Lipituba Ways: Lihat-lihat, Pikir-pikir, Tulis-tulis, Bagi-bagi

Rubrik Literasi Oleh

Oleh Yanuardi Syukur

“Lihat-lihatlah, pikir-pikirlah, tulis-tulislah dan bagi-bagilah.” Ini empat tips bagaimana caranya menjadi penulis di era digital seperti sekarang.

Lihat-lihat berarti kita harus maksimalkan kemampuan indera kita dalam menangkap hal-hal menarik yang ada di dunia ini. Pandanglah sesuatu dengan kacamata yang tidak selalu sama. Sekali-sekali berbeda tak mengapa.

Konon, katanya perbedaan antara insan kreatif dan insan tidak kreatif ada pada bagaimana cara pandangnya terhadap dunia. Melihat batu orang biasa akan melihat, “ah itu sekedar batu.” Tapi tidak bagi orang kreatif, “aha! ini akan jadi patung yang indah!”

Begitu kira-kira. Sama yang dilihat tapi beda cara melihatnya. Seorang penulis perlu melihat sesuatu secara berbeda.

Setelah lihat, penulis juga perlu memikirkan sesuatu itu. Misalnya, kalau lihat orang yang punya kelebihan, ia berpikir, “kenapa saya tidak bisa seperti dia?” Pertanyaan itu kemudian mengarahkannya untuk berusaha agar bisa minimal seperti orang yang ia lihat.

Artinya, jika sukses itu hanya butuh satu motivasi, maka cukup lihat satu orang saja untuk membangkitkan semangat kita. Saat ini kita banyak sekali lihat orang sukses, kita disuguhkan bermacam-macam orang berhasil di google yang membuat kita bingung mau jadi seperti apa. Untuk itu kita harus putuskan satu atau dua orang saja yang hendak kita teladani, dan kalau bisa kuasai ilmunya dan buat yang berbeda.

Pikir-pikir berarti memikirkan bahwa saya tidak mungkin diciptakan Tuhan tak ada kelebihan. Saya pasti bisa seperti orang lain, atau lebih dari itu. Asal saya berusaha. Dan kini, saya akan berusaha.

Setelah sadar di pikiran, lanjutkan dengan menulis. Tidak ada jalan lain bagi penulis selain menulis. Jangan bermimpi bisa menulis jika latihan saja malas. Tak ada tempat bagi orang malas, begitu kata pepatah. Betul juga sih.

Lagipula, buat apa malas? “Hidup hanya sekali,” kata pendiri Gontor, “hiduplah yang berarti,” lanjutnya. Betul. Sayang sekali hidup yang teramat mahal ini disia-siakan untuk pesimisme dan malas-malasan.

Biasakan menulis setiap hari. Jangan merasa tidak bisa. Berlatihlah banyak-banyak, dan lihat kembali hasil latihan itu. Koreksi, dan perbaiki terus-menerus. Lama-lama akan jadi bagus juga karya kita.

Jika tulisan sudah jadi, berbagilah. Bagi-bagi ke teman di sosmed. Jangan malu sama orang. Jangan takut diketawain. Jangan takut direndahkan. Yang membuat kita rendah adalah diri kita sendiri, bukan orang lain.

Di zaman sekarang ini berbagi itu sangat murah. Buktinya, banyak orang menulis status dan twitter. Tapi, berbagi yang penting dan berguna itu jarang-jarang orang mau. Nah, jika kita berbagi tulisan ke orang, tentu saja itu perbuatan baik, mulia, dan penting untuk mendapatkan respon dari orang lain.

Jadi, untuk bisa menulis, amalkanlah “jalan lipituba” ini: lihat-lihatlah, pikir-pikirlah, tulis-tulislah, dan bagi-bagilah. ***

Dosen dan peneliti bidang Antropologi Sosial yang menulis 60 buku berbagai genre (Islam, Timur Tengah, biografi, dan motivasi, riset sosial). Beberapa bukunya dikaji sebagai tugas akhir di perguruan tinggi dan didokumentasikan di berbagai perpustakaan di Indonesia, Singapura, dan Australia. Pada tahun 2017, buku yang diinisiasinya "Hidup Damai di Negeri Multikultur" (GPU, 2017) diluncurkan di Kedubes Australia. Ia pernah diundang sebagai narasumber di Kuala Lumpur, Bangkok, beberapa stasiun televisi Indonesia dan MBC Korea. Saat ini, mahasiswa S3 Antropologi FISIP UI ini menjadi Ketua Bidang Usaha dan Jasa Penulisan/Penerbitan Agupena Pusat.

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Literasi

Go to Top