Kuda Troya dan Titanic: Sebab Kita Tak Sendiri

Rubrik Opini Oleh

Oleh: La Ode Mu’jizat

Patung kuda raksasa itu tegak berdiri di depan benteng pertahanan bangsa Troya. Saat itu menginjak tahun ke-10 kecamuk perang antara Yunani dan kerajaan Troya yang terletak di Asia kecil.

Rakyat Troya yang negrinya sulit ditembus musuh, tanpa ragu membuka gerbangnya demi menyaksikan benda tersebut. Amat girang perasaan mereka, sebab itu juga penanda bahwa bangsa Yunani tak lagi melanjutkan serangannya. Maka diaraklah sang patung ke dalam kota yang dilindungi benteng pertahanan.

Mereka tak sadar sama sekali bahwa itu adalah strategi pasukan Yunani. Agar dapat menembus dan membuka gerbang pertahanan rakyat Troya yang selama satu dasawarsa bertempur tak kunjung dapat direbut.

Rupanya di dalam patung kuda raksasa itu bersembunyi dengan sabar prajurit negri seribu dewa. Menanti saat tepat untuk menyelesaikan tugas teramat penting yang akan menentukan hasil akhir peperangan.

Tatkala malam semakin larut, ketika seluruh pasukan dan penduduk Troya sedang terlelap, keluarlah prajurit itu satu demi satu dari persembunyiannya. Lalu membuka pintu gerbang benteng pertahanan yang kokoh dan kuat itu.

Tak lama berselang, ribuan prajurit Yunani yang sejak siang bersembunyi di luar benteng segera menerobos masuk. Dengan beringas menyerang dan merusak segala yang ditemuinya.

Nyaris seluruh rakyat Troya menjadi korban, kecuali sebagian wanita dan anak kecil yang dibiarkan hidup. Kerajaan besar itu berhasil dikuasai menjelang subuh. Takluk dengan siasat jitu yang tak disadari penduduknya.

Oh iya, apakah penyebab kedua bangsa itu berperang? Semua bermula ketika Paris, seorang pangeran negri Troya merebut dan menculik Helen, istri raja Sparta yang bernama Menelaus. Wanita itu lalu diboyongnya ke Asia kecil.

Raja Sparta yang juga adik kandung Agamemnon, penguasa Yunani, tentu tak terima istrinya dibawa lari orang. Maka mengadulah ia pada kakaknya. Sang kakak yang memendam ambisi untuk menguasai karajaan Troya akhirnya menemukan momentumnya.

Lalu berangkatlah mereka membawa serta ribuan prajurit demi mengambil kembali Helen. Dan seperti diceritakan, kakak-adik itu berhasil menaklukkan Troya, walau keduanya tewas dalam perang besar yang berlangsung selama 10 tahun itu.

Cerita di atas menunjukkan kepada setiap insan, bahwa kita tidak sendiri dalam kehidupan ini. Paris sang pangeran merasa bahwa mengambil istri orang adalah keputusan yang akan ia tanggung sendiri akibatnya.

Hanya pribadinya saja, dan tak akan dipikul segala konsekuensi tindakannya itu oleh saudara, keluarga, kerabat, sahabat dan rakyatnya. Tapi yang terjadi kemudian justru sebaliknya. Keluarga, rakyat dan kerajaannya hancur sebab ulahnya.

Terlepas apakah kisah tersebut adalah dongeng atau fakta sejarah -ada perbedaan pendapat tetangnya-, tapi ia tetaplah menjadi pelajaran buat semua, bahwa kita tak sendiri di dunia ini.

Ada kasus korupsi yang menimpa seorang pejabat negara. Selama beberapa pekan wajahnya menghiasi berbagai media informasi di tanah air. Apakah hanya dirinya seorang yang menanggung akibatnya? Tidak!!!

Lembaga tempat sang koruptor mengabdi tercoreng. Keluarganya malu berlipat pangkat. Orang tuanya menanggung kesedihan teramat dalam. Tempatnya menimba ilmu ikut masuk dalam obrolan miring tentang dirinya. Tempat lahirnya pun ikut disebut-sebut. Mengapa? Sebab kita tak sendiri di dunia ini.

Bukan cuma manusia, buah karya merekapun tak “hidup” sendiri. Saya jadi ingat kisah Titanic. Penduduk Belfast Irlandia sangat bangga dengannya. Sebab kapal pesiar terbesar dan termegah pada masanya itu dibuat disana.

Tapi apa yang terjadi saat Titanic menabrak gunung es dan karam di samudera Atlantik? Warga Belfast tertunduk lesu. Sampai beberapa hari usai tenggelamnya kapal fenomenal itu, mereka terdiam dan tak membicarakannya. Beban psikologis hinggap di pundak mereka.

Nah, jika memang begitu keadaannya, hendaknya setiap insan hanya membuat keputusan yang mengandung banyak maslahat saja. Hadirkan aktivitas yang bernilai baik saja. Tampilkan prestasi positif yang membuat semua bangga. Munculkan solusi konstruktif untuk kebaikan bersama. Mengapa? Sebab kita tak sendiri. ***

Tags:

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Opini

Keluargaku Surgaku

Seorang ahli kungfu sedang asyik menari di lantai dansa bersama istrinya. Ia

Sayang dia, Cinta dia

Hampir pecah tangisku menyaksikan peristiwa itu. Seorang suami mencekik, menampar dan menendang

Tegar

Oleh: La Ode Mu’jizat Perlu kekuatan hati yang berlebih ketika ujian atau
Go to Top