SUPERIORITAS MANUSIA NUSANTARA

Rubrik Kegiatan/Opini Oleh

CATATAN TRAVELING KE MINANGKABAU DAN EVAV


Oleh: Abdul Malik Raharusun (Sutan Iskandar Muda), Guru Sejarah SMA Negeri 2 Kei Kecil, Maluku, Wakil Sekretaris DPP AGUPENA, Sekretaris Eksekutif PN. MASIKA-ICMI

Lebaran ini (1438 H) berkesempatan mudik di kampung Istri, di Bukittinggi, Sumatera Barat. Ini perjalanan ketiga ke Ranah Minang selama berkeluarga dengan gadis minang. Karena ini dalam rangka mudik lebaran maka kesempatan untuk silahturahmi bersama keluarga Istri juga banyak dan luas. Suasananya pun rileks, bersahaja dan penuh nuansa kekeluargaan. Beberapa kali pulang kampung ke Ranah Minang membuatku mengamati dan membandingkan dengan sederet berita dan bacaan selama ini tentang struktur orang Minangkabau. Tulisan berikut ini mencoba memotret struktur budaya orang minang dan orang Evav atau Kei di Maluku Tenggara.

Indonesia tidak dapat disangkal, bukan hanya deretan pulau besar dan kecil yang membentang dari Andalas/Sumatera (Melayu) sampai ke Negeri Al-Mulk/Maluku dan Irian (Melanesia). Bentangan pulau-pulau ini juga mewakili bentangan ribuan adat dan kebudayaan. Bentangan adat dan kebudayaan ini disebutlah dengan kebudayaan nusantara. Kebudayaan nusantara menurut para ahli adalah puncak-puncak dari kebudayaan lokal yang ada di Indonesia.  Kebudayaan Minangkabau dan Evav adalah juga kebudayaan yang hidup, tumbuh dan berkembang memberi warna citarasa kebudayaan nusantara.

Struktur Antropologi Minangkabau dan Evav
Minangkabau di Sumatera Barat kebudayaannya sudah mendunia sejak lama, negeri yang dikenal dengan negari Adat Basandi Sara’, Sara’ Basandi Kitabullah ini lewat ribuan penulis dan penyair lokalnya, adat dan budaya Minangkabau disosialisasikan ke masyarakat luas. Ribuan buku akademik, karya sastra roman, puisi dan yang paling klasik tambo baik lisan ataupun tulisan lewatnya kita membaca struktur antropologi Minangkabau.

Dalam kebudayaan Minangkabau secara besar ada tiga kelompok manusia yakni Urang Awak, Urang Sumando dan perantau. Urang Awak adalah keturunan asli Minangkabau atau istilah persaudaraan orang Minangkabau. Urang Sumando adalah “pendatang” yang memiliki hubungan silsilah dengan perempuan minang atau yang beristri orang Minang atau seorang anak yang memiliki ayah berdarah minang. Dan yang tidak memiliki hubungan silsilah perkawinan dengan orang Minang tetapi bermukim di Minangkabau adalah perantau atau pendatang murni.

Menariknya negeri yang menganut sistim materilineal atau garis keturunan berdasarkan keturunan Ibu ini, mengakui garis keturunan Urang Awak berdasarkan keturunan Ibunya yang berdarah Minang. Seorang anak yang walaupun ber-ayah bukan lelaki Minang tetapi Ibunya adalah perempuan Minang maka anak tersebut termasuk Urang Awak.

Urang Sumando adalah orang yang memiliki hubungan perkawinan dengan perempuan Minang. Urang Sumando berbeda dengan perantau yang merantau ke Minangkabau. Karena menganut sistim materilineal, seorang anak yang walaupun ayahnya adalah lelaki Minang tetapi lahir dari Ibu berdarah bukan perempuan minang maka tidak dikatagorikan sebagai Urang Awak. Status anak tersebut sebagai anak pisang, yakni anak yang lahir dari perkawinan yang dilakukan oleh laki-laki minang baik dengan perempuan minang maupun bukan dengan perempuan minang.

Sederhananya Urang Awak adalah yang lahir dari keturunan perempuan Minang sementara Urang Sumando adalah laki-lakiyang menikah dengan perempuan Minang atau anak berayah pria minang.  Perantau adalah yang samasekali tidak memiliki hubungan silsilah denganorang Minang tetapi menetap di Minangkabau.

Dalam struktur internal orang Minangkabau Urang Awak juga dikatagorikan dengan katagori-katagori gender. Urang Awak perempuan disebut Bundo Kanduang sedangkan Urang Awak laki-laki disebut Ninik Mamak. Bundo Kanduang dalam arti budaya adalah sosok perempuan Minang yang menjadi pemimpin menjaga dan melestarikan adat dan budaya Minangkabau dan Ninik Mamak adalah jabatan penghulu adat bagi seorang anak laki-laki dalam keluarganya.

Berbeda dengan Minangkabau yang menganut matrilineal, orang Evav di Maluku Tenggara sebagaimana mayoritas kebudayaan di Nusantara  menganut sistim budaya patrilineal yakni garis keturunan berdasarkan ayah.  Evav adalah sebutan untuk suku sekaligus gugusan kepulauan di bagian Tenggara Maluku. Gugusan pulau ini bermukim ras manusia Melanesia berbaur dengan ragam suku-suku pendatang dan membentuk entitas budaya bernama Evav. Belakangan secara defusi budaya setelah masuknya bangsa barat, Portugis dan Belanda gugusan kepulauan berikut suku Evav yang mendiaminya dikenal dengan sebutan Kepulauan Key dan Suku Key. Sebutan Key berasal dari kata Kayos (Portugis) untuk menyebutkan pulau berkarang. Dalam hal ini penulis lebih enjoy menggunakan istilah atau kata Evav daripada kata Key.

Suku Evav juga membagi secara umum manusia dalam dua katagori yakni Evav dan Mav. Evav adalah penduduk asli yang bermukim di kepulaun Evav dan berketurunan Evav. Sementara Mav adalah pendatang yakni mereka yang tidak memiliki hubungan silsilah secara patrilineal dengan orang Evav.  Kalimat “Am tal Evav” atau “Am Key” artinya “Kami dari Evav” dan kalimat “Im tal Mav” artinya “kalian adalah pendatang” biasanya digunakan anak-anak muda Evav untuk menunjukan rasa kekeluargaan sebagai anak Evav.

Walaupun menganut sistim patrilineal kedudukan perempuan di Evav atau perempuan Evav adalah entitas yang sangat dihormati. Dalam bahasa Evav perempuan disebut  Vat , kata yang juga dapat berarti Batu.  Artinya perempuan atau Vat sama dengan Batu yakni berat (aliman) kedudukannya baik dalam agama, adat dan dalam kehidupan soal seperti sebuah batu.  Dalam bahasa Evav disebut “vat i aleman” artinya “perempuan itu berat” atau “vat i vusin” artinya “perempuan itu keras seperti batu”.

Orang Evav membagi tugas pokok manusia Evav berdasarkan mata rumah atau marga. Mengidentifikasi orang Evav sesungguhnya tidaklah sulit sebab terdirivasi dalam marga-marga.  Misalnya Raharusun, Rahawarin, Kabalmay, Rahayaan, Teniwut, Rusel, Kudubun, Banyal, Rumaf dan masih banyak lagi.  Setiap marga memiliki tugas pokok mewakili marganya, tugas-tugas pokok tersebut dibagi dalam beberapa bagian yang besar diantaranya struktur adat dari Raja atau Rat sampai prajurit, struktur pemerintahan dari Kepala Desa (Ohoi) atau Kepala Ohoi atau Orang Kay sampai ke kepala Dusun dan Saniri atau kepala marga dan struktur agama dari Imam sampai marbot.  Tidak ada marga yang tidak menempati struktur, seluruhnya terderivasi dalam struktur dan memegang tugas pokok baik dalam agama, adat, dan pemerintahan.

Membangun Superiotas Adiluhung Budaya Nusantara
Sejak dahulu kebudayaan yang hidup di wilayah yang kini kita sebut Nusantara adalah kebudayaan tinggi atau “high culture”. Rasa superioritas sebagai manusia unggul itu ada dalam budaya setiap suku anak bangsa negeri ini. Superioritas itu tercermin dalam sudut pandang budaya yang menempatkan manusia menjadi dua “kami” dan “mereka”.

Superiotas budaya nusantara tidak seperti rasa superitas orang Yahudi yang menganggap hina ras lain, tidak seperti superiotas Ras Arya di Jerman masa Hitler yang manafikan manusia ras lain, atau Eropa pada umumnya periode klasik sampai dengan akhir modern yang menganggap kulit hitam sebagai bukan manusia sempurna.  Paradigma superioritas di nusantara dibangun di atas keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang pada dasarnya menempatkan manusia secara umum adalah sama.  Pada kebudayaan nusantara ego sebagai “kami”tidak secara alamiah membuat “kami” bersikap tidak adil kepada “mereka”.  Superioritas  dibangun di atas kebudayan yang adiluhungsehingga, “mereka” walaupun ditempatkan pada kelas kedua tetap dihormati sebagai entitas manusia.  Kelas kedua tetap dijamin hak-haknya sebagai manusia merdeka yang hidup berbaur secara sosial dengan penduduk asli.

Rasa superioritas budaya di nusantara inilah yang juga membuat selama 300 tahun lebih sejak 1511 ketika bangsa Portugis menginjakan kakinya di Maluku perlawanan pribumi tidak pernah surut.  Selama 300 tahun lebih itu juga, baik Belanda, Portugis, Inggris dan Jepang tidak pernah menikmati wilayah yang diklaimnya sebagai jajahan dengan tenang dan nyaman, perlawanan terus digelorakan sebagai bentuk superioritas orang pribumi.

Mengembalikan dan menumbuh kembangkan rasa superiotas sebagai bangsa berperadaban tinggi kepada generasi muda harusnya menjadi perhatian kita bersama. Generasi mendatang bangsa ini harus penuh percaya diri bahwa kita mewarisi kebudayaan tinggi dan karena itu bangsa ini dapat tampil menjadi pemimpin dan contoh baik bagi dunia. Hanya dengan menumbuhkan rasa superioritas adiluhung inilah bangsa ini dapat bangkit dari seluruh keterpurukan. ***

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Kegiatan

Go to Top