“Artikel Berkualitas Tinggi” dan Latihan Minimal 2 Jam Sehari

Rubrik Literasi Oleh

Oleh Yanuardi Syukur

Pada 6 Juli 2017 saya mendapatkan kabar baik. Sebuah artikel saya berjudul “Tak Ada Kekerasan di Jakarta” yang dibuat untuk lomba menulis UC We-Media (Alibaba Group) dalam rangka ulang tahun Jakarta ditetapkan sebagai artikel berkualitas tinggi nomor 1.

Secara pribadi saya merasa senang. Kendati tidak sering ikut lomba, tapi penghargaan ini menjadi kenangan yang baik dalam proses saya untuk terus menulis, mengembangkan diri, dan tidak cepat puas.

Sebelumnya, saya sering sekali melihat teman lain yang mendapatkan juara. Secara rutin mereka ikut lomba. Ada kalah ada menang. Tapi mereka tetap aktif menulis, apapun hasil yang mereka dapat.

Bagi kita yang bergelut dalam dunia kepenulisan tentu saja meyakini suatu hal, bahwa tak ada penulis yang jadi tanpa latihan. Artinya, jika kita lihat ada penulis yang dapat juara atau karyanya diterbitkan dimana-mana, pastilah mereka dapat karena latihan. Tidak ada yang instant. Semua butuh proses.

Saya pernah dengar katanya untuk jadi professional kita butuh latihan minimal 8 jam sehari. Konon, petinju professional juga berlatih sekitar itu, bahkan lebih dari itu. Bagi penulis, mereka harus berlatih semaksimal mungkin.

Salah satu cara untuk itu, menurut saya, adalah menulis di website yang progresif dan kemungkinan terbitnya lebih cepat. Di Agupena, misalnya, tulisan yang masuk tidak sulit terbit karena kita memiliki keinginan untuk menjadikan website sebagai sarana belajar. Tulisan tersebut diedit kemudian diterbitkan. Ini sangat membantu penulis untuk memperbanyak tulisannya, memperbaiki kontennya, dan sekaligus apresiasi atas apa yang mereka lakukan.

Sarana lainnya adalah lewat UC News. Saya telah bergabung dengan UC News beberapa bulan lalu, dan baru aktif sebulan ini. Tidak semua tulisan langsung diterbitkan, beberapa bahkan ditolak karena tidak sesuai dalam konten atau penulisannya yang tidak sesuai kaidah. Tapi saya terus belajar, belajar, dan menemukan bagaimana cara terbaik untuk menulis.

Hingga kini, satu bulan saya menulis puluhan artikel di situ. Ketika menulis, saya juga membaca beberapa website dan artikel untuk memperkuat tulisan. Saya buka Guardian, New York Times, Huffington, dan tentu saja media-media dalam negeri seperti Kompas, Republika, Detik, dan lain sebagainya.

Ketika “berburu data” itu saya sekaligus belajar bahasa Inggris. Saya sadar, bahwa tidak ada orang yang langsung bisa bahasa Inggris, maka tiap kita harus terus belajar. Jika tidak mengerti bagaimana? Google menawarkan translate yang dapat kita pakai. Tentu saja saat pakai translate itu kita juga coba meramu dengan pemikiran dan pemahaman kita apakah terjemahan tersebut sudah cocok atau belum.

Jadi, fasilitas yang disediakan internet ini jangan kita musuhi, jauhi, atau takut dibilang “ah, belajarnya dari google.” Jangan khawatir. Google menawarkan banyak sekali fasilitas belajar yang dapat kita manfaatkan.

Waktu masih bekerja sama Prof Jimly Asshiddiqie di Institut Peradaban dan Jimly School, beliau pernah bercerita bahwa pernah waktu di Amerika ia menulis buku yang sumbernya dari data-data internet. Tentu bukan dari sumber-sumber hoax, tapi dari berbagai jurnal, dan artikel berkualitas yang ditemukan di internet. Jadi, internet sesungguhnya dapat jadi kawan kita dalam belajar.

Pengalaman menjadi pemenang nomor 1 dalam lomba UC We-Media di atas menjadikan saya semakin rajin untuk berlatih. Tidak merasa puas, dan tidak merasa sudah bagus. Terus berlatih, belajar lagi, dan tidak merasa cukup dengan apa yang ada. Orang bilang, “di atas langit masih ada langit.”

Maka kita harus terus belajar, memanfaatkan berbagai fasilitas yang ada untuk menambah berbagai keterampilan kita dalam menulis dan mengembangkan wawasan. Bisa latihannya 8 jam sehari, atau kurang dari itu. Tapi, paling minimal untuk menulis tiap hari adalah 2 jam. Jangan kurang dari itu. ***

Dosen dan peneliti bidang Antropologi Sosial yang menulis 60 buku berbagai genre (Islam, Timur Tengah, biografi, dan motivasi, riset sosial). Beberapa bukunya dikaji sebagai tugas akhir di perguruan tinggi dan didokumentasikan di berbagai perpustakaan di Indonesia, Singapura, dan Australia. Pada tahun 2017, buku yang diinisiasinya "Hidup Damai di Negeri Multikultur" (GPU, 2017) diluncurkan di Kedubes Australia. Ia pernah diundang sebagai narasumber di Kuala Lumpur, Bangkok, beberapa stasiun televisi Indonesia dan MBC Korea. Saat ini, mahasiswa S3 Antropologi FISIP UI ini menjadi Ketua Bidang Usaha dan Jasa Penulisan/Penerbitan Agupena Pusat.

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Literasi

Go to Top