataupun buku, itu berarti penceritaan yang diberikan secara tertulis. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangannya sendiri-sendiri.

Cerita yang diberikan secara lisan tentu saja menuntut si pencerita lihai dalam bertutur kata.  Bahasa, vokal, mimik, penjiwaan, suara, maupun gerak tubuh sebisa mungkin mewakili tiap-tiap karakter para pelaku dalam cerita. Sehingga anak-anak yang mendengarkan tidak akan lekas jenuh. Bahkan sebaliknya, anak-anak dibuat betah lagi butuh isi cerita dituturkan sampai tuntas.

Adapun cerita secara tertulis, si penulis cerita atau pengarang dituntut untuk bisa merangkai kata, kalimat, bahasa, deskripsi, serta gaya bahasa secara memikat. Ini ditujukan agar para pembaca terpikat pada isi cerita sehingga mereka akan merasa penasaran untuk terus membaca semua isi tulisan sampai tamat.

Nah, dengan menempuh media buku yang diberi judul “Kerlip Lentera di Sudut Desa”,kini seorang pengarang cerita anak-anak yang berasal dari Paninggaran, Pekalongan, Jawa Tengah, Sardono Syarief, rupanya kembali hadir dengan karya novel anak yang terbarunya.

Pengarang  cerita anak yang juga seorang guru sekolah dasar ini sengaja menyusun buku yang bernuansa kearifan lokal. Harapan beliau, supaya anak-anak atau para pembaca mengenal dan tak asing dengan hasil bumi nusantara, utamanya di daerah Paninggaran, tempat tinggal beliau. Hingga tujuan akhirnya, jika anak-anak mau mengelola hasil bumi di desa tempat tinggal mereka dengan rajin lagi tekun,  mereka tak perlu cemas lagi dalam usaha mencari uang sebagai tambahan saku atau bekal melanjutkan  sekolah.

Hal itu dapat kita simak dalam petikan cerita pada buku ini sebagai berikut;

Halintar diam, mengolah pikir.

“Mak…..!”ucap Halintar sesaat dari itu.

 Emak berpaling memandangi Halintar, “Ada apa?”

“Kiranya singkong yang kami tanam di ladang tinggalan almarhum Bapak sudah tua belum, ya?”

Kalau sudah, kau punya rencana apa?”

Untuk bisa membeli beras,”ucap Halintar.  “Bagaimana kalau singkong  itu kami paneni bertahap, untuk dibuat getuk, Mak? Siapa tahu bisa mendatangkan uang dengan cepat?”

“Maksudmu?”

“Mulai besok, Emak berdagang getuk di pasar.”

 “Bagaimana dengan sisa sapu Emak yang belum laku itu, Tar?”

“Bisa Emak jual juga di samping berjualan getuk.”

“Bagaimana dengan kamu sendiri?”

“Saya  pun akan ikut menjualnya di sekolah, Mak. Bagaimana menurut pendapat, Emak?”

Untuk sesaat Mak Darni diam. Rupanya orang tua itu berpikir-pikir.

“Boleh juga usulmu, Tar. Emak setuju saja,”ujar emak pada akhirnya.

Seraya tersenyum senang, Halintar berkata,”Emak setuju?”

Mak Darni mengangguk, mengiyakan.

“Terima kasih, Mak. Kalau begitu, siang ini juga saya akan mencabut beberapa pohon  singkong di ladang, Mak.”

Satu jam kemudian, Halintar pulang dari ladang. Di pundak kanannya terpikul banyak singkong yang masih menempel pada enam batangnya.

“Ini singkongnya, Mak. Saya akan segera ke rumah Pak Uji,”kata Halintar seraya menurunkan enam batang singkong dari pundaknya.

“Ya. Taruhlah di teras belakang dulu, Tar. Pergilah kau ke rumah Pak Uji dengan hati-hati!”

“Iya, Mak,”Halintar segera berlalu ke rumah majikannya.

 Jam lima sore, Halintar  pulang mendapatkan emaknya di rumah.

“Assalamualaikum, Mak…!”salam Halintar seraya membuka pintu belakang.

“Waalaikumsalaam! Siapa?”seru Mak Darni dari dalam.

“Saya, Mak,”jawab Halintar. “Sedang mengapa, Mak?”

“Menunggu kamu pulang, Tar.”

“Memangnya ada apa, Mak?”

“Jadi bikin getuk, tidak?”

“Jadilah, Mak,”sahut Halintar mantap.

“Kau bisa membuatnya, Tar?”

“Bisalah, Mak.”

“Kalau bisa,”sahut emaknya. “Coba, bagaimana cara membuat getuk yang kau tahu, Tar!”pancing Mak Darni ingin tahu.

          “Baik, Mak,”sahut Halintar. “Cara membuat getuk dari singkong demikian,”ujar anak itu mulai menjelaskan.

Buku ini ditulis dengan gaya bahasa anak-anak. Kalimatnya cukup singkat lagi padat. Sehingga mudah dipahami oleh para pembaca, terutama anak-anak. Di samping itu, dalam menggambarkan latar cerita, buku ini juga penuh berisi diskripsi yang cukup menarik. Sehingga daya khayal pembaca dapat dibawanya terbang sesuai dengan apa yang digambarkan oleh penulis.

Misalnya;  Malam begitu dingin. Udara cukup menggigilkan badan. Subuh pun belum tiba juga rupanya. Walau demikian, Mak Darniyah sudah bangun dari tidurnya. Lihat saja! Api lentera yang duduk di meja dapur melenggak-lenggok kian kemari dihembus angin.

“Dug, dug, dug….!”itu sajalah suara yang terdengar di pagi dini itu. Suara antan menghantam lesung. Mak Darniyah yang melakukannya. Membuat getuk singkong, begitu maksud orang tua tadi.

“Tar! Halintar! Bangunlah, Tar…!”suara Mak Darni membangunkan tidur anaknya.

Halintar menggeliat dan menguap.

“Sssssttt….! Bangun…!”sekali lagi Mak Darni membangunkan anak lelaki kelas 6 SD itu. Kali ini tubuh Halintar digoyang-goyangnya beberapa kali. Sehingga terbukalah kedua bola mata anak itu dari rasa kantuknya.

“Bangun…! Bangun…!”suara Mak Darni meluncur lagi, sebelum akhirnya orang tua itu keluar meninggalkan kamar sempit anak tersebut.

Dengan rasa malas, Halintar bangun. Ditinggalkannya ambin bambu beralas tikar pandan tempat tidurnya dengan segera. Kemudian anak itu melangkah menuju dapur untuk mendapatkan emaknya.

Sardono Syarief dalam menutup ceritanya tidak bertele-tele. Lihat saja contohnya!

Ketika anak lelaki tadi tengadah dari sikap menunduknya, tak terasa petang telah jauh merambat malam. Kerlip lentera pun kian tegas membikin bayang-bayang hitam kedua anak dan ibu tersebut. Itulah sebabnya, setelah keduanya melaksanakan shalat isya, maka mereka pun segera berangkat tidur.

Kiranya buku ini patut dibaca dan dimiliki tidak saja oleh anak-anak. Tetapi oleh guru atau para pencerita sebagai bekal cerita di depan kelas. Buku ini penuh pesan positip dari para tokoh cerita yang bisa dipetik teladan baiknya oleh para pembaca.

Namun, tak ada di dunia ini yang hadir dengan penuh kesempurnaan. Buku Kerlip Lentera di Sudut Desa ini pun hadir dengan membawa beberapa kelemahan. Di antaranya, adanya pemenggalan kata yang kurang pas. Ending ceritanya masih kurang menggigit. Terlepas dari itu semua, hadirnya buku ini bisa menambah jumlah buku di perpustakaan-perpustakaan sekolah atau perpustakaan umum.  Anda ingin membacanya?

Silakan serbu buku ini di toko-toko buku terdekat di kota tempat tinggal Anda! Atau kontak langsung kepada pengarangnya via email: sardonosyarief@yahoo.co.id. Setelah Anda transfer pengganti cetaknya, tentu buku segera dikirim ke alamat Anda.

Eki Yanmia LS.
Guru Wiyata Bakti SDN 01 Tenogo,
Paninggaran,Pekalongan, Jawa Tengah 51164

Tags:

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Opini

Mana Pahlawanku?

Hari Pahlawan 2017 telah berlalu (10/11). Pada hari itu seluruh rakyat Indonesia,

IT dan Hasil Karya

Oleh: Fortin Sri Haryani Abad ke-21 disinyalir sebagai abad digital karena instrumentnya
Go to Top