Skip Challenge, Antara Sensasi dan Prestasi

Rubrik Pendidikan Oleh

Oleh: Wijaya Kurnia Santoso (Praktisi Pendidikan)

Skip Challenge cukup menjadi tren remaja saat ini, dan menjadi viral di media sosial. Mereka menyebut ‘permainan’ ini sebagai space monkey, the pass out challenge, atau choking game. ‘Permainan’ viral ini dilakukan dengan ‘mencekik’ sampai tak sadarkan diri. Ironisnya, dalam banyak kasus akan berakhir dengan kematian. Pada intinya, tantangan ini dilakukan dengan menekan dada dan menghambat pernapasan. Terhambatnya pernapasan ini membuat si pelaku kehabisan napas dan akhirnya kejang serta pingsan seketika (cnnindonesia.com). Skip Challenge adalah ‘permainan’ yang sangat berbahaya. Bahkan menurut dokter spesialis jantung RS Harapan Kita Jakarta, Siska Dany, menuturkan, kekurangan oksigen di otak akibat Skip Challenge selama lebih dari 4 menit saja sudah dapat menyebabkan rusaknya jaringan otak atau saraf pusat (kompas.com).

Skip Challenge ternyata bukanlah tantangan yang baru. Sebuah laporan menyebutkan bahwa permainan mencekik atau skip challenge sudah ada sejak 1995. Mengutip No Bullying, studi yang dilakukan oleh Oregon Health Authority dan CDC di 2012, permainan menantang maut ini diperkirakan mulai pada tahun 1995-2007. Dan direntang tahun ini sekitar 82 orang anak dengan usia 6-19 tahun meninggal dunia. Selain tantangan Skip challenge atau pass-out, ternyata dalam beberapa bulan terakhir ada banyak tantangan yang menjadi viral di media sosial misalnya swatting, NekNominate, hot water challenge, sampai fire challange. Bahkan di tantangan fire challenge, remaja berisiko mengalami luka bakar parah di bagian tertentu yang mereka atur. Gilanya, motivasi di balik permainan ini salah satunya adalah menjadi yang tergila dan terunik. Bahkan orang yang paling berani mungkin saja bisa mendapatkan popularitas di dunia maya dan dunia nyata. Tantangan ini pun diharapkan bisa menyebabkan euforia tinggi dan ketenaran di internet. Namun, sebagian remaja lainnya hanya sekedar ikut-ikutan yang menjadi tren saja agar tidak dibilang ketinggalan zaman. Maklum remaja butuh pengakuan.

Terkadang demi memenuhi ambisinya, remaja rela melakukan hal apapun asalkan keinginannya tercapai. Dalam pergaulan misalnya, remaja butuh pengakuan, hal ini menyebabkan kebanyakan remaja akhirnya terjerumus dalam perilaku negatif. Bahkan, hal apapun akan rela mereka lakukan demi ambisi mendapatkan pengakuan dalam kelompoknya, walupun harus melakukan hal-hal yang menyimpang sekalipun. Menurut psikolog anak dan keluarga, Anna Surti Ariani, S.Psi, M.Si, Psi, apapun jenis pergaulan dan kegiatannya, ini bisa membawa efek negatif hanya karena mereka menginginkan sebuah pengakuan. Apapun itu akan dilakukan, seperti mengkonsumsi narkoba, mencuri, bahkan remaja perempuan akan menjajakan diri untuk mendapatkan uang agar bisa membeli barang-barang mewah. Banyak remaja dirugikan karena ambisi tanpa arah mereka. Misalnya, ketika ada tren mengunakan barang mewah tertentu, maka remaja akan diakui dalam pergaulan jika mengenakannya. Jadi, mereka bisa saja nekat mencuri untuk membeli barang tersebut demi sebuah pengakuan (lifestyle.okezone.com). Remaja juga seringkali terseret pada sebuah perkumpulan dalam sebuah geng yang terkadang menimbulkan perilaku yang negatif. Kebanyakan ada syarat-syarat khusus untuk bisa bergabung dalam geng tersebut atau terkadang harus mengikuti pola hidup anggota geng tersebut. Ketika seseorang bisa masuk dalam geng tersebut, maka akan dianggap gaul dan mendapat pengakuan di lingkungannya. Bagi remaja labil, mereka akan terpengaruh dan rela melakukan apa saja demi pengakun tersebut.

Masa remaja adalah salah satu fase kehidupan yang ditandai dengan terjadinya pubertas, yaitu kematangan aspek hormonal yang mengatur sistem reproduksi. Secara biologis, perubahan yang tampak nyata adalah bentuk tubuh yang mulai berubah menuju ke bentuk perempuan atau laki-laki dewasa. Selain aspek fisik, secara kognitif para remaja juga mengalami perkembangan dari kemampuan berpikikir konkrit kepada hal-hal yang bersifat abstrak. Artinya remaja akan mulai mempertanyakan hal-hal yang lebih kompleks.

Secara sosioemosional tahap remaja adalah tahapan mulai ‘sadar diri’, merasa seakan orang-orang di sekitarnya memperhatikan penampilan maupun tingkah lakunya. Dengan demikian, apa yang dikenakan, bagaimana tampilan fisiknya, menjadi hal yang cukup penting dan menjadi perhatian.

Masa remaja adalah hasil pendidikan masa kanak-kanak dan proses menuju kedewasaan. Apa yang dilakukan remaja mencerminkan pola pendidikan di masa kecilnya. Remaja butuh didampingi dan di arahkan agar potensi yang dimiliki bisa berkembang dan mengarah kepada hal yang positif. Munculnya tantangan yang membahayakan remaja tidak lepas dari kelalaian pengawasan orang tua, guru, maupun Negara. Derasnya arus informasi dan berkembangnya dunia maya seakan memfasilitasi para pemuda untuk selalu eksis dan dijadikan sarana untuk mencari perhatian. Munculnya berbagai video Skip Challenge yang melibatkan para siswa dan itu dilakukan di lingkungan sekolah menambah pertanyaan semua pihak. Di mana para guru saat mereka melakukan aktivitas berbahaya itu? Bagaimana tanggung jawab sekolah mengawasi kegiatan para siswanya? Tentulah ini menjadi tanggung jawab bersama, orang tua, sekolah, masyarakat, maupun Negara untuk melakukan pendampingan dan pencegahan aktivitas berbahaya tersebut.

Remaja dengan semangat keingintahuan yang besar harus dibina dengan baik, dikembangkan potensinya secara maksimal dan diarahkan ke arah yang positif. Bila aktivitas yang positif lebih dominan, ditambah bimbingan intensif para orang tua dan guru serta dukungan lingkungan masyarakat yang terkondisi baik maka akan menelurkan remaja dengan karakter yang baik. Ada langkah untuk membangun kebiasaan yang positif dan apabila kebiasaan ini dilakukan terus-menerus akan menjadi kebiasaan yang positif pula sehingga akan terbentuk karakter yang positif pula, yakni:

Membuat Catatan Kesuksesan
Catatan kesuksesan adalah daftar prestasi yang diraih baik itu prestasi akademik maupun non akademik yang dipajang di tempat-tempat strategis untuk memotivasi.

Membuat program 100 hari pengembangan diri
Berisi capaian kegiatan-kegiatan positif yang akan dilakukan sekaligus nantinya bisa mengevaluasi sejauh mana ketercapaiannya.

Membuat program lima tahun pengembangan diri
Berisi target-target ataupun cita-cita yang akan dicapai 5 tahun ke depan.

Membuat catatan kegembiraan yang dialami
Berisi tentang segala aktivitas yang menimbulkan kegembiraan. Catatan ini dibuat untuk menghilangkan keputusasaan yang barangkali akan dialami dan meningkatkan rasa syukur atas nikmat yang sudah didapatkan.

Catatan Hikmah
Berisi pengalaman hidup yang dialami. Catatan ini berfungsi mengasah kemampuan evaluasi sekaligus mengasah kemampuan mengambil pelajaran dari pengalaman hidup serta melatih kedewasaan.

Dengan langkah tersebut diharapkan remaja akan berperilaku positif dan akan meninggalkan hal-hal yang kurang bermanfaat, apalagi hal yang negatif. Karena remaja memiliki tujuan dan memiliki cita-cita yang jelas, maka hal-hal sensasional seperti Skip Challenge tak akan pernah dilakukan. ***

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Pendidikan

Go to Top