Home » Cerpen » Sastra » Perempuan Pemurung » 188 views

Perempuan Pemurung

Rubrik Cerpen/Sastra Oleh

Cerpen: Hadi Sastra

Perempuan itu melepaskan pandangannya. Siang tak lagi terik. Angin berbaik hati, setia menemani, hingga menjemput senja yang beberapa saat lagi datang bertandang. Dia begitu menikmati. Melepaskan bayang kelam yang acapkali menghantam pikirannya. Dan, manakala datang bayangan itu, tak ada lain yang bisa dia lakukan, selain menghempaskan diri di taman ini, langsung larut bersamanya.

Perempuan bernama Aning itu menyimpan goresan di masa silam. Goresan yang mengundang luka, hingga kini belum juga mengering. Bahkan, luka itu makin menganga, tak pernah mempan dengan obat apa pun. Luka itu menggerogoti hati dan pikirannya. Luka yang menjelma bayang kelam itu. Padahal waktu telah cukup lama melumatnya.

Seekor kupu-kupu hinggap di bunga yang belum sempurna mekar. Angin makin berbaik hati, memainkan derai rambut panjangnya. Pepohonan menari-nari. Kicau burung-burung menenteramkan hati. Gemericik air sungai membelah taman, menambah teduh. Mencoba merayu Aning. Namun hanya sesungging senyum yang menggaris di bibirnya. Dia tetap lepaskan pandangan kosongnya, entah ke mana. Selembar kanvas dan peralatan lukis belum juga disentuh.

Terlintas kembali sepotong kisah. Lima tahun lalu Aning masih bekerja. Ijazah sarjana dan kecerdasannya mendudukkan dia pada posisi staf perusahaan asing. Kepiawaian dan tanggung jawab yang tinggi menunjang kariernya. Dalam waktu singkat, posisi kepala cabang diraihnya. Namun, pada masa inilah alur cerita bermula. Aral mulai melintang. Menghambat setiap pijakan kakinya. Rekan kerja yang tidak suka dengannya mulai beraksi, memasang strategi perang. Berbagai macam strategi dilakukan oleh rekan kerja itu untuk menggulingkan kedudukannya, namun selalu gagal. Dicobanya lagi strategi lain, selalu gagal lagi. Aning cukup tangguh untuk ditaklukkan.

Perusahaan semakin maju di bawah kepemimpinannya. Laba perusahaan meningkat tajam. Hal ini berimbas pada meningkatnya keuangan perusahaan. Aning memperhatikan kesejahteraan staf dan karyawan. Maka, kinerja staf dan karyawan pun meningkat. Tetapi, setiap kebaikan dapat mengundang kejahatan. Apa yang dilakukannya ternyata makin menjadikan orang-orang yang tidak suka kepadanya makin berulah. Serangan-serangan terus saja datang silih berganti.

Suatu ketika, dalam rapat akhir tahun, perusahaan dilaporkan mengalami laba bersih yang besar. Namun kenyataannya, posisi kas malah berlawanan, merosot tajam. Hal ini mengundang tanda tanya. Beragam prasangka dan dugaan muncul. Tudingan mengerucut padanya. Aning dituding melakukan tindakan korupsi, sehingga perusahaan mengalami kerugian. Akibatnya, dia dan para staf dipanggil pimpinan tertinggi. Dia mendapat teguran keras. Dan, di luar dugaan, dia mendapat sanksi berat. Posisi kepala cabang dicabut dan dia dimutasikan dan diturunkan posisinya menjadi karyawan biasa.

“Apa salah saya?” Aning mencoba membela diri.

Sekuat tenaga Aning menjelaskan kepada atasannya bahwa dia tak melakukan sebagaimana yang dituduhkan kepadanya. Dia tidak bersalah. Selama ini dia bekerja keras dengan menjunjung tinggi prinsip kedisiplinan dan kejujuran. Prinsip itulah yang selalu dia contohkan kepada para bawahannya. Dia selalu memompa semangat kerja para karyawannya. Hasilnya, perusahaan maju pesat. Namun, apa mau dikata. Atasan tak menerima pembelaan dirinya. Atasan lebih percaya penjelasan orang lain, rekan kerjanya.

“Tuhan, inikah garis hidupku?” batin Aning. Hatinya remuk.

Kepala cabang yang baru dijabat oleh rekan kerja yang sebelumnya menjadi bawahannya. Ya, rekan kerja yang selama ini mengatur semuanya. Orang inilah yang sebetulnya menjadi biang keladi. Dialah yang selama ini selalu mengajak berperang. Dialah bermain di balik tragedi ini. Dia yang melakukan tindakan korupsi yang menyebabkan perusahaan mengalami kerugian. Namun dengan kelihaiannya, dia ‘cuci tangan’. Siasat liciknya berhasil.

Aning merasa sangat tertekan. Batinnya memberontak. Dia tak terima harga dirinya diinjak-injak. Dia merasa direndahkan. Maka dengan tekad yang bulat, dia menyatakan mundur dari perusahaan. Anehnya, atasan sama sekali tak merasa keberatan atas keputusan Aning. Justru membiarkan dan ‘mengusir’ Aning.

“Tuhan, aku terima apa yang Engkau gariskan kepadaku. Inilah yang terbaik bagiku,” batin Aning lagi.

***

Perubahan terjadi pada diri Aning. Kalau sebelumnya dia sosok yang bersahaja dan selalu optimis, kini dia berubah menjadi sosok pesimis. Aning menjadi orang yang pemarah dan pendendam. Emosinya begitu tinggi. Jiwanya selalu meradang. Tak tercermin lagi gambaran kehalusan dan kesantunannya. Betul-betul berubah total.

Aning menjadi perempuan pemurung. Setiap saat dia mengurung dirinya. Kamar dan taman di belakang rumahnya menjadi tempat pelampiasan perasaannya. Tak banyak yang dilakukannya. Secara tiba-tiba dia akan menangis, berteriak-teriak dan menumpahkan emosinya. Dan, pelampiasannya adalah dengan menggores-goreskan kuas pada lembar demi lembar kain kanvas. Aning melakukannya tanpa sadar. Seolah mendapat bisikan. Setelah itu, dia akan merasakan lemas pada sekujur tubuhnya. Lalu, dia akan tergeletak pulas.

Hari demi hari Aning lalui. Tanpa perubahan. Tanpa warna hidup yang lain. Aning jalani hidup ibarat air danau. Tenang, namun sewaktu-waktu bisa menenggelamkan siapa pun yang berenang di atasnya. Ibarat bom waktu yang sewaktu-waktu bisa meledak. Aning dibalut suasana abu-abu. Suasana yang mengguncang jiwanya. Menyiksanya.

“Tidaaak!!!” acapkali Aning memberontak.

***

Lima tahun telah berlalu. Aning mengisi hari-harinya dengan aktivitas yang nyaris tak berubah. Monoton. Membosankan memang, namun dengan cara itulah dia menemukan ketenangan. Setiap pagi, dia membuka hari dengan melukis. Berjam-jam, hingga letih menidurkannya. Begitu pun di sore hari, dia akan hanyut dalam aktivitas yang sama. Dia tak pernah tahu, sudah berapa lukisan yang telah dibuatnya. Tak pernah menghiraukan. Baginya, melukis adalah penawar luka. Dengan melukis, akan membawanya pada kesejukan jiwa. Dia akan menumpahkan semua perasaan pada sapuan kuas. Dia teriakan jeritan batinnya pada permainan warna. Dia akan meronta, meradang dan menyerang gejolak yang menderanya selama ini. Dia akan meledakkan emosinya. Kemudian, angin akan membawanya melayang.

Seorang lelaki selalu setia menemaninya. Dia menjaga Aning. Dia membiarkan Aning dengan aktivitasnya. Dia yang memberi ruh semangat bagi Aning. Dialah yang selalu mengangkat tubuh Aning setiap kali Aning tergeletak tak sadarkan diri. Lalu membaringkannya di tempat tidur. Dia akan tetap menunggu hingga Aning tersadar kembali. Dia satu-satunya orang yang mengerti Aning. Dia begitu menyayangi Aning. Baginya, Aning adalah segalanya. Aning adalah perempuan yang telah dan akan menjadi cerita hidupnya. Ya, dialah calon pendamping hidup Aning.

“Sayang, apa pun keadaanmu, aku akan tetap menyanyangimu,” bisik lelaki itu, lembut di telinga Aning.

 

Washadi, S.Pd, MM.Pd, seorang Guru dan Penulis, tinggal di Tangerang Selatan, Banten. Tulisan-tulisannya dimuat di berbagai media massa, antologi puisi dan antologi cerpen. Aktif berkegiatan sastra di Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Tangsel. Saat ini menjabat sebagai Sekretaris Dewan Kesenian Tangerang Selatan (DKTS) merangkap Komite Sastra, dan Pengurus Asosiasi Guru Penulis Indonesia (Agupena) Wilayah Banten. Kini menjadi Ketua Bidang Humas dan Kerjasama Antar Lembaga AGUPENA.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Cerpen

Di Shopping Center

“Neta, ikut mbak Shopping yuk..”, ajak Mbak Nela. Mbak Nela itu, kakak

SECERCAH CAHAYA TAUBAT

Cerpen Hadi Sastra Seorang ustaz memperhatikan laki-laki yang sedang sempoyongan. Dari mulutnya

Di Pantai Itu

Di Pantai Itu Cerpen Dini Safitri Pantai.. Ah, Entah kenapa, setiap melihat

Malam Terindah Dinda

Malam Terindah Dinda Cerpen Dini Safitri Saat kuresah Saat kugelisah Saat kususah
Go to Top